Bertahan Hidup saat Bencana

By Miyosi Ariefiansyah - December 28, 2018

Bertahan Hidup saat Bencana


Judul: Bertahan Hidup di Negeri Bencana
Penulis: Josef Tanusaputra
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 152
Beli di: Gramedia Digital (menggunakan paket premium)


"Ih, kamu lebay banget, deh. Cuma gitu aja,"
"Parnoan, yang ada malah stres sendiri,"
"Kita nih cuma mau ke manaa, persiapannya detail amaat, Buu,"

Bagi orang perfeksionis, komentar semacam itu sudah akrab di telinga. Ya, nggak?

Benar. Bersikap berlebihan memang bisa bikin stres. Tapii, cuek dan enggak peduli alias kurang waspada juga BAHAYA. Enggak cuma bisa membahayakan diri sendiri malah, tapi juga orang lain.

Salah satu bentuk kewaspadaan itu adalah dengan BELAJAR atau mempersiapkan diri jika kemungkinan buruk terjadi sewaktu-waktu. Bukan karena dipenuhi pikiran negatif tentunya, tapi sebagai manusia yang berilmu pengetahuan, kita bisa MENGENALI tempat yang kita tinggali ini seperti apa. Dalam hal ini, BUMI.

Yakin bumi akan selamanya adem, ayem, tenterem, aman, dan sejahtera? Jawabannya sudah kita ketahui bersama: planet yang kita tinggali ini penuh gejolak. Maka, enggak bisa kalau kita pura-pura lugu, enggak tahu, atau bahkan pasrah. Karena kewajiban sebagai manusia adalah berusaha dulu sekuat tenaga sebelum akhirnya menyerah. :) 

Bagaimana caranya peduli dan waspada?

Buku ini membahasnya: cara survive selama mungkin ketika hal buruk terjadi.

Di Bab I, kita akan "disadarkan" lebih dulu dengan RISIKO BENCANA. Bahwa, tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang benar-benar aman. Termasuk, di rumah.

Masalahnya adalah... kapan bencana tersebut muncul. Tidak ada yang bisa memastikan, paling banter memprediksi saja.

Lebih lanjut di Bab I dijelaskan mengenai ragam BENCANA yang akan/sedang kita hadapi seperti krisis air,  krisis pangan, perubahan iklim, krisis ekonomi, ancaman penyakit mematikan, gempa, meletusnya gunung berapi, tsunami, krisis energi, dan bencana-bencana lainnya.

Salah satu dampak bencana yang sangat memilukan adalah adanya krisis moral seperti penjarahan, penodongan, dan semacamnya. Ini jelas tidak bisa dianggap enteng.

Kemudian, cara-cara untuk bertahan hidup alias survive di tengah kondisi yang sangat tidak diinginkan dijelaskan pada Bab II. Penulis memiliki konsep survive bernama JSurvival atau Jozef's Survival yang merupakan hasil temuannya sendiri berdasarkan pengalamannya sebagai relawan bencana.

Di halaman 41 dijelaskan mengenai konsep JSurvival yang pada dasarnya sederhana, yaitu:

1. Mandiri
Mandiri bukan berarti enggak butuh orang lain. Tidak sesempit ini tentu saja. Mandiri di sini adalah tahu apa yang harus dilakukan ketika hal buruk menimpa. Jadi, enggak perlu nunggu orang lain karena saat sangat terjepit, semuanya mencari selamat sendiri-sendiri.

2. Rule of 3
Di halaman 46 dijelaskan bahwa manusia bisa hidup TANPA udara 3 menit, suhu tubuh normal 3 jam, air 3 hari, makanan 3 minggu, dah harapan 3 bulan. Selebihnya, keajaiban. Itu sebabnya, ketika bencana terjadi, kita harus benar-benar memanfaatkan waktu-waktu tersebut dengan baik untuk menyelamatkan diri atau mencari bantuan SEGERA.

3. KEP (Knowledge, skill Equipment Personal)
Kita harus memiliki ILMU untuk bisa bertahan hidup. Misal, seenggaknya kita bisa berenang atau terampil dan cekatan.

4. Siaga dan waspada
Sikap cuek hanya akan menyulitkan diri sendiri dan orang lain. Itu sebabnya, kita harus PEDULI. Misal, ketika ada peringatan dini tentang bencana, ya sebaiknya kita respon positif dengan bersiap-siap. Apa salahnya. Daripada sibuk mengelak atau semacamnya.

Lebih dalam, di Bab II ini dijelaskan juga secara teknis bagaimana bertahan hidup. Pembaca seolah dilatih agar memiliki beragam kemampuan yang sekiranya bisa sangat berguna di saat terdesak/bahaya.

Pada Bab III, pembaca seolah diingatkan bahwa persiapan akan bencana sebaiknya tidak hanya melibatkan diri sendiri, tapi juga keluarga. Sehingga, jika saat bencana ada kemungkinan masing-masing anggota keluarga terpencar, harapan untuk bisa berkumpul kembali itu masih ada karena masing-masing memiliki ilmu untuk bertahan hidup.

Di Bab III ini juga dijelaskan tentang peralatan yang WAJIB dibawa saat bencana terjadi. Ada DUA jenis, yaitu:

1. Barang yang harus dibawa setiap hari, entah ada bencana atau enggak, sebagai bentuk persiapan di lapis pertama. Senter kecil, peluit, korek api, kunci, adalah beberapa contoh di antaranya.

2. Barang yang SENGAJA sudah dipersiapkan untuk dibawa ketika ada bencana. Harapannya, ketika bencana datang, kita bisa mengambil barang yang sudah dipersiakan tsb sebelum menyelamatkan diri.

Lebih lanjut, penulis menjelaskan manfaat masing-masing barang tersebut secara detail.

Terakhir, ketika semua sudah diantisipasi, berikutnya adalah berdoa. Apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik.

Menurut saya, buku ini penting dibaca oleh semua orang agar lebih tanggap terhadap bencana dan sebagai bentuk "simulasi". Pengalaman penulisnya sendiri sebagai aktivis bencana semakin meyakinkan bahwa semua yang ditulis di sini tidak hanya sekadar teori.

Jadi?

Takut atau masa bodoh? No!
Waspada? Yes!


  • Share:

You Might Also Like

5 comments

  1. Penting memang waspada. Meski apapun tetap kembali padaNya. Sudah sewajarnya kita mawas diri. ❤️❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  2. Buku itu pas banget buat kita yang berada di Indonesia, secara negeri kita ini disebut ring of fire. Kita bisa waspada sejak dini.

    ReplyDelete
  3. Waspada boleh tp jgn terlalu ditunjukkan, yg ada bikin lingkungan tambah panik, itu sih menurut aku..
    Bukunya perlu dimiliki semua orang ituh

    ReplyDelete