Plus Minus Pernah Jadi Siswa Aksel

By Miyosi Ariefiansyah - December 07, 2018



Plus Minus Pernah Jadi Siswa Aksel

Pernahkah teman-teman sangat ingin melupakan bagian dari masa lalu karena alasan tertentu. Bahkan jika ada obat penghilang ingatan, mungkin kita ingin mendapatkannya. Sayangnya, semua itu tidak ada.

Salah satu bagian dari masa lalu yang ingin saya hapus adalah... kenyataan bahwa saat SMA saya pernah jadi siswa aksel. Mungkin kalau sekarang, kelas ini sudah sangat mainstream. Tapi duluu, saat saya masuk SMA 16 tahun yang lalu, kelas aksel belum sepopuler sekarang. Di Malang Raya aja (Malang Kota, Malang Kabupaten, dan Batu) yang ada program tsb hanya di SMA saya, SMA Negeri 3 Malang atau yang akrab disebut dengan Bhawikarsu.

Lhoh, katanya ingin menghilangkan memori, kok malah ditulis? Iya, hitung-hitung mengungkapkan fakta yang sebenarnya untuk kemudian diterima dengan sadar. Self healing banget, kan.

Untuk yang pertama, PLUS-nya pernah jadi siswa aksel:

1. Ketemu suami ya gara-gara masuk aksel.
Kami menempati ruangan yang sama saat open house ulang tahun sekolah yang ke-50. Kalau saya enggak masuk kelas aksel, mungkin enggak bakal kenal suami saya yang notabene kakak kelas.

2. Terbiasa dengan tekanan.
Yang namanya dimampatkan waktunya pasti beda kan perlakuannya. Apalagi, kami angkatan pertama. Jadii, yaa gitu wess. Yang namanya pretest dan posttest adalah makanan sehari-hari. Belum lagi tugas rumahan dan yang lain-lain. Sisi positifnya, terbiasa dengan tekanan jadi enggak gampang ngeluh.

3. Cepat lulus.
Ini alasan utama kenapa saya daftar kelas aksel: karena pengin cepat lulus. Saya sudah bosan sekolah. Menurut saya saat itu, sekolah memasung kreativitas karena dipaksa harus sama. Padahal, tiap anak punya potensi sendiri-sendiri.

Tapii, untuk mengambil keputusan ekstrim "enggak sekolah" juga nggak mungkin. Apalagi, saat itu istilah home schooling belum seperti sekarang.

Maka, saya pakai cara yang ketiga: belajar yang rajin biar dapat nilai bagus biar cepat lulus sesuai target.


Yang berikutnya, sisi MINUS-nya:

1. Karena waktu dimampatkan, jadii "maennya" ya jelas kurang. Yang ada LES di salah satu bimbel yang terkenal saat itu.

2. Ada kalanya kadang down, tapi kemudian saya berpikir kalau kita enggak boleh terpengaruh kata-kata negatif orang

3. Bayar SPP tentu aja lebih mahal

4. Dicemburui kakak kelas karena lulusnya barengan. Kalau sekarang, mungkin enggak, ya.

5. Orang-orang berekspektasi terlalu tinggi dan kadang itu bikin beban. Padahal ya enggak gitu juga, kan. Misal ekspektasi orang-orang "Anak aksel pasti bisa terbang," maaf kalau contohnya nyeleneh. Saya masuk kelas tsb juga karena faktor keberuntungan, mungkin kalau teman-teman saya yang lain emang faktor cerdas.

Ada lagi, nggak?

Terlepas dari plus minusnya, menjadi siswa aksel memberikan hikmah luar biasa.

  • Share:

You Might Also Like

5 comments

  1. Wah selama ini, saya kira utk biaya sama saja dengan yg reguler. Dan kupikir anak aksel itu karena rekomendasi guru sebab si anak pengetahuannya sudah jauh ketimbang teman2nya yg lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, Mb
      Aksel sama reguler sama aja kok sebenarnya. Bedanya cuma di waktu dan biaya aja. Hehe
      Zaman saya dulu masuk aksel ada tesny, enggak tahu kalau sekarang ya. Kabarnya, semuaa masuk kelas reguler dulu baru nanti ada rekomendasi dari guru kelas.

      Delete
  2. Dulu saya selalu kagum liat anak aksel, kayakya jenius banget, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau masalah jenius semua orang jenius sih mb y sesuai bidang masing2 😀

      Delete
  3. Utk masuk kelas aksel bkn hal yg mudah, jg dlm hal kegiatan belajar cara,kondisi berbeda dg kls biasa. Selamat, ya bs msk kelas aksel

    ReplyDelete