5 Pelajaran Berharga dari Masa Kecil

By Miyosi Ariefiansyah - December 14, 2018

5 Pelajaran Berharga dari Masa Kecil

Masa kecil saya sama seperti masa kecil generasi 90an pada umumnya: sederhana, lucu, konyol, ceria, dan bahagia di segala suasana. Indah, ya. Banget. Saya yakin, masa kecil teman-teman juga enggak kalah seruu, kan.

Ada yang pernah naik pohon sembunyi-sembuyi karena takut diomeli?
Ada yang pernah jatuh dari sepeda?
Dikejar anjing?
Main tali?
Bongkar pasang?
Ular naga?
Go back to the door yang kemudian berubah nama jadi gobak sodor?
Suka manas sampai eksotis sekali?
Enggak tahu malu, setiap 17an selalu manggung?
Dan, kehebohan seru lainnya.

Pasti pernah mengalami hal di atas, kan? Samaaa. Saya pun. Kangen, ya? Samaa.

Kita patut bersyukur karena meskipun masa kecil kita dulu mungkin sederhana, tapi ada banyaakk pelajaran yang masih relevan untuk diaplikasikan saat dewasa. Apa saja? Saya menemukan 5 poin ini.


Pertama, bahagia memang sederhana, apa pun bisa menjadi alasan untuk tertawa.

Bahagia enggak perlu syarat khusus. Bisa main bareng teman saja sudah bahagia. Dapat hadiah saat beli jajan, betapa girangnya. Belum lagi kalau diizinkan main sampai sore, enggak kebayang senangnya seperti apa. Padahal ya cuma gitu doang.


Kedua, berteman dengan siapa pun oke saja, selalu ada pelajaran berharga dari mereka.

Ketika dewasa, enggak sedikit fenomena yang milih-milih dalam berteman. Dalam konteks ini maksudnya milih yang sama-sama cantik, sama-sama kaya, sama-sama pintar, sama-sama berprofesi anu. Untuk bergabung di kelompok eksklusif tsb rasanya juga susah karena mereka sudah memasang tembok tinggi yang intinya kalau divisualisasikan "Lo gak level sm gw, sana pergii... cihh..." 🤣😂 Semoga kita enggak termasuk yang begitu, ya. Aamiin.

Saat kecil, berteman dengan siapa aja, hayukkk. Yang penting apa? Seruu. Kita pun secara enggak sadar diajari untuk toleransi dan belajar dari setiap perbedaan yang ada.

Misal,

"Kok Sri gak ikut main,"
"Masih disuruh emaknya jaga adik,"
Kita belajar bahwa Sri sudah memikul tanggung jawab di usia muda.


Ketiga, bukannya sedih saat jatuh, tapi malah tertawa dan enggak ragu mengulanginya sampai bisa.

Pernah jatuh nggak saat belajar sepeda? Pernah kecemplung selokan? Reaksi kita apa? Jera? Enggak. Justru, tertawa. Seolah, jatuh bukanlah hal yang memalukan (dan memang bukan). Yang penting kan masih bisa berdiri, belajar lagi.


Keempat, minta maaf dan memaafkan adalah hal yang sangat ringan, seringan mengedipkan mata.

Berantem dengan teman sepermainan adalah hal biasa. Tapi, selang beberapa saat sudah main lagi. Seolah, drama tadi enggak pernah terjadi.


Kelima, kerja tim adalah sebuah keniscayaan jika ingin jadi juara.

"Kamu bilang ke ibukku ya kalau ada les tambahan di sekolah"
"Kamu tutup mulut ya, awas bilang-bilang,"
Ehhh, itu contoh yang salah, ya. LOL.
Yang jelas, ketika kecill secara enggak sadar kita udah belajar tentang kerja tim. Gimana sih caranya kerjasama yang benar biar menang. Sadar atau enggak, kita udah belajar ini.


Kelima poin di atas tentuuu sangatt bermanfaat saat dewasa. Sungguh sangat disayangkan jika kemudian kita melupakannya. Menurut teman-teman, bagaimana?

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Masa kecil yang menyenangkan ya mbak. Sampai dikenang pun menyenangkan :-)

    ReplyDelete
  2. Sri disuruh menjaga adik, sudah jarang tanggung jawab seperti itu sekarang

    ReplyDelete
  3. Kerjasama buat ngibul. Hahaha. Jaman kecil pun banyak temen yang ngajakin gitu. Sampe aku kuliah malah.

    ReplyDelete