Ketika Kegiatan Menulis Tak Lagi Sama dan Cara Mulai Produktif Lagi
Entah sejak kapan, menulis tak lagi sama. Apakah sejak mengetahui fakta di lapangan bahwa beberapa penulis yang kukenal ternyata perilakunya tidak sesuai dengan apa yang dia tulis? Ataukah sejak ada AI sehingga siapa pun bisa menulis tanpa ada proses? Banyak yang jadi menggampangkannya alih-alih tetap belajar setahap demi setahap. Atau mungkin karena dulu tulisan-tulisanku saat menjadi kontributor di website Islami pernah di-copas oleh website lain dengan diganti nama penulisnya? Atauu karena prospek menulis di tanah air tidak se-benderang itu? Atauu karena minat baca masyarakat kita yang rendah? Entahlah. Tak ada yang tahu pasti apa penyebabnya. Yang jelas, tahu-tahu, kegiatan menulis sudah terasa berbeda.
Sebenarnya, aku tak pernah benar-benar meninggalkan dunia menulis. Jelas enggak se-lebay itu juga. :D Mungkin, saat ini aku memang belum menerbitkan buku lagi. Tapi, aku masih tetap menulis:
- esai untuk tugas-tugas kuliah
- merangkum kajian
- notulensi/risalah rapat
- untuk majalah
- nge-blog
- status (ini juga menulis, kan) ROTFL
Bukannya klise apalagi cari-cari alasan, tapi kesibukan yang berbeda juga kerap menghalangiku untuk menulis secara "baik dan benar", dalam artian waktu khusus untuk menulis seperti dulu. Tidak. Sudah beberapa tahun belakangan ini, aku menulis di mana saja, kapan saja, bahkan dalam kondisi yang tidak ideal sekalipun. Menulis di note HP ketika menunggu anak les, mengerjakan esai sembari menunggu rapat organisasi, atau sekadar menulis random di WA pribadi adalah beberapa contoh di antaranya. Hasilnya, tulisanku jadi "berceceran" di mana-mana.
Sebenarnya, kalau kupikir lebih jauh, boleh jadi kegiatan menulis bukan lagi menjadi prioritas seperti dulu. Jika sebelumnya, kegiatan lainlah yang sampingan, maka beberapa tahun terakhir ini sebaliknya. Kegiatan menulislah yang sampingan. Sehingga, waktu yang aku berikan untuk benar-benar menulis hanya tinggal sisa-sisanya saja.
Tulisan ini bukanlah keluhan tidak jelas, melainkan refleksi diri. Yakin banget, tidak hanya aku saja yang mengalami hal ini, tapi banyak. Ketika kegiatan menulis tak lagi sama seperti dulu karena tak lagi jadi prioritas, di situlah akan memengaruhi produktivitas.
Then, apakah kemudian akan diam saja? Jawabannya tergantung. Jika sudah berubah haluan, maka memberikan sisa-sisa waktu untuk menulis sah-sah saja alias terserah. Namun jika menulis masih menjadi tempat "pulang" yang notabene wadahku bebas berekspresi menjadi diri sendiri, maka mau tidak mau suka atau tidak aku harus meluangkan waktu untuk menulis seperti dulu.
Sejatinya, postingan ini tidak bermaksud mengeluh apalagi ceramah, melainkan PENGINGAT untukku sendiri. Harapannya, semoga aku bisa seproduktif dulu. Aamiin.
Jika kamu mengalami masalah serupa, mungkin inilah hal-hal sederhana yang bisa dilakukan:
1. Mulailah dengan target menulis yang realistis, apalagi jika kesibukan memang bertambah ragamnya (dan beda-beda).
Menurut James Clear dalam bukunya Atomic Habit, kebiasaan sederhana namun konsisten lebih berdampak dalam jangka panjang ketimbang keinginan terlalu muluk namun hanya sekadar angan-angan. Katakanlah kita sangat sibuk, maka cicil per hari sehalaman, maka dalam 1 tahun sudah ada 3 buku yang ditulis jika asumsinya per buku 120 halaman. Atau, kalau masih enggan menulis buku, dengan membiasakan diri seminggu satu tulisan di blog, maka setidaknya dalam 1 tahun sudah ada 48 tulisan di blog.
2. Awali dengan menulis yang paling dekat dengan keseharian/dunia yang digeluti.
Menurut Cognitive Load Theory John Sweller sebagaimana terdapat pada website TeacherMagazine.Com, otak manusia akan kewalahan jika langsung dibebani dengan tugas asing/belum familiar karena kemampuan dalam memproses informasi itu terbatas. Itu sebabnya, panaskan dulu otak dengan menulis hal-hal yang paling dekat dengan keseharian/sudah kita kuasai. Dengan demikian, hal yang lebih sulit akan lebih mudah digapai di stage berikutnya.
3. Fokus sejenak, jangan ada distraksi apa pun agar hasilnya maksimal.
Masih menurut Cognitive Load Theory John Sweller, distraksi seperti lingkungan yang ramai atau multitasking juga bisa membebani otak. Itu sebabnya, fokuslah sejenak saat menulis agar hasilnya bisa optimal.
Sejalan dengan hal tersebut, Cal Newport dalam teorinya Deep Work mengatakan ketika kita bekerja tanpa gangguan apa pun, maka kualitas kerja yang dihasilkan akan maksimal. Menulis adalah kegiatan yang membutuhkan konsentrasi tinggi karena melibatkan proses berpikir dalam merangkai kata dan mengolah data. Adanya distraksi akan menyebabkan alur berpikir terputus.
Tak perlu lama-lama untuk fokus. Menurut teori pomodoro, cukuplah alokasikan waktu 25 menit saja diselingi 5 menit istirahat, ulangi siklusnya beberapa kali.
4. Tanya kembali kenapa HARUS menulis.
Edward Deci dan Richard Ryan dalam Self Determination Theory menjelaskan bahwa motivasi dari diri sendiri jauh lebih kuat dampaknya ketimbang yang berasal dari luar. Maka, coba tanyakan pada diri sendiri (pertanyaan untukku), mengapa dari tahun 2009-sekarang masih terus menulis? Apakah kamu ingin membuat legacy yang bermakna atau ada alasan lain?
5. Jangan pesimis.
Walaupun minat baca di sini rendah, zaman AI & orang-orang tidak peduli dengan itu, toko buku banyak yang tutup, darurat literasi parah, dan nasib penulis yang sulit ditebak, namun jangan pesimis. Tetaplah peduli. Tetaplah mengedukasi dengan cara masing-masing. Setidaknya, yang dilakukan berdampak untuk lingkungan terdekat. Bisa dibayangkan kalau ikutan ignorance juga?
Related dengan poin-poin tersebut? Atau, ada yang mau menambahkan? Bukan tips kok, hanya sekadar opini pribadi saja disertai opini pendukung.
Hal-hal di atas pastinya bisa juga jadi resep untuk yang saat ini sedang "dikejar" deadline. Bilapun ada sedikit tambahan, yakni sebagai berikut:
1. Tuang atau tulis semua hal yang diketahui tentang tema tersebut.
Jika disederhanakan, menulis sebenarnya adalah kegiatan memindahkan pengetahuan yang ada di kepala dalam bentuk tulisan agar tidak "penuh" di otak. Maka, tulislah lebih dulu hal-hal yang diketahui tentang tema atau topik yang sedang dibahas. Apa pun itu yang sekiranya berkaitan. Jika tidak tahu harus menulis apa, itu artinya kurang baca (tidak ada "bahan baku"). Itu sebabnya, lebih dalam lagi, kegiatan membaca tema sejenis bisa dilakukan.
2. Kekuatan DEADLINE itu nyata.
Ya. The power of deadline itu NYATA. Konon, kita kerap lebih "cerdas" dan imajinasi bisa dengan mudah keluar menjelang tugas dikumpulkan. Meskipun bukan berarti membenarkan hal tersebut, namun menurut teori yang dikemukakan oleh Yerken Dodsos, manusia butuh tekanan tertentu agar termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Adanya tenggat waktu membuat kita kerap "tertekan". Namun, hal tersebut justru memicu kreativitas serta usaha untuk memberikan yang terbaik agar hasil maksimal. Hanya saja yang perlu diingat, tekanan yang terlalu tinggi dan tidak realistis (karena keteledoran sendiri) justru bisa menurunkan kualitas. Misalnya, baru mengerjakan tugas menulis 100 halaman semalah sebelum pengumpulan karena selama ini malas dan selalu menunda.
3. Jangan tergoda untuk menggunakan CHATGPT walaupun sedang kepepet.
Bukannya pickme atau gimana-gimana, namun penggunaan CHATGPT untuk membuat tulisan hanya akan merugikan diri sendiri. Kalaupun efeknya tidak dirasakan sekarang, boleh jadi dalam jangka panjang.
Otak tak lagi kritis atau jadi tumpul adalah salah satu kerugiannya. Bagaimana tidak. Setiap kali ada tugas menulis, yang ada di pikiran langsung AI. Lama-lama, ketergantungan akan terjadi. Lalu, di mana peran otak yang notabene untuk memproses segala macam informasi jika terbiasa "pasrah" dengan alat?
Sebaliknya, jadikan AI sebagai "pendamping" sebagaimana saat kita menggunakan mesin pencarian seperti Google. Gunakanlah teknologi secara bijak: untuk membantu, bukan menggantikan.
Pada akhirnya, aku hanya bisa mengingatkan diriku sendiri dan mungkin juga kamu yang masih mencintai dunia literasi: yuk, segera "pulang"! Jangan merasa bersalah dengan momen "hibernasi" selama ini karena kamu juga belajar banyak hal dari fase tersebut. Sekarang, saatnya menuangkannya dalam bentuk tulisan dari versimu yang baru. :)








