7 Alasan Mengapa Jadi Penulis, Kamu yang Mana?

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - July 01, 2019


Di antara kalian yang saat ini berprofesi sebagai PENULIS, adakah yang cita-cita awalnya sebenarnya bukan itu? Atauu, adakah yang sebenarnya sama sekali enggak suka nulis? Meski terlihat paradoks, tapi saya rasa jawabannya mungkin banyak yang IYAAA. Ngaku, deh. 🤣🤣

Saya pun dulunya enggak terlalu berniat menggeluti bidang penulisan. Saya memang SANGAT SUKA baca dan menulis, tapi toh hanya sebatas suka alias hobi. Enggak kepikiran sepenuhnya jika suatu saat "menggantungkan" jiwa di "panggung" literasi. Bila pun sempat terbersit ingin jadi penulis yaa hanya sebatas imajinasi biasa.

Buktinya apa?

Di SMA, saya masuk kelas IPA, bukan bahasa. Meski saat itu, saya sudah rajin menulis, tapi enggak yang sampai harus banget masuk kelas bahasa. Karena toh yang ada dalam bayangan saya menulis "cuma" hobi.

Kuliah masuk akuntansi dengan pertimbangan biar cepat dapat kerja dan biar kuliahnya enggak lama-lama, enggak selama jurusan IPA.

Praktis banget, yes. Normal banget. Sama seperti cita-cita generasi saya (padahal saya juga generasi Y) pada waktu itu: sekolah yang benerr, kuliah yang luruss, cepet lulus, cepet dapet kerjaa. Sesederhana itu.

Setali tiga uang dengan saya, pun orang tua. Mereka sama sekali enggak kepikiran kalau anaknya akan jadi penulis. Bahkan di beberapa generasi sebelumnya, penulis dianggap bukan kerjaan atau kerjaannya pengangguran. Tukang ngayal. Iya enggak, sih. Jangan baperr. Kan zaman dulu emang beda sama sekarang. Heheh.

Lalu, kenapa kemudian jadi penulis? Kalian sendiri yang mungkin berlatar belakang serupa dengan saya kenapa juga akhirnya jadi penulis? Jangan-jangan, alasan kita sama.

Coba deh, di antara ketujuh alasan mengapa memilih jadi penulis, mana yang sesuai dengan kita. Jujurrr.


1. Menjadi penulis karena memang mencintai dunia kepenulisan, ingin mencerahkan sekitar dengan karya

Kesannya memang (sok) idealis. Tapi, toh benar adanya. Saya pun pada akhirnya menggeluti dunia kepenulisan ya karena CINTA (yang terlambat saya sadari).

Adakah yang seperti ini?

Saya sudah mencintai kegiatan membaca dan menulis sejak kecil, tapi tidak terlalu terbersit untuk menggelutinya secara serius. Buat saya waktu itu, yang namanya kerja itu ya pegawai. Mungkin, ini pengaruh lingkungan juga, ya. Pada masa itu, menjadi penulis memang tidak lumrah. Bisa dibilang menulis seperti halnya bermain musik, hanyalah cocok dianggap sebagai hobi, bukan profesi. Seperti itulah kira-kira.

Barulah ketika menikah, saya mendalaminya dengan serius. Lebih-lebih, ketika tidak bisa bekerja kantoran karena alasan teknis: enggak mendapat izin suami. Maka, saya yang udah biasa berkegiatan sejak muda, mendalami bidang lain yang sempat terlupa. Dan nyatanya, saya masih bisa bertahan hingga sekarang. Tentu dengan segala macam jungkir baliknya.


2. Menjadi penulis karena enggak sengaja

"Ternyataa, menulis itu enak, ya. Bikin ketagihan,"

Ini komen salah satu teman saya yang sekarang menggeluti dunia menulis karena ENGGAK SENGAJA. Berawal dari iseng, lama-lama serius juga.

Yess, selama enggak dianggap beban, menulis emang menyenangkan.


3. Menjadi penulis karena enggak ada lagi yang bisa dilakukan selain menulis

Enggak bermaksud hopeless, tapi emang kenyataannya begini. Ada yang nyemplung menjadi penulis karena hanya itu bidang yang ia kuasai. Daripada harus mulai nol lagi mempelajari bidang baru, kenapa tidak mengasah yang lama.


4. Menjadi penulis karena menganggap itu kerjaan mudah dibandingkan yang lain

Ada yang berpikir begini emang? Adaaa. Enggak sedikit malah.

"Kamu enak Mi kerja santai wong cuma nulis aja"
Ya emang sih saya enggak perlu repot macett, tapi kalau dibilang santai secara pikiran enggak juga. Mereka aja yang enggak tahu.

"Nulis mah enak,"
Ya, emang. Terus?

"Penulis mah nyantai bisa kerja dekat keluarga,"
Benerr memang, meski enggak sepenuhnya. Sejak jadi ibu terutama, saya baru bisa fokus menulis ketika anak tidur. Ketika bangun? Saya fokus sama dia. FYI, anak saya batita, laki-laki, lagi aktif-aktifnya.


5. Menjadi penulis karena ingin curhat sekaligus menyembuhkan luka batin

Lebay? 🤣🤣
Enggakkk. Beberapa penulis mengaku demikian. Lega setelah menuliskan semuaa uneg-uneg. Saya pun. Huehehe.


6. Menjadi penulis karena ingin eksis

Salah? Enggakk. Ya, namanya manusia normall. Kalau duluuu eksis dengan menulis sepertiny tanda tanya banget karena menulis justru identik dengan mereka yang pemalu. Tapi sekarang di era medsos? Kalau pengin eksis ya nuliss, nulis status misalny. Ehh... xixixi.


7. Menjadi penulis karena ingin mengaplikasikan ilmu dengan cara yang berbeda

Ketika lulus dari prodi akuntansi dengan predikat cumlaude, ortu saya terutama ibu sempat sedih karena saya enggak mengaplikasikan ilmu yang saya pelajari di kampus. Bukannya enggak setuju menikah muda, beliau setuju banget malah wong calonnya laki-laki luarr biasa. Tapi penginnya ibu, saya kerja setelah menikah, dan bukan jadi ibu rumah tangga saja.

Saya mengerti benar kekhawatiran ibu. Sangat. Saya pun ingin sekali membahagiakan beliau. Meski di satu sisi, saya juga ingin jadi istri yang baik.

Dilema, ya. Pernah mengalami hal semacam ini? Enggak usah bingung. PETAKAN segera. Itu yang saya lakukan.

Diketahui: ibu ingin saya mengaplikasikan ilmu, suami enggak ingin saya kerja kantoran, saya sayang ibu, saya cinta suami, nyari cowok kayak dia di zaman sekarang ini susah *lebayy... ya kalau cuma sekadar cowok yang bisanya mainin mah bejibun yes

Ditanya: gimana caranya agar win win solution?

Jawab: saya MENULIS bidang yang saya pelajari di kampus

Hasil??

- suami bahagia bahkan sejuta persen mendukung, malah promosiin, dweuhh, dan dia malah nulis tandem dengan saya karena kami sejurusan

- setelah buku-buku saya bertema akuntansi, ekonomi, dan serupa terbit serta dijadikan referensi dan terpampang nyata di PTN/PTS, ibu saya menyadari bahwa ilmu saya enggak sia-sia
legaa...
Sekarang, beliau malah yang sering "mengingatkan" setengah ngomel, "Fokus sama anakmu, yang penting anakmu dulu," xixixi

- saya? bahagia melihat mereka bahagia


Selain ketujuh alasan yang sudah saya tulis di sini, adakah alasan lain yang mungkin terselip? Tolong tambahin, ya. Kalau cerita kalian sendiri gimana?


Apa pun itu, yukkk menulis dari hati. Semangat selalu, yaa.

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Saya sih sejauh ini menulis sebagai hobi, Kak. Tapi saya salut dengan yang terjun ke dunia tulis-menulis secara profesional. Soalnya, kerja secara mandiri kan perlu kegigihan dan semangat karena deadline yang menentukan diri sendiri.

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)