7 Cara Jalan-jalan dari Rumah, Salah Satunya Menjadi Kontributor Situs Traveling

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - September 07, 2021

 

Jauh sebelum berkelana ke bumi Allah yang lain, aku adalah anak rumahan. Jadi ketika orang-orang diminta untuk membatasi ruang geraknya di luar alias dihimbau untuk lebih banyak di rumah efek Covid-19, sejujurnya itu bukanlah hal aneh buatku.

Ya, enggak harus nunggu kondisi seperti sekarang kok untuk enggak bisa jalan-jalan atau keluyuran ke mana aja sesuka hati. Faktanya, banyak juga yang jauhhh sebelum ada pandemi inii, ruang geraknya sama sepertiku saat masih muda belia/belum nikah: hanya seputaran sekolah, kampus, tempat kerja (tempat ngajar), tempat ibadah, perpustakaan, warung sebelah, rumah teman, dan semacamnya. Kalaupun dulu ke luar kota, palingan ke rumah mbakku (Surabaya & Jakarta). Itu pun ditemani Ibu (beliau cukup protektif dengan anak perempuannya).

Alhamdulillah, aku menikmatinya meskipun mungkin bagi yang lain membosankan. Aku mensyukuri saat-saat itu, hitung-hitung quality time bersama beliau sebelum aku punya kehidupan sendiri dan berkelana seperti sekarang. Alhamdulillah, setidaknya aku terhindar dari perasaan menyesal atau kalimat, "Seandainya dulu aku, seandainya pas belum nikah dulu, ...".

Petualanganku justru dimulai setelah menikah. Jika selama ini menikah selalu dipandang sebagai penghalang gerak langkah karena pelakunya jadi mati gaya enggak bisa keluyuran ke mana aja sebebas-bebasnya, maaf, tapi mungkin hal tersebut tidak berlaku untukku. Aku justru sebaliknya. Menikah tidak hanya membuatku berpetualang tentang kehidupan sebagai orang dewasa, melainkan juga berpetualang dalam arti yang sebenar-benarnya yakni bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. 
 
Tidak hanya ngebolang bareng suami/anak, tapi juga sendiri. Pulang kampung sebatang kara untuk berobat alias bolak-balik Kalimantan - Jawa misalnya adalah hal biasa. Suamiku saat itu tidak mungkin ikut karena dia harus kerja. Janjian dengannya di Bali, menyusulnya ke Jakarta setelah urusanku di Balikpapan selesai, pulang sendiri ke Deltamas menjelang dini hari karena suamiku masih pendidikan di Bogor, menyusul suami ke Jepang hanya bersama bocah, melipir ke Asakusa (udah beda provinsi dengan Tsukuba) bersama Taka setiap kali Mas Ryan kuliah online (biar doi bisa konsentrasi), ngeluyur sendiri tanpa anak dan suami ke mana-mana sesuka hati saat masih di negeri sakura adalah beberapa contoh drastisnya perubahan dalam hidupku. Mungkin kalau yang mengenalku saat masih lugu dan polos, mereka bisa sangat syok dan berkomentar, "Eh, ternyata kamu...!" :D  
 
Intinya sih, aku cuma ingin bilang kalau apa pun sebenarnya bisa dibuat oke: lebih banyak di rumah itu seru (tetap bisa melakukan banyak hal yang kita mau), bisa keluyuran pun begitu. Semua kondisi harus disyukuri. Apalagi, manusia adalah makhluk yang sangat pandai beradaptasi. Kita tidak boleh melupakan hal ini. Contoh sederhana, jika saat masih tinggal di Jepang aku kerap pergi dini hari hanya untuk sekadar beli minuman hangat di vending machine yang lokasinya kira-kira 0,5 km dari dormi, enggak jarang ketemu orang mabuk di jalan, maka saat sudah kembali ke tanah air aku autoberubah enggak mungkin melakukan hal tersebut.  
 
Itu sebabnya, aku sangat sangat yakin bahwa setiap manusia sudah dibekali kemampuan menyesuaikan diri demi bertahan hidup. Tak terkecuali, saat kondisi pandemi seperti sekarang. Kita semua, terutama untuk yang tinggal di daerah dengan kasus Covid-19 masih tinggi, diminta untuk lebih banyak melakukan aktivitas di rumah.

Berkaca dari kehidupan sebelum menikah dan sebelum ada Covid-19 yang notabene anak rumahan bangett, aku bisa bilang dengan sangat yakin bahwa sebenarnya di rumah pun bisa jalan-jalan. Di rumah aja tetap bisa ke mana-mana meskipun bukan dalam arti sebenarnya. Jelas berbeda memang, tapi setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dengan cara lain. Nikmat Allah mana yang didustakan. :)

Di postingan ini, ada 7 cara jalan-jalan dari rumah versiku. Beberapa di antaranya sudah kulakukan sejak muda.
 
1. Baca buku traveling
Meski saat muda hanya bisa membaca buku traveling saja, tapi aku serasa diajak jalan-jalan. Pikiran pun jadi berbeda: lebih semangat dan positif. Hal tersebut, ternyata bisa diterapkan saat pandemi seperti sekarang ini. Lebih-lebih, ada banyak media yang menyediakan bahan bacaan buku bertema traveling seperti IPusnas dan GramediaDigital.
 
2. Baca blog atau website traveling
Jumlahnya sangat melimpah di masa sekarang. Kita bisa memilih blog atau website traveling sesuai preferensi masing-masing.
 
3. Lihat youtube bertema traveling
Sebelum Youtube berkibar seperti sekarang, aku suka nonton acara jalan-jalan yang ada di TV. Tapi makin ke sini, aku beralih ke Youtube karena bisa memilih sendiri apa yang ingin kucari. Misalnya, aku kerap mencari tahu kehidupan di tempat-tempat terpencil di dunia, tempat terseram, tempat teraneh, dan semacamnya. Dari sana, aku banyak dapat pengetahuan yang pastinya bermanfaat buatku dalam memaknai hidup.
 
4. Nyari sendiri di Google
Hampir sama dengan poin sebelumnya, aku pun sering kepo dengan tempat-tempat di luar sana yang antimainstream. Daripada penasaran, aku juga mencarinya di Google. Beberapa kata kunci yang lumayan sering kupergunakan: tempat terpadat di dunia, tempat paling jorok, kondisi sehari-hari masyarakat pegunungan tertentu, akses ke tempat terpencil tertentu, tempat yang jarang penduduknya, kisah keliling dunia dengan jalan kaki/naik sepeda, dann… masih banyak lagi. Membaca hal-hal semacam itu benar-benar mengasah kepekaan.
 
5. Membuat catatan perjalanan dengan media yang disukai, salah satunya BLOG
Setiap orang pasti pernah melakukan perjalanan. Ke rumah tetangga sebelah pun juga perjalanan, kan. Kenapa enggak ditulis aja dalam bentuk diari atau blog. Enggak ada yang kecil atau sepele. Buatku, perjalanan ke halaman rumah aja pasti juga ada hikmah yang bisa didapat.

6. Ikut jalan-jalan virtual
Kalau dilakukan dengan teman-teman terdekat, hal ini bisa sebagai penyemangat sekaligus sarana silaturahmi. Janjian nge-zoom dengan para sahabat yang berada di kota atau negara beda-beda misalnya. Masing-masing orang mendapat giliran untuk mengajak yang lain jalan-jalan secara virtual. Seru pastinya. Anggap aja simulasi sebelum benar-benar bertemu di dunia nyata.

7. Jadi kontributor situs traveling
Jika tidak mau repot dengan blog sendiri, bisa juga berbagi cerita di website pihak lain, dalam hal ini tentu saja yang berhubungan dengan jalan-jalan, dapat kompensasi pula. Beberapa situs traveling ini bisa dicoba:  
  • https://travel.detik.com/term-of-use 
  • https://www.destinasian.com/contribute 
  • https://denkspa.com/kirim-tulisan-kamu-dapat-komisi-euro/ 
  • https://travel.tribunnews.com/2019/09/26/begini-cara-kirim-artikel-cerita-liburan-untuk-diterbitkan-di-tribuntravelcom 
  • https://www.traveloka.com/id-id/explore/tips/syarat-dan-ketentuan-kontributor-di-blog-traveloka/16856 
  • https://phinemo.com/guidelines/ 
  • https://www.jalan2kejepang.com/artikel/mau-jadi-penulis-di-jalan-jalan-ke-jepang.html 
  • http://sriwijayamagazine.com/your-stories/ 
  • https://www.jalanbareng.com/contribute/ 
  • https://indonesia.tripcanvas.co/id/menulis-artikel/ 
  • https://airport.id/kontributor/ 
  • https://www.jalanbareng.com/contribute/ 
  • https://ekspedisibi.com/2020/06/04/cara-jadi-kontributor/ 
  • https://kemanayo.com/contributor
  • https://brisik.id/info/karir
  • https://travel.wego.com/berita/yuk-jadi-kontributor-artikel-perjalanan-untuk-wego-indonesia/
  • https://yoexplore.co.id/tulisan-tamu/
  • https://promowisata.com/home/kirim-artikel/
  • https://liburmulu.com/berkontribusi/
  • https://www.jelajahlagi.id/p/kirim-artikel.html
  • https://mywowtravel.com/about-us.html
Itu tadi 7 cara jalan-jalan dari rumah, salah satunya menjadi kontributor situs traveling. Ada yang punya cara lain? Berbagi, yuks.

Tidak tahu sampai kapan pandemi ini, tapi yang jelas kita terus berusaha untuk tetap bisa waras serta sehat jiwa raga. Jika saat ini kegiatan fisik masih terbatas, masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk bahagia. Bukankah, ada banyak jalan menuju Roma. Semangat, yuk!

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)