Menyambangi Perpustakaan Nasional setelah 7 Tahun Berlalu, Seperti Ini Kondisinya Sekarang

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - May 11, 2019


The only thing that you absolutely have to know is the location of the library. (Albert Einstein)

Tidak sulit menjangkau perpustakaan nasional atau yang biasa disebut perpusnas ini. Dari penginapan kami, hanya butuh sekitar 5 - 10 menit saja berjalan kaki.

Memang, tempat yang selalu ingin saya sambangi di setiap kota yang saya kunjungi/datangi adalah PERPUSTAKAAN. Ketika tinggal di Balikpapan misalnya, saya cukup sering bertandang ke perpustakaan daerahnya. Bahkan, perpustakaan di kantor suami pun enggak luput dari jangkauan. Pun perpustakaan di tempat-tempat lain, termasuk juga perpustakaan di kampung halaman, Malang.

Mereka seolah memiliki daya tarik tersendiri yang membuat saya selalu ingin datang. Bisa jadi karena suasana perpustakaan yang begitu tenang. Atau, bisa juga karena pengunjung sibuk dengan pikirannya masing-masing yang mungkin berseberangan dengan yang lain padahal duduk bersebelahan.

Kalau kalian bagaimana?

2009 - 2012 ketika saya masih tinggal di Bekasi coret Cikarang Pusat, perpustakaan nasional pun enggak luput dari incaran. Apalagi ini perpustakaan nasional Republik Indonesia. Pastilah menyimpan banyak hal bersejarah yang menarik untuk dipelajari.

Itu sebabnya, kesempatan menyambangi lagi perpusnas yang sudah memiliki "wajah baru" saat untuk kesekian kalinya ada urusan di ibu kota enggak saya sia-siakan. Bersyukur, saya menginap di tempat yang sangat dekat dengan perpusnas sehingga enggak perlu naik kendaraan umum. Cukup berjalan kaki, sampai.

Buat saya, ini merupakan kunjungan yang pertama sejak 7 tahun meninggalkan ibu kota coret Bekasi coret Cikarang. Cukup lama, ya.

Lalu, seperti apa wajah baru perpusnas menurut saya?

Dari trotoar sudah terlihat jelas tingginya gedung perpusnas yang baru di Jalan Merdeka ini. Sungguh jauh berbeda dengan gedung lama yang kala itu kerap saya sambangi di Salemba Raya.
Gedung perpusnas dilihat dari trotoar, dokpri
Saya suka halaman depannya. Luas, asri, dan juga "hidup". Tidak hanya menyejukkan mata, melainkan juga hati. Saya jadi makin penasaran seperti apa suasana di dalam.
Halaman depan, dokpri
Suasana masih sepi ketika saya dan Taka sampai di pintu masuk perpustakaan nasional. Hanya ada beberapa orang saja. Mungkin, karena masih pagi, ya. Atau, karena ini bulan puasa. Entahlah. Saya dan Taka sepertinya jadi pengunjung pertama. Rajinnn. Xixixi.
Pintu masuk perpusnas, dokpri
Kami tidak langsung menuju gedung perpusnas, melainkan masuk dulu ke ruangan yang menurut saya lebih mirip museum karena isinya memang hal-hal bersejarah yang berkaitan dengan perkembangan literasi dan kepustakaan di Indonesia.
Alat komunikasi masa itu, dokpri
Video pembelajaran, dokpri
Sepeda pustaka, dokpri
Perpustakaan kuno, dokpri
Selesai menikmati beragam benda-benda serta cerita bersejarah terkait literasi Indonesia, selanjutnya saatnya ke gedung utama. Perpustakaan nasional ini terdiri dari 24 lantai di mana setiap lantainya memiliki fungsinya masing-masing. Tidak perlu khawatir tersesat karena ada petunjuk yang menurut saya sudah cukup jelas. Atau kalau semisal belum cukup puas, kita bisa bertanya langsung ke bagian informasi.

Adapun penjelasan 24 lantai di perpusnas tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Lobi
  2. Layanan keanggotaan
  3. Promosi
  4. Pameran dan kantin
  5. Perkantoran
  6. Mushola
  7. Saya menamainya lantai khusus untuk anak karena memang fokusnya ke mereka, selain juga untuk difabel
  8. Audiovisual
  9. Naskah nusantara
  10. Penyimpanan koleksi monograf tertutup
  11. Penyimpanan koleksi monograf tertutup
  12. Ruang baca koleksi monograf tertutup
  13. Ruang baca koleksi monograf tertutup
  14. Layanan koleksi buku langka
  15. Layanan referensi dan koleksi online, beberapa buku saya ada di sini hehehe
  16. Foto, peta, dan lukisan
  17. Kantor Akademi
  18. Kantor Akademi
  19. Multimedia
  20. Koleksi berkala mutakhir mancanegara
  21. Koleksi monograf terbuka
  22. Koleksi monograf terbuka
  23. Koleksi majalah terjilid
  24. Budaya nusantara
Semua informasi di atas bisa kita dapatkan di lobi.Di setiap lantai pun ada keterangannya masing-masing isinya apa saja.

Saya sendiri baru sempat melihat lantai 1, 2, 3, 4, dan 7. Selama puasa ini, perpusnas memang enggak buka sampai sore. Jam dua atau setengah tiga sudah tutup.

Dan sebagai ibu yang memiliki batita aktif, lantai 7 adalah lantai favorit. Di sini, anak-anak enggak bakal bosan karena banyak mainan. Yaa, selain juga buku, tentunya. 

Ruangannya sangat bersih dan luas, dokpri

Taka begitu antusias, dokpri

Koleksi bukunya bagus-bagus, dokpri

Mengajak anak mencintai buku cikal bakal nanti ia suka baca, dokpri

Informasi situs edukatif yang bermanfaat, dokpri

Taka termasuk pengunjung pertama di sini, dokpri

Meski belum menyambangi semua lantai, tapi rasa penasaran saya selama ini mengenai wajah baru perpusnas terbayar sudah. Semoga kunjungan selanjutnya bisa mengeksplorasi semua lantai bahkan dari pojok ke pojok dan dari ujung ke ujung.


#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-6

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. wahhh ternyata ada ruang batita, dulu mikir keras gimanaa yah caranya mau ke perpus nasional belum pernah, tapi sekarang ada anak balita takutnya enggak anteng, liat suasana perpus bagian balita jadi pede nih mau kesana sekian lama cuma niat doang hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyess sist
      Kondusif bgtss
      Sayang kalau puasa bukanya sbentar bgtt

      Delete
  2. Keren ya perpusnas. Sama sepertu mbak, saya sempatkan mampir ke sini pas mudik. Bikin betah. Habis nyaman banget sih.

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)