Ayah Ugi, Dad Blogger yang Rajin Kampanye Peran Ayah dalam Pengasuhan

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - October 05, 2021



Tangis haru tak bisa kutahan ketika melihat suami dan anakku bercengkerama. Mungkin bagi yang lain, kebahagiaanku ini receh, ya. Tapi bagiku, luar biasa. Bagaimana, tidak. Sejak aku hamil sampai Taka berusia 2 tahun 8 bulan, kami sudah LDM. Ya, saat itu tidak dimungkinkan aku menyusul suami. Pertimbangannya sekalian aja nanti pas udah di Jepang karena toh saat suami dipindah ke Medan lanjut Manokwari, tanda-tanda dia akan segera cuz ke Jepang untuk tugas belajar semakin jelas. Bagaimana pun, pindah bukan masalah sederhana, kan. Selalu ada biaya di baliknya. Wkkk. Jadi daripada uang habis untuk kilar-kilir yang hanya sesaat, ya sudahlah nanti saja sekalian.

Sebenarnya, aku memang cukup sensitif dengan perkara kedekatan ayah anak. Mudah tersentuh hanya karena hal-hal receh. Suamiku mandiin Taka, misalnya. Atau, hal lain yang serupa. Harusnya kan b aja, ya. Toh, bukan hal yang aneh lha wong Taka memang anaknya. Di sisi lain, aku bersyukur, LDM tak membuat Taka dan ayahnya jauh, mereka sangat dekat, semoga hingga nanti aamiin. 

Setali tiga uang dengan suamiku yang dekat dengan anaknya, ayahku pun. Meski kerja jaauhh beda pulau, tapi beliau sangat dekat secara batin dengan anak-anaknya, aku dan mbakku. Bahkan, yang mengajariku baca tulis bukanlah ibu, melainkan ayahku. Aku bersyukur memiliki dua laki-laki yang sangat memahami arti penting peran mereka dalam pengasuhan. Berharap, Taka pun kelak demikian. Aamiin.

Sisi melow dan sensitifku muncul karena aku kerap teringat budaya patriarki yang bilang kalau tugas mengurus anak itu hanyalah tanggung jawab IBU saja. Masyarakat seolah sudah terdoktrin demikian (dan belum hilang sepenuhnya meski zaman sudah berubah). Ayah, hanya bertugas mencari uang. Sementara ibu, mengurus anak-anak. Sehingga, tidak bisa dimungkiri jika terjadi sesuatu pada anak, yang disalahkan 100% oleh masyarakat biasanya ibunya. Sungguh, bagiku ini sangatlah tidak adil. :)

Meski memang belum bisa dikatakan baik dalam hal kesadaran ayah akan pengasuhan keluarga, bahkan menurut berita yang aku baca di CNN Indonesia berada di urutan ketiga dunia negara "tanpa ayah", tapi kita juga tidak boleh menutup mata kalau kaum adam yang memahami perannya sebagai ayah mulai bermunculan. Hal ini dibuktikan dengan makin bertambahnya dadblogger (enggak mau kalah dengan momblogger) yang fokus tulisan-tulisannya memang seputar peran ayah dalam pengasuhan. Salah satunya, Ayah Ugi, blogger dari Jember yang kukenal secara tidak langsung di Komunitas Blogger The Jannah Institute.

Kalau bertandang ke blog ayah dua anak ini, kita akan melihat postingan mayoritas bertema parenting, khususnya tentang peran ayah. Sebut saja tulisan tentang menjadi ayah zaman now yang membahas mengenai peran ayah dalam mendidik anak zaman sekarang yang pastinya penuh tantangan. Belajar parenting dari pakar pengasuhan anak, tentang ulasan saat mengikuti seminar dari Ayah Irwan salah satu pakar parenting di tanah air. Quote tentang ayah luar biasa, membahas peran ayah yang tak terlihat tapi sejatinya sangat dibutuhkan. Lima keterampilan yang harus dikuasai suami, kaum hawa pasti senang baca ini seolah dibela huehehe. Quote belajar dari ayah, tentang hal-hal yang akan dipelajari anak dari ayahnya sehingga ini seolah bisa jadi penyemangat untuk sang ayah agar bisa lebih baik lagi. Memaknai hari ayah dengan kehadirannya dalam keluarga, sebuah tulisan tentang makna hari ayah yang sesungguhnya adalah sebagai pengingat bahwa peran mereka sangat penting dan dibutuhkan. Ayah sebagai imam, tulisan tentang peran ayah sebagai imam karena itu harus selalu mau meng-upgrade ilmu. Quote ayah sebagai manajer, tentang peran ayah sebagai manajer strategis sedangkan ibu manajer operasional. Ehm, pastinya masih banyak artikel menarik lainnya tentang peran ayah dalam pengasuhan yang sayang kalau dilewatkan.

Buatku pribadi, membaca tulisan-tulisan Ayah Ugi di blog beliau membuatku makin bersyukur memiliki suami dan ayah yang mau dekat dengan anaknya. Sayang, mereka semua bukan dadblogger sehingga jejaknya tak terdeteksi, huehehe.
 
Laki-laki membicarakan parenting? Salut bangett malah. Aku berharap makin banyak para ayah yang sadar betapa pentingnya peran mereka. Ingatlah bahwa hubungan batin orang tua anak tidaklah bisa dibangun hanya dalam beberapa detik saja. Cukup sering ya kita melihat seorang anak begitu takut dan canggung bercerita pada kedua orang tuanya karena tidak terbiasa/takut dimarahi habis-habisan. Ehm, sedih dan miris, ya. Semoga hubungan kita dan anak senantiasa harmonis, ya. Buat para ayah dan calon ayah yang membaca postingan ini, yuk buruan cuz ke blognya Ayah Ugi. Semoga bisa memberikan insight baru, ya.

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Coba ada ilmu parenting sebelum nikah secara wajib ya, pasti dadblogger bertebaran :D
    Akhirnya emak-emak jadi lebih ringan tugasnya wkwk. Ups.

    ReplyDelete
  2. Mampir lagi~ Tadi kayaknya salah akun wkwk.

    MasyaAllah, coba sebelum nikah ada kelas parenting wajib ya, bakalan banyak nih dadblogger. Bisa jadi tugas emak-emak jadi lebih ringan wkwk.

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)