Tak Perlu Terlalu Sedih ketika Disakiti karena Sesungguhnya yang Menyakitilah yang Menyesal

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - January 26, 2019


Pernahkah kita menyesal setelah menyakiti orang lain entah sengaja atau tidak. Saya rasa, selama masih memiliki nurani, penyesalan pasti ada.

Menyesal setelah berdebat. Menyesal setelah membalas komen pedas. Menyesal bisa meng-skakmat seseorang yang selalu nyinyirin hidup kita. Menyesal sudah memarahi anak/suami/istri. Menyesal bersikap tidak dewasa. Atau, masih banyak lagi yang lainnya.

"Kenapa sih nurutin emosi. Harusnya aku cuek aja pas dia nyerocos. Toh, entar juga capek sendiri," misal dengan berkata seperti ini ke diri sendiri.

Saya jadi teringat salah satu artikel yang saya tulis di ummionline tentang MENYESAL. Artikel yang isinya seperti di bawah ini membuat saya merenung lagi.

**

Jika Waktu Tidak Akan Pernah Bisa Kembali, Kenapa Harus Sengaja Menyakiti?

Seorang istri sedih karena sang suami baru saja di PHK. Bukan karena perusahaan sengaja ingin mengurangi jumlah karyawan, namun karena kesalahan sang suami yang tidak bisa lagi ditolerir. Awalnya, perusahaan hanya memberi surat peringatan. Namun karena kesalahannya terus berulang dan menyebabkan kerugian perusahaan yang tidak sedikit, maka keputusan untuk memecat karyawan yang sudah berkeluarga itu pun terpaksa dilakukan. Rupanya, si istri merasa bersalah karena ia merasa telah ikut berkontribusi secara tidak langsung dalam kejadian tersebut. Dia tidak bisa memungkiri bahwa terlalu seringnya bertengkar untuk hal-hal tidak penting serta tidak adanya penyelesaian yang baik membuat suaminya kurang konsentrasi saat bekerja. Dia berandai-andai jika saja waktu bisa kembali ia ingin menjadi istri yang lebih bijak dan tidak kekanak-kanakan.

Seorang suami merasa menyesal sudah memukul istrinya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa tamparan yang menurut ia biasa saja membuat istrinya mengalami luka di bagian kepala cukup serius hingga kemudian meninggal. Seandainya saja ia bisa lebih sabar dengan omelan istrinya. Seandainya saja ia tidak memasukkan semua ocehan istrinya ke dalam hati. Seandainya ia bisa lebih bijak, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Seandainya waktu bisa diulang, ia pasti tidak akan melakukan tindakan bodoh itu lagi.

Seorang anak perempuan baru menyadari bahwa tidak memiliki ayah itu ternyata tidak enak. Padahal semasa hidup sang ayah, anak perempuan tersebut tidak pernah mengindahkan sedikit pun nasihat baik sang ayah. Bahkan, ia pernah terang-terangan menantang sang ayah layaknya musuh. Setelah sang ayah meninggal, dia baru menyadari bahwa tidak memiliki ayah itu seperti rumah yang tidak memiliki pondasi dan atap. Hidupnya merasa hampa. Anak perempuan tersebut baru menyadari betapa besar rasa cintanya pada sang ayah setelah sang ayah meninggal. Tapi, semua itu tidak ada gunanya lagi karena toh dia jejeritan setiap hari sampai pita suara putus tetap tidak akan pernah bisa mengembalikan sang ayah ke dunia. Ia hanya bisa mendoakan si ayah saja. Hanya itu. Jika saja waktu bisa diputar kembali, ingin sekali rasanya ia menjadi anak yang penurut dan taat pada ayahnya. Sayangnya, itu tidak mungkin.

Sedikit ilustrasi di atas membuat kita merenung, jika waktu memang benar-benar tidak bisa kembali, masihkah kita berpikir untuk menyakiti orang-orang yang sangat menyayangi kita? Masihkah kita berpikir untuk membalas dendam? Masihkah kita berpikir untuk mencari musuh? Kenapa tidak kita gunakan saja waktu yang terbatas ini untuk membahagiakan orang-orang di sekitar kita yang salah satunya dengan tidak menyakiti atau sengaja mencari masalah?

Ada begitu banyak orang yang menyesal dan baru menyadari bahwa mereka telah menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan saat orang yang mereka cintai masih ada. Ada begitu banyak orang yang baru tahu bahwa perbuatannya ternyata bisa membuat orang yang mereka sayangi merugi setelah semuanya terjadi. Dan, ada begitu banyak orang yang berharap waktu bisa kembali untuk sekadar bisa memberikan yang terbaik pada orang-orang yang disayangi. Tapi, semuanya tidak akan pernah mungkin terjadi.

Sudahkah kita membahagiakan orang-orang di sekitar kita walaupun hanya sekadar memberikan senyuman sederhana?

**

Saya menulis hal di atas utamanya lebih untuk diri sendiri. Ya, mengingatkan diri sendiri. Saling mendoakan, ya. Semoga hidup kita semua bisa lebih baik. Aamiin.

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Aku tadinya baca ini karena merasa galau.
    Hahaha...hari gini masih galau yaa...

    Semoga apapun yang kita lakukan dan utarakan tidak meninggalkan bekas luka untuk orang lain.
    Aamiin~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xixixi
      Ke sini makin galau y mb wkkk
      Maaphh

      Aamiin ya Allah
      Kadang gak sengaja kita nyakitin orang y mb pdhl g maksud

      Kita? Aku aja kali wkk

      Delete
  2. 😖😖😖😖😖

    Emang kadang marah2 itu hanya meninggalkan penyesalan, apalg marah2 ke anak 😖😖😖 rasanya klo waktu bisa kembali jgn sampe ada marah2 dah

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)