5 Stigma Negatif (dari Mereka yang Sok Iye) tentang Ibu Rumah Tangga beserta Bantahannya

By Miyosi Ariefiansyah - January 10, 2019



Baca tulisan seorang anak muda yang lagi viral, males sebutin detail, tentang ibu rumah tangga yang menurut dia enggak lebih baik dari seorang "anu" (males juga nulisin kata-kata enggak pantas itu di blogku) karena kerjaannya bejibun tapi "bayarannya" enggak sesuai, mau pula "dijajah", aku kok biasa aja, ya. Enggak emosi, enggak juga pengin balas dengan tulisan pedas, atau semacamnya. Walaupun, si penulis sudah (dan selalu) bersikap defensif terhadap yang kontra tanpa ada permintamaafan sedikit pun, emosiku juga biasa-biasa aja, enggak kepancing seperti beberapa temanku.

Apa ini artinya aku enggak punya hati nurani? Padahal, aku kan juga ibu rumah tangga. Semua wanita yang sudah menikah pasti seorang ibu rumah tangga, kan.

Atauu, karena aku sudah kebas dan kebal dengan opini SOK macam gitu? Sepertinya, alasan ini yang lebih cocok.

Jauh sebelum viral macam sekarang, pendapat SOK IYEE seperti itu sudah SANGAT SERING aku dengar dan baca. Bedanya, dulu enggak sampai viral. Bisa jadi, karena yang komentar bukan seleb medsos atau emang dulu belum zaman dikit-dikit viral.

Beberapa saat setelah menikah, misalnya, aku sempat geram dengan komentar seseorang di Facebook tentang ibu rumah tangga. Saking gemesnya, sampai aku printscreen. Dulu, FB-an masih dari laptop.

Ini buktinya. Nama yang komen aku hapus demi keharmonisan bersama.

Sebenarnya poinnya ada di paragraf kedua yang kepotong, tapi nyari potongannya udah gak ada, huhuhu
Menurut ybs, ibu rumah tangga itu kerjaannya cuma bengong, ngabisin duit suami, nuduh suami, dan semacamnya. 
Masih banyak komen yang lebih puedes dan nusuk, tapi aku enggak mau "mengotori" rumah mayaku. Lagian juga enggak etis buat dibaca. ☺

Yang komen, COWOK. Waktu itu sih, aku sempat "panas". Tapi males juga "nabokin". Malu aja sih berantem di medsos. Kalau berani, sini ketemuan di lapangan kita selesaikan secara gagah face to face, bukan cuma berani ngomel di balik layar gitu. Beneran ya ini. :)

Pendapat yang jaauuuhh lebih pedass lainnya yang intinya merendahkan ibu rumah tangga sudah sangat sering aku dengar sejak sekolah dan kuliah. Ya dari mulut cowok, ya dari mulut cewek. Mulai dari sindiran halus sampai kasar blak-blakan, semuaaa lengkap. Justru sekarang ini, ketika media sosial sudah sangat populer, ibu rumah tangga enggak terlalu dihujat-hujat amat.

Jutaan komen SOK IYEE tersebut jika aku rangkum kira-kira begini:

1. Ibu rumah tangga itu kerjaannya PASTI nggosip.
Bantahan: yang bisa nggosip tuh semua orang kalii. Anak sekolah juga bisa memupuk bakat jadi tukang gosip kalau mau, misal dengan ngomongin adik kelas yang dianggap merebut gebetannya. Bapak-bapak juga, misal dengan ngomongin artis-artis cantik buat dijadikan bahan lawakan. Jadii, salah banget kalau NGGOSIP itu kerjaannya ibu rumah tangga karena yang benar... NGGOSIP adalah kerjaan semua orang (yang mau).

2. Ibu rumah tangga itu NGGANTUNGIN idup sama suami.
Bantahan: menggantungkan hidup ya jelas cuma sama Allah. Dan lagi, emang kenapa juga kalau nggantungin idup sama suami sendiri? Enggak aneh. Yang aneh dan enggak boleh itu nggantungin diri sama suami orang.
Yang komen SOK KEREN macam gini kayaknya harus banyak gaul, deh. Karena enggak sedikit wanita hebat di luar sana yang tetap bisa bertahan bahkan menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang yang sangat tinggi seorang diri, suami sudah tiada. Padahal sebelumnya, wanita-wanita perkasa tersebut adalah ibu rumah tangga murni. Artinya apa? Semua wanita itu keren. Kalau dalam kondisi terjepit, wanita yang awalnya kalem bisa berubah jadi maskulin dan siap berada di garda depan.

3. Jadi ibu rumah tangga itu MEMBOSANKAN.
Bantahan: jadi apa pun ada risiko bosann. Pernah kan pas kita sekolah ngerasa bosan tiap hari masuk terus enggak ada jeda. Bahagia ketika kemudian libur panjang. Tapi itu pun kita kemudian rewel lagi karena ngerasa bosan terlalu lama libur. Pun pegawai kantoran. Enggak sedikit yang ngerasa sumpek tiap hari masuk kerja ngurusin itu lagi itu lagi. Artinya apa? Poinnya bukan ke masalah profesi, tapi sikap diri sendiri. Bagi orang yang kreatif, pasti dia akan berusaha melakukan hal-hal yang enggak bikin dia bosan. Tapi bagi yang sebaliknya, apa pun profesi yang ia lakoni, ya pasti ujung-ujungnya ngeluh BOSAN.

4. Ibu rumah tangga itu... mau-maunya enggak digaji.
Bantahan: Ini juga bikin aku gagal paham sama yang komen gitu. Kenapa? Sama-sama enggak dibayar, kalau nurutin tolak ukurnya adalah BAYARAN ya, kenapa relawan dianggap jauhh lebih keren sedangkan ibu rumah tangga sebaliknya. Padahal, jadi keduanya sama-sama enggak mudah dan sama-sama enggak dapat bayaran.
Dan lagi, kalau mau nurutin "mau-maunya sih" sebenarnya enggak cuma ibu rumah tangga aja yang bisa dinyinyirin, semua bisa:
- Mau-maunya sih ngedidik anak cowok. Nanti kalau udah gede dan nikah, duitnya buat keluarganya sendiri.
- Mau-maunya sih ngedidik anak cewek. Kecil dibesarin, pas besar diambil orang. Deuh.
- Mau-maunya sih cari nafkah. Pas dapat gajii, ehhh mesti dibagi-bagi sama anak istri. Yang kepala jadi kaki kaki jadi kepala siapa, yang ngerasain siapa.
- Dll
Baanyakkk.
Bagi yang hidupnya hanya mengenal UNTUNG RUGI aja emang enggak bakal nangkap, kok. Jadi enggak masalah juga dibilang "mau-maunya". Namanya juga beda "keyakinan". :)

5. Ibu rumah tangga itu... BODOH.
Bantahannya: hahahah enggak perlu dijelasin, sih. Beneran deh yang komen SOK CANTIK/SOK GANTENG macem ini emang perlu banyak bergaul dan perlu didoain biar dapat hidayah, diampuni dosa-dosanya, diterima amalnya, serta dilapangkan kuburnya (kelak).
Dulu, sebelum ada medsos, ibu rumah tangga emang enggak bisa show off kemampuan dan kecerdasan. Walaupun, faktanya mereka cerdas, karier suami lancar, dan anak-anak pada sukses. Salim (virtual) sama ibu-ibu (yang sekarang mungkin sudah jadi nenek atau mbah buyut) zaman dulu. Tapi sekarang ketika medsos sudah jadi kebutuhan primer, siapa pun bisa "pamer", termasuk pamer kemampuan, dan termasuk juga ibu rumah tangga. Lebih-lebih, beragam komunitas tentang pemberdayaan ibu rumah tangga menjamur.
Jadii, fixed, ya... semoga yang masih komen ibu rumah tangga itu BODOH dan kerjaannya cuma BENGONG dibukakan mata hatinya dan disirami hari-harinya dengan kebahagiaan biar mulut dan jarinya bisa lebih terkontrol. Aamiin.

Aku sih enggak berminat marah-marah, ya. Justru dari komen-komen SOK IYE tersebut jadi pelajaran berharga buatku. Semoga aku bisa mendidik anak-anakku dengan baik. Kelak, saat anak lanangku udah jadi "orang", dia akan menghargai wanita seperti ayahnya. Termasuk, menghargai ibu rumah tangga. Semoga dijauhkan dari karakter mas-mas sok kegantengan yang kerjaannya merendahkan wanita yang mungkin mereka amnesia kalau lahir dari seorang wanita. Sedangkan jika diamanahi anak perempuan, adiknya Taka kelak, semoga aku bisa mendidik agar enggak keluar dari fitrah jadi apa pun ia nantinya. Aamiin.

Saling mendoakan ya kita semoga anak-anak tumbuh jadi pribadi yang menghargai sesama. Aamiin.


Tulisanku lainnya tentang IBU RUMAH TANGGA:

  1. Jangan minder jadi ibu rumah tangga, kita ini berharga kok
  2. Rasanya jadi ibu rumah tangga ternyata begini
  3. Semangat ya Bun ketika profesimu sebagai ibu rumah tangga dipandang sebelah mata
  4. Akhirnya, ibu rumah tangga bisa unjuk gigi di era media sosial
  5. Kerjaan ibu rumah tangga di hari libur
  6. Pekerjaan rumah tangga yang bikin damai
  7. Manfaat ekonomi digital buat makemak alias ibu rumah tangga itu nyata banget
  8. Perjalananku sebagai ibu rumah tangga: mulai dari takut dibully sampai bodo amat

  • Share:

You Might Also Like

20 comments

  1. klutuk klutuk klutuk...
    *aduk-aduk gelas isinya es cokelat, mau ga mba? wakakakkaak

    Saya adalah salah satu orang yang ngakak baca tulisan si orang itu.
    Dan kesal teramat sangat gegara seseorang mengSS statusnya trus dikirim ke saya.
    Saya udah lama blokir akunnya, males banget liat2 akun anak kecil sok iye kayak gitu.
    Seandainya ada kata sombong yang bisa diucapkan, saya mau pilih "GAK LEVEL" Astagfirullah, kasar banget sayanya hahaha.

    Yang saya sedihkan adalah, banyaknya orang yang baper gegara status tersebut.
    Dan iyaaa,, sadar, saya baca cuman yang poin 1 aja, udah bikin hati saya semacam disulut rokok gitu.
    Taoi seketika adem, pas tau yang tulis tuh anak.

    Ya mau gimana lagi, dia mah sejak dulu gitu, suka banget viral dengan cara mencuil emak-emak, sudah tau emak-emak kek bensin, malah digunakan dengan keren buat branding wakakaka

    Lagian, dia kan masih kecil, masih belom nikah.
    Kita biarin saja dia ngoceh sendirian tentang IRT, percaya deh, dia pasti bakal ngelewati apa yang sudah kita lewati.

    Dan selain itu, saya miris banget, dengan pemicu status tsb, mengapa sih kita para wanita suka banget saling menertawakan.
    Ya si anu melakukan kesalahan dengan perbuatan gak terpuji, biarkan saja, mending diam2 kita doakan agar hatinya terjamah hidayahNya, dan kita juga pastinya aamiin.

    ReplyDelete
  2. Entah kenapa saya malah ketawa baca komen orang tersebut. Ini sih ketahuan banget doi nggak ngerti apa-apa soal kerjaan IRT, makanya nulisnya begitu.

    Kalo soal baper saya nggak boong sih. Yang tadinya kerja terus tiba-tiba di rumah aja untuk ngurus anak dan rumah bukan sesuatu kondisi yang mudah untuk adaptasi. Tapi ini keputusan aku dan suami, jadi dijalaninnya pun ikhlas. Udah banyak omongan di luar sana tentang aku, kok sarjanaan ujung-ujungnya di rumah aja, udah capek-capek kuliah kok ngurus anak doang. Sakarepmuu. Kamu nda menjalani kehidupanku nda usah banyak komentar. Lagipula kok berani sih julidin emak-emak? Belum tau yaa the power of emak-emak tuh kayak apa? Hahahaha

    ReplyDelete
  3. ihhh saya sempet ketingggalan
    bingung ini berita apaannn
    hahha

    sampai akhirnya tanpa sengaja nemu juga di sosmed, dannn saya pun gemesssss

    bener tuh mbak
    kalo berani ketemuan
    face to face
    woman to woman
    jangan cuma berani nulis doang

    eh tapi bener juga kata Rey diatas
    tuh anak kan belum ngalamin kek kita
    nanti juga dia bakal tertampar-tampar sendiri di masa depannya
    dengn apa akan dia jalani nantinya

    Astaghfirullah
    kenapa doa jelek beginiiiii

    duh maaf maaf
    saking gemessssnya ini

    ReplyDelete
  4. ini ya si "anu yang demennya plagiat" itu bukan? wkwk, saya juga ogah nyebutin namanya. Duh, dek! kamu tuh masih sekolah, masa depan masih panjang, tapi kok demennya ngomong ngawur. Saya kalo jadi ibu bapaknya saya karungin tuh anak *kasian amat kek kucing wkwkw. Gemeees yes. Padahal jadi ibu rumah tangga lebih berharga dibandingkan jadi si 80juta per malam. Dih, sama mah di bayar 100000 M per malam juga ogah. Naudzubillah min dzalik! Dunia menikmati tapi di akhirat neraka jahanam. Naudzubillah!

    ReplyDelete
  5. Iya kadang suka gimana gitu sama orang yang ngomongnya ke mana aja. Biarlah mungkin mereka kurang pemahaman saja. Kadang tutup telinga lebih baik daripada menanggapi yang enggak penting. Masih banyak hal positif yang bisa dilakukan meski dunia tak selamanya bersahabat.

    ReplyDelete
  6. Jangan pedulikan kata mereka yang punya pandangan negatif. Pekerjaan yang paling sulit sekaligus paling membahagiakan adalah IRT. Saya juga sebenarnya ingin. Siapa tahu ketika saya punya anak nanti, saya juga memilih itu?

    ReplyDelete
  7. Kalau ada yang berkomentar negatif tentang ibu rumah tangga, saya mah selow aja sambil didoakan semoga dia mendapat hidayah. Harusnya, mereka perbanyak ngaji dan mendalami agama agar bisa sedikit lebih pintar jadi isi pikirannya bisa lebih baik.

    ReplyDelete
  8. Aku juga gemesssss banget sama anak itu. Dan waktu aku cerita ke suami, ternyata suami ku responnya juga sama. Pas aku ngomongin soal harga 80jt, 10jt itu suamiku malah nyeletuk, "coba tanya mi, dia itu harganya berapa?" Sepertinya suamiku esmosi juga, hahahaha.

    Semoga dapet hidayah tuh bocah dan orang2 yang SOK IYE, bilangin mba "kiamat udah deket".

    ReplyDelete
  9. Omongan seperti memang sering didengar tapi biarlah gak usah dimasukkan ke hati
    Saya juga seorang ibu rumah tangga makanya sering mendengar perkataan seperti itu, memang sih bikin sakit hati tapi kalo dibiarkan bersemayam di hati bikin rusak hati

    ReplyDelete
  10. Hidup itu sawang sinawang, alangkah baiknya kalau kita menghargai satu sama lain. Semua orang juga pilihan, mau jadi IRT atau wanita karir.. Terserah. Asal gak boleh ngejudge satu sama lain. Semangat para ibuu rumah tangga, you are the real hero!:)

    ReplyDelete
  11. Duh kudet banget saya nggak tahu siapa yang diomongin ini. Hahaha... Apakah karena saya tipe ibu rumah tangga bodoh? Padahal saya kuliah tinggi berorganisasi sampe luar negeri. #kibasjilbab

    ReplyDelete
  12. Aku ngakak bacanya, tapi setuju sama isinya.

    Kenapa pandangan semacam itu ada? Karena jiwa jiwanya mungkin merasa sombong. Padahal anak yang hebat berasal dari ibu yang hebat. Dalam arti, jiwanya yang hebat. Karena sering dapat pelukan dari ibunya yang memilih menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Anak bisa bebas bercerita, tanpa perlu menunggu ibunya pulang kantor. Suami pun senang, tiap hari diantar istri sampai pagar, pulangnya disambut istri.

    Coba kalo ibunya ngantor trus rajin lembur. Komunikasi sama anak nggak sampai, duh ... anak hasil didikan (maaf) ART dong, bukan ibu kandungnya.

    ReplyDelete
  13. Aduhduh.. Ibu Rumah Tangga itu pekerjaan yang luar biasa mulia. Kalo bisa menghasilkan ya itu bonus. Biarpun mungkin nggak banyak. Yg penting itu bisa selalu bareng si kecil dan ayahnya, bahagia mengurus mereka.
    Semoga kita sebagai IRT selalu diberi kemudahan dalam segala hal, aamiin..

    ReplyDelete
  14. Pengalaman saya pribadi menjadi wanita karir/bekerja semenjak gadis hingga menikah dan mempunyai 3 anak. Setelah bekerja selama 17 tahun, saya beralih profesi menjadi full time mom alias Ibu rumah tangga. Lalu apa yang saya rasakan? Suatu kenikmatan yang tiada tara, saya lebih bahagia, merasa enjoy dan anak suami juga senang. Pikir saya, kenapa nggak dari dulu aja ya jadi IRT? Alhamdulillah asyik lho..

    ReplyDelete
  15. Hh ... Hiduup emak-emak. pernah sekali kepoin akun anak itu, mb. Herannya napa yang follow banyak juga. Miris banget.

    ReplyDelete
  16. huhuhu emak-emak udah akrab banget sama omongan beginian. tapi ah mau jadi apa kalau ngikutin baper ya mbak. mending fokus sama kemampuan diri biar makin banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan. nice sharing mbak ;)

    ReplyDelete
  17. huhuhu emak-emak udah pasti akrab banget sama omongan beginian. tapi ah mau jadi apa kalau cuma nurutin baper, mending fokus sama kemampuan diri biar makin banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan. thanks for sharing mbak ;)

    ReplyDelete
  18. Aku juga heran ama si dedek gemez itu mbak, tapi kemudian maklum karena yaaahh... dia kan masih bocah. Semau-maunya aja dah biar viral :D Nmor 2 itu nampol banget mbak. Ibu mertua saya pure IRT, tapi setelah bapak mertua tiada, beliau bisa tuh jadiin ke-6 anaknya sarjana. Dan yang bilang IRT itu bodoh, wah dia pasti belum nonton film ato baca novel Habibie Ainun. Jelas2 bu Ainun milih resign dari kerjaannya sebagai dokter hanya demi 'meng-IRT-kan' dirinya, yang katanya nggak digaji. Sedih deh sama orang2 yg pola pikirnya masih cetek begitu, hihi

    ReplyDelete
  19. saya juga termasuk yang kebal dengan nyinyiran netizen di medsos. Kalau mbak Miyosi dinyinyirin tentang ibu rumah tangga saya sering baper dengan postingan yang sering memojokkan wanita karir. hahahaha ternyata apapun pilihan kita tetap salah di mata orang lain ya.
    Kalau bagi saya pribadi sih menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir itu adalah sebuah pilihan. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang penting tetap semangat menjalaninya di diniatkan mencari ridho-Nya.

    ReplyDelete
  20. Hehe, saya baru baca status si adek itu kemarin. Gegara gak sengaja liat komen seseorang. Akhirnya kepo, cuzz ke wall-nya. Duh, kok bikin perbandingannya gak tepat gitu. Walopun belakangan dia klarifikasi, sih.
    Idem, Mbak. Sebenarnya saya ga minat komenin statusnya. Yo wis ben. Idem juga udah kebal tentang yang sok iyes. Toh, saya udah merasakan keduanya: dunia kerja dan sekarang jadi emak sepenuh waktu.
    Mending bersinergi daripada iri dengki. Tak iye?

    ReplyDelete