Suami Gantengku

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - January 28, 2019


Sudah hari kelima aku bersikap “biasa” pada suamiku. Entah, dia sadar atau tidak. Bisa jadi iya (sadar) mengingat sikapku selama ini yang selalu ceria dan heboh, selalu membuat ia tertawa dan melupakan masalahnya di kantor. Jadi, pasti dia bertanya-tanya kalau aku tiba-tiba berubah drastis jadi pendiam banget seperti ini. Tapi, bisa juga dia tidak sadar. Buktinya, dia enggak nanya kenapa aku seperti ini, tak seheboh biasanya.

“Besok, aku dinas ke Palangka. Seminggu. Ada pelatihan,” kata suamiku, tiba-tiba, mengagetkanku yang sedang (pura-pura) membaca padahal sebenarnya melamun dan berimajinasi sendiri.

“Iya,” jawabku, singkat tanpa bertanya apalagi heboh seperti biasanya.

“Sama Aliando,” katanya lagi

“Oke,” jawabku, dingin.

Maafkan aku, tapi mau gimana lagi. Aku masih BETE. Dan jujur, aku bukan tipe istri yang suka mengomel. Jika marah, aku lebih baik diam. Ya, selain diam itu menyelamatkan banyak hati, aku juga tidak mau kalau kecantikanku berkurang walaupun hanya 1% hanya karena marah-marah dan teriak-teriak seperti orang gila.

Kupandangi wajahku yang sangat cantik di kaca mini sebelum tidur. Kemudian, kulirik laki-laki yang menjadi suamiku itu yang kini tengah sibuk mengurusi “war” di salah satu game online yang kini sedang nge-trend: CoC.

**

Seminggu yang lalu …
Entah, perasaanku ini berasal dari mana. Biasanya, aku ini orangnya cuek banget. Suami dinas, oke, itu artinya aku bisa menyelesaikan banyak kerjaan tanpa harus “diganggu”. Bukan berarti kejam, tapi aku berusaha mengambil sisi positif aja dari setiap kejadian. Suami pulang malam karena banyak kerjaan, aku biasa aja, yang penting sampai rumah dengan selamat. Toh, hampir semua teman-teman kerja suami kukenali. Bahkan, kami semua sudah seperti keluarga. Aku sangat bersyukur.

Tapi, kenapa tiba-tiba perasaan ini muncul setelah membaca artikel itu. Biasanya, aku bukan pembaca yang mudah terpengaruh. Aku sendiri bekerja sebagai editor di salah satu penerbit mayor di sini. Dan aku berkesimpulan bahwa kita tidak boleh menelan mentah begitu saja apa yang kita baca. RUGI banget. Satu-satunya tulisan yang WAJIB kita masukkan dalam hati 100% hanyalah ALQURAN. Sampai detik ini, kesimpulanku masih seperti itu. Sehingga, ketika aku baca artis ini cerai, si ini jadi simpanannya orang kaya, si anu selingkuh, jujur, aku biasa saja. Tidak ada pengaruh apa-apa.

“Mbak, emang bener ya dukungan suami saat istrinya melahirkan itu penting?” tanyaku tiba-tiba pada kakak kandungku di telpon.

“Ngapain tiba-tiba kamu nanya ini? Emang udah hamil?” bukannya menjawab, dia malah balik bertanya

“Beloom,” jawabku setengah kesal

“Iyalah, peran suami itu penting banget. Kenapa?”

“Gak apa-apa. Ya udah, ya. Makasih, Mbak. Aku mau lanjut kerja,” jawabku memutus telepon. Hihihi, maaf, Mbak, kalau adikmu kadang-kadang gaje.

Apa nanti kalau aku hamil, Mas Adzka akan perhatian, ya. Kalau sekarang dia terkesan cuek sih aku masih memahami. Tapi kalau nanti sudah punya anak. Aku tidak mau terkena BBS. Ini kan anak kami bersama. Dia tidak bisa “lepas” tanggung jawab gitu aja.

Di tulisan yang aku baca ini disebutkan bahwa ibu-ibu yang mengalami BBS salah satu penyebabnya adalah karena kecuekan suami, ketidakpedulian, dan keengganan mereka untuk mau ikut “repot” mengurus bayi. Semua dibebankan ke istri. Tidak hanya itu, banyak juga suami-suami yang masih minta “dilayani” ditengah kondisi fisik istrinya yang masih rapuh setelah melahirkan. Wow, egois sekali kamu, laki-laki.

Andrea Yates, adalah salah satu contoh ibu yang mengidap BBS, yang tega membunuh kelima anaknya. Aku pernah sih baca novel tentang kisah si Andrea ini. Baca sampai tuntas bahkan. Jadi, si Andrea ini memang dasarnya sudah memiliki “keanehan” jauh sebelum menikah. Nah, pas menikah, “keanehannya” semakin menjadi-jadi, terlebih “ditunjang” dengan sikap suaminya yang seolah tidak peduli dan terlalu sibuk bekerja. Suaminya si Andrea ini bekerja di NASA. Dulu, aku tidak terlalu terpengaruh saat membaca kisanya. Tapi, entah kenapa sekarang jadi sedikit kepikiran. Ada rasa khawatir di dalam hati walaupun di luar aku nampak baik-baik saja.

“Mbak cantik, enggak pulang? Mau dianterin? Lagi lihat apa, Mbak? Itu layarnya kosong melompong. Jangan ngelamun ya, Mbaak. Nanti kesambet, hehehe,” ‘serangan’ beruntun dari salah satu teman kantor bagian marketing kepadaku lagi-lagi membuat lamunanku buyar.

Heran deh, apa aku ini benar-benar hobi melamun dan baru sadar setelah ada yang “nabok”.

FYI, temanku tadi namanya Doni. Usianya hanya setahun di bawahku, tapi penampakannya terlihat seperti berusia di atasku (atau, akunya yang imut? Hoeks). Kata orang-orang, dia cakep banget, tapi kataku dia biasa saja. Gosipnya (dari teman-teman yang hobi “memedulikan” urusan orang), dia naksir aku. Tapi, aku sendiri tidak merasa begitu. Atau, akunya yang memang cuek banget. Entahlah. Enggak terlalu penting buat dibahas.

“Duluan aja, Don. Aku masih mumet,” jawabku singkat, pura-pura sibuk, malas diganggu.

Aku melanjutkan lamunanku, lebih tepatnya imajinasiku.

Mas Adzka ini kalau kupikir-pikir beda banget ya dengan Doni. Astaghfirullah. Pikiranku kenapa, sih. Kenapa tiba-tiba bandingin mereka. Ya jelas bedalah. Mas Adzka bukan laki-laki yang baik ke semua wanita, dia imamku. Doni adalah anak muda yang masih ingin menjelajahi banyak wanita. Sorry ya, Don. Lagian kamu enggak bakal tahu kalau aku mikir gini. Hahaha.

“Mas, aku pulang duluan, ya,”

“Ya,”

Percakapan singkat kami di BBM.

Aku menghembuskan nafas panjang. Mengambil tas ransel yang sedari tadi nangkring manis di kursi. Kurapikan meja kerjaku sembari berpikir dan bertanya, “Kenapa sih Mas Adzka cuek gitu sama aku? Apa dia tidak mencintaiku? Coba dia kayak Doni! Eh, apa-apaan sih aku. Astaghfirullah,”

Bergegas, aku meninggalkan kantor penerbitan yang sudah mulai sepi itu. Rupanya memang sudah banyak teman-teman yang pulang. Beginilah enaknya kerja di penerbitan, cukup fleksibel. Kadang, aku juga pulang rada siangan gitu dan memilih mengerjakan tugas-tugasku di rumah atau kafe yang jaraknya tidak jauh dari kantorku. Enak, ya? Banget! Iri, ya? Hahaha.

Pikiranku kembali sibuk untuk hal-hal yang sebenarnya tidak berguna. Tapi, entah mengapa, gara-gara tulisan yang aku baca tadi, imajinasiku ke mana-mana. Ah, ingin sekali aku hentikan, tapi tidak bisa. Sudah telanjur basah. Kulanjutkan saja khayalanku, entah nanti akhirnya gimana.

Sembari menunggu angkot dan duduk manis di halte, aku mengingat kata-kata mama mertuaku,
“Adzka tidak pernah pacaran. Mana ada cewek yang mau, lha dia dingin gitu,” waktu itu, pernyataan mama mertuaku kuanggap sebagai sebuah kemenangan. Yeyy, jadi aku ini wanita pertama yang mampu mencairkan es di hatinya? Ciee.

“Dia itu yaa, kalau sudah suka sama satu wanita, ya dia bakal pegang terus, bakal setia,” lagi-lagi ‘testimoni’ mama mertuaku tentang anak tertuanya di awal aku menjadi menantunya dulu membuatku kembang kempis.

“Tapi ya gitu, …”

Kenapa tapii, Buu? Aku paling trauma deh kalau depannya udah baik, kemudian di akhirnya ada kata “tapiii”. Itu semacam setelah diangkat tinggi-tinggi, kemudian dijatuhkan keras-keras. SAKIT.

“Kamu harus sabar pokoknya. Dia memang terlihat cuek, tapi sesungguhnya hatinya peduli. Dia butuh istri yang bisa membuatnya selalu tertawa karena dia orangnya terlampau serius,” lanjut beliau.

“Bu, kenapa tidak nyari mantu pelawak aja, Buu, kalau gitu,” tentu saja ini hanya bisa kutanyakan dalam hati dan pada diriku sendiri.

Dan, setelah aku benar-benar berinteraksi dengan laki-laki yang notabene kakak kelasku yang katanya sudah memendam cinta kepadaku sejak lama itu, aku pun membuktikan ucapan ibu mertuaku. Huhuhu.

Suamiku memang baik, cakep itu sudah pasti, cerdas itu enggak usah ditanyakan lagi, sholih, berkomitmen, dan segudang karakter positif lain. Tapi, …. Iya, tapii. Hiks. Bersama dia, aku kadang merasa mencintai sendirian, heboh sendiri. Haii, pelawak yang tugasnya menghibur masyarakat dan mengeluarkan mereka dari lembah kesedihan pun juga butuh dihibur, kan? Jika aku selalu menjadi penghibur, lalu siapa yang akan menghiburku? Maksudku, kenapa tidak gantian aja, gitu? Kenapa harus selalu aku yang menjadi ice breaker-nya? Lama-lama, aku bisa kehilangan bahan dan …. (bersambung)


(Tulisan di ataa adalah tulisan saya di annida online beberapa waktu silam. Saat ini, website annidaonline lagi enggak bisa dibuka. Sedihh)

  • Share:

You Might Also Like

11 comments

  1. Website annida online pakai blogspot atau wordpress kak?

    ReplyDelete
  2. Wkwkwk lutju pergi sama Aliando 😁😁
    Yah namanya jg istri, suami mo dines ya pikirannya pasti macem2 😁😁

    ReplyDelete
  3. Ditunggu lanjutannya ya say. Itu ngapain si Mas sama Aliando 🤣

    ReplyDelete
  4. Wah perginya sama Aliando nih.. hehe
    Ingin tahu lanjutannya nih 😀

    ReplyDelete
  5. iiih jadi penasaran banget lanjutannya

    ditunggu lanjutannya


    diana beautygoers

    ReplyDelete
  6. makin dibaca makin penasaran nih.. lanjutkan!! XD

    ReplyDelete
  7. Menunggu lanjutannya nih mbak... coba dikasih visual seganteng aoa suaminya kira2 hihihi

    ReplyDelete
  8. Annida Online itu tempat share cerita2 fijsi gt kah kak? Btw suka ama cerita2nya kak

    ReplyDelete
  9. yah gantung... moga-moga ada lanjutannya.

    ReplyDelete
  10. Baca cerpen gini jadi kangen deh, dulu punya banyak waktu buat baca cerita, sayang skrang malah pengennya santai2 aja, hihii

    ReplyDelete
  11. Suami cuek bsia bikin greget sendiri ya, kita heboh dia biasa aja hahha sedih.

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)