Suamiku Emang Enggak Bisa Bikin Lagu, tapi Semua yang Dilakukannya Membuatku Merasa Jadi Wanita Seutuhnya

By Miyosi Ariefiansyah - January 12, 2019


Alhamdulillah, hari ini bapake Taka Ariefiansyah puulaangg. Yeyy. Doi pulang terakhir ituu 8 Desember 2018 tahun lalu. Sebenarnya sempat menghabiskan waktu bersama bertiga alias quality time di Surabaya seminggu sih pas Ayah Taka ada dinas di sana, acara ISEF kemarin. Jadi ya bisa dibilang terakhir ketemu tahun lalu itu tanggal 16 Desember. Tapi bagi kamii, jangka waktu sebulan enggak ketemu itu udaahh laamaaa karena biasanya dua minggu sekali pulang bahkan seminggu sekali. Xixixi.

Alhamdulillah, pas kami LDM Jawa - Papua per Maret 2018 kemarin karena suami promutasi ke sana kok ya pas Sriwijaya ngadain promo TERBANG SEPUASNYA SELAMA SETAHUN (dengan syarat dan ketentuan berlaku). Alhamdulillah, sebagai pasangan LDM sementara, kami sangat terbantuu. Ini yang namanya nikmat Allah mana yang kamu dustakan. 

Yaa coba bayangin aja sih semisal enggak ada promo ini, sekali terbang berapa, kalau PP berapa. Aku pastinya eman bangett kalau suami bolak balik pulang dengan harga tiket normal. Mendingan ditabung, dikumpulin. Ya, kan. Edisi istri hemat. Tapi gara-gara promo dari Sriwijaya itulah LDM kami jadi gak berasa LDM. Xixixi. Alhamdulillah.

Sebenarnya, setelah lebaran kemarin, aku dan Taka mau ikut. Cuma yaa karena alasan yang enggak bisa kusebut di sini, akhirnya enggak jadi. Doakan aja, ya, moga-moga ikhtiar kami berjalan lancar. Doa yang baik akan kembali ke yang mendoakan. Hehehe.

Rute suami setiap pulang ini bisa dibilang panjang. Dari Bandara Rendani, Manokwari, dia mesti terbang ke Makasar. Teruss, dari sana, cuzz ke Juanda, Surabaya. Apakah perjalanan sudah berakhir? Belum. Karena suamiku mesti harus naik travel lagi ke Sawojajar, Malang. Biasanya, dia sampai di Sawojajar itu jam 8-an malam.

Setelah capek seharian di jalan dan istirahat sebentar di rumah mertuaku alias ortunya suami, doi melanjutkan perjalanan lagi ke Junrejo, rumah ortuku. Sesampainya di sini, biasanya kami langsung cuzz ke rumah kami sendiri di perumahan daerah Beji, depan Jatim Park 3. 

Ehh, istri manja kau, Mi. Napa gak sekalian aja nunggu di Beji? Napa gak ikut ke Manokwari? Napa enggak nunggu di rumah mertua? Xixixi. Nahh, kalau ada mbak-mbak atau emak-emak (remfong dan julid) yang komen demikian, mungkin inilah jawaban yang bisa aku kasih:

  1. Perintah suami, tadinya juga ngebet banget pengin ke Manokwari. Tapi mau gimana, karena suatu hal jadinya ditunda. Doakan aja ya ikhtiar suamiku dimudahkan. Jadi untuk sementara suamiku yang bolak balik pulang kayak setrika.
  2. Perintah suami juga aku di rumah ortuku. Kata suami sih mumpung bisa dekat aama ortuku karena nanti akan pergii jaauuuh. Ortuku juga udah tua. Rumah sepiii karena kakak ikut suami. Ortu juga kesepian. Jadi ya udah, aku ke rumahku sendiri di Beji itu kalau pas suami pulang aja. Selebihnya, di rumah ortu. Doakan ya teman-teman biar ortu dan mertuaku panjang umur sehingga nanti bisa ketemu lagi setelah aku pergi jauhh ke suatu tempat.
  3. Mertuaku orangnya nyaantaii kayak di pantai. Enggak yang saklek kayak kerajaan gitu. Pokoknya modern bangetlah ya ngikutin zaman. Jadi emang beliau berpesan daripada aku repot ke Sawojajar sendiri, enggak apa-apa ke sananya nunggu bareng suami. Toh, adek-adek ipar juga mayan sering ke sini.
Terlepas dari drama-drama kangen LDM dan drama-drama kadang nanya kenapa LDM, jujur aku bersyukur dengan TIGA poin di atas. Udah, itu.

Waktu efektif kami Sabtu malam sampai Minggu siang. Karena setelahny, suami harus siap-siap balik lagi ke Manokwari. Begitulah yang terjadi selama ini sejak Maret 2018.

Barulah ketika ada kejadian luar biasa, kami bisa lamaa ketemu, misal:
  1. Ke Yogyakarta Februari 2018 pas suami dinas di sana seminggu
  2. Ke Jakarta September 2018 pas suami dinas di sana dua minggu
  3. Ke Jakarta November 2018 pas suami dinas di sana seminggu
  4. Ke Surabaya November 2018 pas suami dinas si sana seminggu
Selama itulah kami bertemu walaupun enggak biaa seharian karena suami bertugas, tapi mayan bangetlah bisa quality time.

Kalau sekarang, suami di sini sampai Selasa karena ia cuti. Alhamdulillah, mood booster buat kami semua.

Suamiku, sejak aku kenal zaman putih abu-abu 17 tahun yang lalu, sejak zaman umbelen cupu culun polos yang enggak tahu di masa depan bakal jadi apaan, yak... suamiku... dari sejak zaman internet belum secanggih sekarang... emang enggak romantis. Suamiku emang enggak pernah bisa bikin lagu. Enggak bisa. Ngerti not balok juga enggak. Tapii, bagiku dia adalah laki-laki LUAR BIASA yang semuaaa usahanya buatku membuatku terharu dan merasa jadi WANITA seutuhnya.

Aku rasa, semua istri yang suaminya enggak bisa bikin puisi, gombalan picisan, atau hal nggedabrus semacamnya juga bakal punya pemikiran yang sama denganku. Wkwkk. 

Moga-moga rumah tangga kita semua selalu dalam lindungan Allah ya, Makemak kecee dan baikk. Aamiin.

Doakan yaa 2019 ini enggak LDM lagii.

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Amin...turut mendoakan...biar ga LDM lagi, biar dede nempel terus sama deddi...

    ReplyDelete
  2. Haloo mbak,

    wihh samaan ya, punya suami yang gk romantis, hahha.. tapi cukup buat bahagia, saya bisa ngerasain giman LDM nya mba, kebetulan saya bekerja di tambang, saya sering mendegar keluhan Bapak2 yang jauh dari keluarga, rindu nya sama ama keluarga yang di tinggal di rumah, tapi disisi lain suatu kewajiban buat Bapak2 mencari nafkah, malah disni cuti karywan bekerja 70hari dan cuti 15 hari.

    tapi saya lebih ekstrim mba, satu perushaan tapi hidup serasa bujang, hihiii.. bayangin dalam satu lingkup perushaan tapi tinggalx berbeda mess, kami hanya makan malam bersama, selebihx di kantin dan mess masing2, tapi ini si dnikmati aja ya mba, hehe.. ada saatnya ngumpul.

    salam kenal mba.

    ReplyDelete