Jangan Remehkan Kegiatan Membaca sebelum Menulis

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - March 04, 2022



Menulis hal-hal serius tentunya berbeda dengan menulis curhat🤭. Jika yang kedua sifatnya hanya sekadar mengekspresikan diri dan perasaan seperti sekarang ini, maka yang pertama sebaliknya. Ia butuh sesuatu yang "lebih" bernama data valid sebagai penunjang pengetahuan baru untuk pembaca. 

Tidak jarang, ketika diminta menulis yang sifatnya sedikit berat, penulis mengalami kesulitan misalnya kehabisan ide, tak tahu bagaimana cara mengawali menulis, hingga alurnya pengin seperti apa agar runtut. Alih-alih harusnya bisa menulis lebih lancar karena sudah membuat outline, yang terjadi malah sebaliknya babarblas enggak tahu mau ngomongin apaan bahkan outline pun. 🤣

Setiap penulis pasti punya "resep" yang berbeda. Tapi kalau buatku, ujung pangkal dari semua itu adalah MEMBACA. Ya, seyogyanya ketika kita diminta untuk membuat tulisan bertema tertentu, membaca beragam referensi adalah koentji (akan lebih mantap lagi jika ditunjang dengan sudah punya bekal keilmuan yang berhubungan/jurusan kuliah yang sejalan dengan tema atau pengalaman nyata di lapangan).

Jangan remehkan membaca karena dari sana kita bisa mendapatkan bahan baku untuk meracik tulisan baru. Melalui kegiatan membaca, kita juga bisa menemukan celah untuk ditulis yang belum pernah dibahas penulis sebelum-sebelumnya. Semakin banyak referensi bacaan VALID yang digunakan, maka kualitas tulisan serius tadi juga akan semakin daging (mengambil istilah orang-orang zaman sekarang).

Ada sebuah film tentang penulis majalah gaya hidup yang banting setir jadi penulis keuangan (judul filmnya lupa). Tapi poin yang ingin kugarisbawahi adalah saking penginnya menghasilkan tulisan berkualitas dan enggak asal-asalan (padahal enggak sampai satu halaman), dia sampai rela kerja di perusahaan investasi. Walaupun itu bukan premis utama film, tapi aku justru fokus ke situ. 🤭🤣 Menurutku sangat menarik. Seniatt itu. Untuk detail filmnya seperti apa, jujur saja aku sudah lupa karena nontonnya belasan tahun yang lalu. 

Kalau di dunia nyata, rasanya hal di atas sedikit mustahil untuk dilakukan. Cukuplah dengan membaca, kita bisa mendapatkan banyak hal. Boleh dibilang, membaca adalah tindakan pancingan untuk bisa memulai menulis.

Jika untuk ranah lisan kita kerap mendengar istilah apa yang kamu ucapkan adalah apa yang kamu dapatkan, maka dalam tulisan juga ada ungkapan apa yang kamu tulis adalah apa yang kamu baca. Sehingga ketika kita enggak tahu mau nulis apa atau mengapa susah memulai sebuah tulisan, coba tengok, mungkin alasannya karena kita kurang baca.

Yuk, membaca.

Untuk teman-teman yang saat ini sedang mengerjakan tulisan "berat", semangat, ya!


  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Siaaap Mb Miyoshiiiiii ❤️ aku dah baca tulisan mb ini, smoga bisa makin mantul kayak mb Miyoshi nulisnya hhe 💕

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)