Pentingnya Penyuntingan

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - November 04, 2021

Menyunting menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari proses penulisan. Sebelum tayang, tulisan -entah berupa buku atau artikel- seyogyanya melalui proses penyuntingan terlebih dahulu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyunting adalah menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat).

Lalu, siapa yang bertanggung jawab atau pihak yang melakukan proses PENYUNTINGAN? Secara garis besar, ada DUA pihak yang terlibat dalam proses penyuntingan, yaitu:

1. Diri sendiri

Setelah menyelesaikan tulisannya, penulis hendaknya tidak langsung mengirimkan hasil pekerjaannya tersebut tanpa dicek ulang. Ada baiknya, penulis mengendapkannya terlebih dahulu sejenak untuk kemudian dikoreksi kembali melalui proses penyuntingan. Kegiatan tersebut dikenal dengan nama swasunting.

2. Pihak lain

Yang dimaksud dengan pihak lain dalam konteks ini bisa penerbit atau pihak ketiga yang sengaja dimintai bantuan oleh penulis untuk mengecekkan naskahnya.

Baik penyuntingan oleh diri sendiri maupun pihak lain, keduanya sama-sama penting. Ibarat kehidupan, manusia selalu butuh mengoreksi dirinya sendiri apakah yang dilakukan selama ini sudah benar, pun butuh bantuan orang lain untuk melihat hal-hal yang sekiranya tidak bisa dilihat oleh diri sendiri.

Pentingnya PENYUNTINGAN

Tidak sedikit yang berkata bahwa MENYUNTING itu tidak terlalu penting. Toh, sudah ada pihak penerbit. Untuk apa sebagai penulis kita repot-repot mengoreksinya sendiri. Tugas penulis bukan menyunting, tapi menulis. Ya, tidak sedikit yang memiliki pandangan seperti itu. Tidak sepenuhnya salah memang. Tapi alangkah baiknya jika apa yang sudah kita produksi dalam bentuk tulisan, kita koreksi kembali dalam bentuk penyuntingan. Bukankah dalam perusahaan ada bagian quality control yang bertugas layaknya penyunting untuk meneliti lagi adakah produk yang tidak atau belum sempurna? Pun dalam kegiatan menulis, menyunting tidak bisa dianggap sepele.

Manfaat MENYUNTING

Jika dijabarkan lebih lanjut, kegiatan menyunting memiliki DUA manfaat besar sebagai berikut:

1. Sebagai sarana “penyaringan” informasi sebelum dipublikasikan.

Mungkin, kita sering melihat status-status di dunia maya yang isinya sangat beragam. Si penulis seolah bisa berbuat seenaknya tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Tidak jarang, perdebatan bahkan sampai pemblokiran pun terjadi hanya karena masalah yang sebenarnya sepele, Itu adalah salah satu contoh betapa bahayanya segala sesuatu “dilepaskan” begitu saja tanpa adanya filter terlebih dahulu.

2. Sebagai sarana “pengecekan ulang”

Namanya manusia meskipun sudah berbuat sebaik-baiknya, tidak jarang kadang terjatuh juga. Pun dalam dunia penulisan. Salah ketik atau salah menuliskan sesuatu adalah hal yang bisa dianggap fatal.

Langkah-langkah MENYUNTING

Lalu, seperti apa langkah-langkah menyunting?

1. Setelah mengendapkan tulisan yang sudah selesai dibuat, berikutnya adalah mengeceknya kembali. Adakah yang salah di bagian ejaan atau tanda baca? Adakah kata-kata yang sekiranya membuat perpecahan atau ambigu?

2. Jangan pernah menyunting sebelum naskah selesai karena hal tersebut kurang efektif dan berpotensi membuat penulis enggan menyelesaikan tulisannya karena merasa lebih asik mengutak-atik tulisan daripada membuat yang baru.

3. Secara garis besar, proses menyunting bisa dibagi menjadi DUA, yaitu:

a. Fisik, meliputi pengecekkan ejaan, tanda baca, struktur bahasa atau kalimat, dan hal lain yang serupa.

b. Nonfisik, apakah tulisan tersebut bermanfaat atau hanya membuat pembaca merasa insecure misalnya.

Peralatan yang Digunakan untuk Membantu Proses Penyuntingan

Setelah mengetahui apa itu penyuntingan dan seberapa penting kegiatan tersebut dalam proses penulisan, maka berikutnya adalah tentang PERALATAN apa yang dibutuhkan dalam menyunting?

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Ini bisa kita miliki tidak hanya dalam bentuk fisik melainkan juga nonfisik. Kalau kita merasa terlalu berat membawa kamus ke mana-mana, maka KBBI online bisa menjadi pilihan.

2. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

Jika dalam Bahasa Inggris ada GRAMMAR, maka dalam Bahasa Indonesia ada PUEBI yang dulu bernama EYD. Ini pun bisa kita dapatkan secara online.

3. Baru-baru ini ada SIPEBI atau Aplikasi Penyuntingan Bahasa Indonesia yang bisa diunduh di playstore.

Jika foto kadang perlu "disesuaikan", tulisan pun. Meski demikian, menyunting bukan berarti mengubah konteks tulisan. Poinnya tetap sama, hanya penyajiannya saja yang dibuat lebih baik. Yuk!

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)