Menjadi Ibu adalah Anugerah

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - November 06, 2021



Bukan lantaran karena aku laaamaaa punyaa anak terus jadi ngasih judul di atas, bukaaann. Tapii, jujur, jadi ibu memang sebuah anugerah. Setidaknya, yang aku rasakan sih gitu, yes. Enggak bermaksud menyamaratakan kok, sungguh. Aku paham setiap orang punya pengalaman yang berbeda. :)

Buatku, menjadi ibu adalah anugerah. Betapa tidak, lha wong nyatanya ada hal-hal yang membuatku berubah drastis.

Apa aja, nih?

1. Lebih cuek dengan pendapat orang, lebih tepatnya nyinyiran kali ya lol

Kuakui sebelum punya anak, aku suka gemes kalau ada orang yang ngomong sembarangan padahal dia gak tahu apa-apa. Bila pun gak kuungkapkan secara langsung, biasanya kupendam rasa kesal itu. Setelah menjadi ibu, aku merasa diriku berubah jadi lebih cuek dan bodo amat. 

2. Enggak terlalu reaktif lagi, apa-apa harus dikomen

Dulu, aku sangat aktif di FB. Sekarang? Udah gak kuaktifin lagi, maless. 🤣 Aku ingat, dulu Mba Ica komen, "Eh, Mba Mi mo gak aktif di FB? Serius? Bisa gegarotak dia!" Wkkk seolah gak mungkin emang. Alhamdulillah, ternyata bisa juga.

3. Jadi lebih santai, tapi tetap punya target

Menjadi ibu makin membuatku sadar bahwa produktif tidak hanya persoalan mengerjakan sesuatu yang dapat duit saja/melakukan sesuatu agar terlihat sibuk/apalah yang intinya ada hubungannya dengan dunia luar, bukaan... bukan tentang itu saja maksudnya, tetapi juga membangun bonding yang kuuuaatt dengan anak. Ya, yang terakhir itu juga sangat bisa dikatakan produktif. Jujur, aku menikmati ternyata. Gak nyangka juga, sih. Sebelum punya anak, tadinya kegiatan cem gini kupikir bakal bikin frustrasi. Ternyata, ga. Misal contoh kecil aja deh, semacam ada rasa puas ketika anakku akhirnya bisa baca dari yang awalnya tolah-toleh enggak tahu alfabet, ada rasa senang ketika dia mengekspresikan rasa cintanya ke aku & ayahnya, dll. Gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, deh.

4. Merasa ada yang mencintaiku dengan tulus, ya suami juga sayang sih tapi kan sama dia ketemu gede. Sedangkan sama anak tuh benar-benar dari dia belum tahu bentukannya cem mana, jenis kelaminnya apa, dll... ya dari mulai sejak fase itu aku sudah merasa ada yang mencintaiku dengan sangat tulus sebagaimana aku ke dia.

Poin-poin di atas cuma secuil dari sekian banyak anugerah yang kurasakan sebagai seorang ibu. Kalau ditulis semua enggak cukup setahun. 🤣 

Kadang aku berpikir, kondisi seperti ini gak selamanya. Nanti dia akan menemukan kehidupannya sendiri, akan bertemu gadis impiannya. Ehm, semoga saat peristiwa itu terjadi, aku siap. Semoga dia bertemu dengan perempuan yang baikk dan tulus (jauh amat ya doanya). Tenang aja kok, aku akan mencintai yang anakku cintai dan menyayanginya dengan sepenuh hati serta gak akan gengsi untuk mengekspresikannya. Aku yakin kalau nanti anakku akan memilih yang baik. Kata-kata adalah doa, bukan. :)

Menjadi ibu, membuatku ingat kata-kata Pak Ridwan Kamil di podcastnya siapa lupa. Beliau bilang yang intinya kita tuh sama anak ga akan lama. Akan ada saatnya, dia punya kehidupan sendiri. Yang paling lama ya pasangan, sampai mati. Intinya gitu, redaksionalnya tentu beda, ya.

Aku tahu, PR-ku sebagai ibu masih banyak secara anakku aja masih 4 th. Tapi yang jelas, aku percaya bahwa Allah akan selalu membimbingku dan suami agar bisa jadi orang tua yang baik, mau belajar lagi dan lagi. Aku tahu aku bukan ibu yang sempurna, tapi insyaallah aku mau belajar dari kesalahan agar bisa jadi lebih baik. Doakan, ya.


  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)