5 Drama Asia Timur yang Enggak Bikin Nangis Jejeritan, tapi Sarat Makna

By Miyosi Ariefiansyah - November 29, 2018

5 Drama Asia Timur yang Enggak Bikin Nangis Jejeritan, tapi Sarat Makna

5 Drama Asia Timur yang Enggak Bikin Nangis Jejeritan, tapi Sarat Makna

Drama Asia Timur, lebih-lebih yang berasal dari Korea atau yang kita kenal dengan sebutan DRAKOR, dalam pikiran mayoritas orang enggak jauh-jauh dari banjir air mata. Padahal menurut saya sih tergantung sensitivitas masing-masing. Ada yang biasa aja setelah lihat padahal ceritanya tragis dan menyayat hati. Jangankan menangis, mbrebes mili aja enggak. Sebaliknya, ada yang baru baca judulnya aja udah nangiss sesenggukan. Kalau teman-teman termasuk tim yang mana, nih? 😂

Karena imej drama-drama Asia Timur seolah cemen/cewek banget/feminin/apalah sebutannya, terutama bagi mereka yang hanya melihat di permukaannya saja langsung nge-judge, maka pada postingan kali ini saya tergerak ingin menjawabnya. Bukan pembelaan. Hanya sekadar informasi saja bahwa enggak sedikit kok drama dari Asia Timur yang ceritanya enggak "DRAMA". Beberapa di antaranya bahkan kocak. Jadi, enggak perlu nyiapin tisu apalagi kain pel buat ngelap air mata plus ingus. Enggak perluuu. Karena drama-drama ini enggak bikin yang nonton bawaannya pengin nangis, ya kecuali kalau emang hatinya selembut salju. Namun demikian, pesan yang terkandung tetap ngena. 😁

Dan, inilah 5 drama Asia Timur yang enggak bikin nangis jejeritan, tapi sarat makna versi saya:

1. MARS

Kadang atau bahkan sering, dua orang bisa nyambung dan cocok bukan karena sama-sama sempurna, tapi justru karena sebaliknya: sama-sama enggak sempurna, sama-sama pernah memiliki luka masa lalu, & sama-sama ingin menyembuhkan.

Ketidaksempurnaan kadang justru membuat masing-masing saling mengerti tanpa harus dijelaskan. Ketidaksempurnaan membuat masing-masing enggak saling menuntut. Ini poin penting yang saya tangkap dari drama Mars.

Dua orang dengan masa lalu yang cukup kelam bertemu dan saling membantu mengembalikan jati diri.

Jika Qi Luo yang pernah dilecehkan ayah tiri jadi berkepribadian tertutup dan enggak percaya laki-laki, maka Cen Ling sebaliknya. Dia yang masih depresi atas kematian saudara kembar & ibunya serta perlakuan ayahnya yang enggak "menganggap"nya hanya karena Cen Ling lebih suka motor daripada akademis melampiaskan semuanya dengan menjadi trouble maker.

Padahal aslinya, Qi Luo sosok yang bersahabat dan ceria sedangkan Ceng Ling sosok yang setia dan melindungi.

Meskipun dari luar/kavernya, drama ini mungkin terkesan hanya membahas cinta-cintaan, tapi di dalamnya enggak kok. Bagaimana cara mengatasi trauma masa lalu, seperti apa hubungan anak dan ayah yang awalnya kaku padahal saling menyayangi, ketakutan dan benci  pada diri sendiri karena suatu hal yang sulit dilupakan, serta kesetiaan dan komitmen di saat sulit, semua ada. Chemistry mereka berdua juga kuat banget di drama ini. Sayangnya, di dunia nyata, Cen Ling dan Qi Luo enggak jadi nikah. Mereka sudah bahagia dengan keluarga masing-masing. Ehh, lha kok malah nggosip. 🤣


2. DRAGON ZAKURA

"Kamu tahu cara jadi kuat? Temukan kelemahanmu!"
"Kamu itu enggak bodoh. Enggak ada yang bodoh. Yang ada hanya orang yang kurang latihan. Apa ada orang yang langsung ahli dalam sekali coba?"
"Semua orang yang sekarang sukses, dulunya pernah jadi pecundang, termasuk aku... gurumu... pengacara terkenal ini. Masalahnya, ketika jadi pecundang, kita mau berubah apa enggak. Semua tergantung diri kita sendiri. Jangan salahkan orang lain."

Kalimat-kalimat di atas adalah penggalan kata-kata Sakuragi Sensei pada muridnya di drama asal Jepang ini. Cukup memotivasi, kan? Sama seperti dramanya.

Sakuragi sensei, pengacara terkenal tapi enggak terlalu laku (lupa tepatnya gimana karena saya nonton ini udah lama), melamar di sekolah yang isinya anak-anak bermasalah. Gimana tuh rasanya, coba? Sakuragi menantang dirinya sendiri untuk membuat mereka, anak-anak yang katanya bermasalah itu, diterima di universitas bergengsi Tokyo Daigaku.

Awalnya, enggak ada satu pun yang percaya. Bagaimana mungkin anak-anak yang sekolahnya pada enggak benar bisa sukses. Semuaa menyangsikan sekaligus meremehkan.

Fokus saya bukan pada endingnya, tapi prosesnya. Gimana Sakuragi menggembleng murid-muridnya yang masing-masing punya masalah. Gimana cara si bapak guru memotivasi dengan trik enggak biasa agar murid-muridnya SADAR bahwa mereka itu berharga. Marah dong diremehin, jangan malah meng-IYA-kan dengan merusak diri sendiri. Begitulah kira-kira yang ingin ditanamkan bapak guru. Sakuragi ini memang cerminan guru sejati yang sangat total. Salut.


3. NODAME CANTABILE

Ini drama yang lumayan kocak dibandingkan dua sebelumnya. Ceritanya tentang Chiaki yang pengin banget jadi konduktor sejak kecill -yang notabene nantinya mengharuskan dia pergi ke mana saja dengan pesawat- yang ngerasa stagnan karena cuma jadi pianis. Masalahnya "sepele" pula. Dia ini phobia karena saat kecil pernah ngalamin kejadian enggak menyenangkan saat pesawat landing. Saat tahu kejadian apa yang membuatnya seperti itu, saya terharu. Enggak nyangka aja sih Chiaki yang di luar jutek banget ngalah-ngalahin juteknya Rangga AADC bisa selembut itu hatinya. :)

Nodame sendiri bisa dibilang antitesisnya Chiaki. Meskipun cantik dan banyak yang naksir, tapii Nodame adalah tipe cewek yang asal-asalan dan... JOROK. Nodame juga semacam disorientasi. Padahal, dia ini pianis berbakat.

Terus, kok bisa Chiaki akhirnya naksir Nodame? (Ya, suka-suka penulisnya, sih. LOL.)

Perjalanan Chiaki dan Nodame dalam menggapai impian enggak semulus jalan tol. Mereka yang bertemu secara enggak sengaja -yang ternyata tetangga apartemen juga- harus berjuang melawan masalah masing-masing. Chiaki dengan phobianya dan Nodame dengan disorientasinya karena saat kecil pernah dibentak guru les piano. Apa iya cuma gara-gara phobia aja impian besar harus kandas. Dan apa iya hanya karena justifikasi orang lain di masa lugu, seseorang anggap dirinya bodoh untuk selamanya? Apa iya enggak rugi? Mental block harus dihancurkan jika ingin maju.


4. MEI'S BUTLER

Pernah bayangin ke sekolah naik helikopter? Xixixi. Kayaknya sih enggak. Di Mei's Butler, ada ituu dan... keanehan lain yang membuat kita komen "ngayal banget, sih,". Tapii, kocakk. Serius.

Mei yang sebenarnya anak orang kaya lahir dan besar dalam kondisi penuh kesederhanaan. Alasannya karena ayah Mei memilih "pergi" dari lingkungannya untuk menikah dengan gadis impiannya yang enggak lain adalah ibunya Mei. Meski hidup pas-pasan, mereka bertiga yang sehari-hari berjualan udon begitu bahagia. Keluarga Cemara bangetlah ya ibaratnya.

Hidup Mei yang awalnya biasa aja berubah drastis sejak kematian kedua orangtuanya. Kakek Mei yang hatinya mulai luluh mencari cucu satu-satunya yang notabene pewaris tunggal semuaa harta kekayaannya. Si kakek mengirim Mei ke sekolah para lady. Sia berharap banget setelah lulus dari sana Mei bisa jadi sebenar-benarnya lady dan bisa membawa diri di lingkungan pergaulan horaangg kayahh bangett. Weww.

Awalnya Mei ngerasa enggak nyaman dengan perubahan hidupnya. Dia kesal harus menuruti semuaa kata kakeknya. Dia kesal harus pindah sekolah ke tempat yang aneh. Dia juga stres karena di lingkungannya yang baru, dia enggak diterima. Ternyata kekayaan enggak bisa membeli kebahagiaan sejati, ya. Walaupun apa-apa emang butuh uang. :)

Mei sebenarnya tidak sendiri. Dia didampingi pelayan yang... diam-diam menyukai Mei. Dan, Mei pun sebenarnya suka. Pelayan Mei yang bernama Rihito ini adalah pelayan impian para lady. Sayangnya, justru si Mei yang dianggap enggak memenuhi kriteria sebagai lady alias dianggap kampung bangett yang malah dapat pelayan keren seperti Rihito. Makin kesal dong mereka. Makin pengin membuat hari-hari Mei di sekolah tsb seperti di neraka biar Mei enggak betah lalu cuz pergi.

Oh, iya, mengenai masalah pelayan, saya terangkan sedikit, ya. Jadi di drama ini tuh semua lady (yang masih calon) didampingi oleh pelayan. Satu lady, satu pelayan. Enggak sembarang pelayan, ya. Syarat jadi pelayan di sini harus cerdas, lulusan universitas begengsi, dan... good looking. Deuh, ini drama macam apa, sih. LOL.

Pesan yang ada pada drama ini adalah inner beauty itu penting. Sangat. Mei mungkin enggak secantik teman-temannya. Mei mungkin dianggap kampung. Tapi, ketulusan hati Mei justru mampu membuat dia menjadi lady sejati pada akhirnya.


5. GO BACK COUPLE

Menikah itu bukan akhir, tapi awal. Di perjalanan, bisa enggak meredam ego? Bisa enggak toleransi? Bisa enggak percaya total? Bisa enggak merasa enggak berkorban? Dann, pertanyaan lain yang serupa.

Cinta saja enggak cukup. Apalagi, enggak ada cinta. Ehh.

Seperti Jin Joo dan Ban Do. Awalnya saling mencintai. Awalnya segala macam pujian diberi. Tapii, rutinitas kemudian menjebak dan menggerus semuanya. Ego mulai mengambil alih dan mendominasi.

"Ngurus anak emang dah kewajiban lo kali!"
"Lo egois banget, ya. Gue capek. Jadi ibu rumah tangga itu enggak gampang,"
"Lo pikir jadi gue mudah?"

Ya, kira-kira begitulah awal mula konflik antara Jin Joo dan Ban Do kalau diterjemahkan ke bahasa Jakarta. Enggak ada lagi penghargaan terhadap pasangan. Dan, enggak ada lagi penghargaan terhadap diri sendiri. Padahal, dua hal itu penting.

Keputusan untuk bercerai kemudian membawa mereka ke masa lalu, masa ketika mereka masih bebas. Jangan tanya kenapa karena penulisnya penginnya gitu. Xixixi.

Lalu, apa setelah itu masalah terpecahkan? Enggak.

Mereka yang awalnya menganggap kembali ke masa lalu adalah sebuah anugerah lama-lama menganggap musibah. Mereka sama-sama rindu kehidupan sebagai suami istri. Rindu anak. Rindu keluarga utuh. Rindu kebersamaan sekaligus segala macam kerempongannya. Mereka ternyata masih sama-sama cinta walau awalnya memang sempat ada rasa penasaran bagaimana jika dulu memilih yang lain.

Jin Joo akhirnya sadar apa yang Ban Do lakukan selama ini adalah demi keluarga. Kerja keras, banting tulang, kuat ngadepin penjilat, dll. Semua itu enggak gampang. Pun Ban Do. Dia juga jadi tahu bahwa cara membahagiakan istri kadang-kadang begitu sederhana: cukup diberi perhatian.

Laki-laki dan wanita memang berbeda. Laki-laki merasa yang ia lakukan bisa membahagiakan wanitanya. Pun wanita. Dia merasa yang dilakukannya pasti bisa membahagiakan laki-lakinya. Padahal, dua-duanya sama-sama kecewa dan merasa enggak bahagia. Mereka mungkin lupa bertanya "gimana cara membuatmu bahagia?". Mereka berusaha membahagiakan dengan sudut pandang masing-masing tanpa peduli sudut pandang pasangannya. Ya, enggak akan ketemu sih sampai lebaran tahun depan juga. Xixixi.

Inti drama dari Korea ini kalau menurut saya adalah tentang... KOMUNIKASI. Coba dari awal duduk bersama, bicara dari hati ke hati. Moga-moga rutinitas enggak membuat kita dan pasangan lupa berkomunikasi yang melibatkan perasaan, yaa. Aamiin.


Tarikk napas panjang duluuu. Nahh, itu tadi kelima drama Asia Timur yang enggak bikin nangis jejeritan, tapi sarat makna versi saya. Adakah yang sama?


Sumber gambar:
https://sinastar.wordpress.com/2004/04/28/sinopsis-drama-mars-2004/
https://newpelangidrama.wordpress.com/2012/04/10/review-j-drama-dragon-zakura/
https://www.animenewsnetwork.com/encyclopedia/anime.php?id=7169
http://asianwiki.com/Mei%27s_Butler
http://asianwiki.com/Go_Back_Couple

  • Share:

You Might Also Like

9 comments

  1. Kisah Mei' Butler sepertinya menarik, pernah merasakan sebagai anak penjual udon, terus mendapatkan pelayan yang ehmm...

    Thanks for sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mendapatkan pelayan yang lebih cocok jadi suami
      Iya, Mb
      Adaptasi komik sih ini
      😁

      Delete
  2. Wah yang ini semua saya belum nonton. Biasanya memang cari reviewnya dulu di google. Pas banget dapat reviewnya di sini. Makasih ya.

    ReplyDelete
  3. film-filmnya menggoda, masuk list to watch ne..
    Sekarang masih nonton go back couple itu belum selesai

    ReplyDelete
  4. aku baru nonton go back couple. mau liat yg lainnya ah. makasi rekomennya

    ReplyDelete
  5. Engga tau semua hehe
    Tapi, saya suka banget kutipan yang diatas :
    "Semua orang yang sekarang sukses, dulunya pernah jadi pecundang, termasuk aku... gurumu... pengacara terkenal ini. Masalahnya, ketika jadi pecundang, kita mau berubah apa enggak. Semua tergantung diri kita sendiri. Jangan salahkan orang lain."
    It really hits me, ngga baper lagi kalo liat orang lain sukses wkwk

    ReplyDelete
  6. Halah MARS itu kamu banget. Hahaha... saking seringnya cerita sampek kalo liat MARS tu pasti inget miyosi 😂

    ReplyDelete
  7. Kak Miyosi review drakor whats wrong secretary kim donk hehe...

    ReplyDelete