19 Jenis Kepuasan Batin yang Menjadi Alasan untuk Ngeblog

By Miyosi Ariefiansyah - November 20, 2018

19 Jenis Kepuasan Batin yang Menjadi Alasan untuk Ngeblog

Sebagai wanita, jujur saja perasaan tidak nyaman itu selalu ada tiap kali mendengar atau membaca berita tentang pasutri yang awalnya adem ayem saat masa penuh perjuangan akhirnya memilih berpisah saat sudah berada di puncak kesuksesan. Sedihnya, alasannya hampir serupa: salah satu atau bahkan keduanyaa tergoda pihak ketiga. Yang membuat saya makin enggak habis pikir adalah si pihak ketiga kenapa TEGA? Apa dia enggak mikir gimana jika posisi dibalik? Lebih-lebih, jika yang digoda sudah punya anak. Alih-alih bilang cinta itu buta, apa dia benar-benar enggak memikirkan psikis anak-anak enggak berdosa tersebut? Ehm.... Ya, walaupun, Allah emang enggak tidur. Sudah ada begitu banyak bukti jika akhirnya yang dikhianati akan mendapatkan ganti yang jauh lebih baik sedangkan yang mengkhianati... ya, begitulah.

Pelajaran yang mungkin bisa kita ambil dari kasus-kasus seperti itu yang sedihnya sekarang ini makin banyak adalah... moga-moga kita selalu diberi kekuatan oleh Allah agar bisa menjaga keluarga dengan sebaik-baiknya. Allah sebaik-baik pelindung. Aamiin.

Semoga kita juga senantiasa ingat bahwa bahagia dan puas secara batin enggak harus dengan cara menghancurkan apa yang dimiliki orang lain. Ada begitu banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya. Banyakkk. Banyak banget.

Saya pribadi memilih menekuni hobi ngeblog sejak 2009 sebagai salah satu cara untuk mendapatkan kepuasan batin. Dan setelah saya jabarkan, ternyata cukup banyak juga lhoh manfaatnya.

Ada 19 jenis kepuasan batin yang menjadi alasan untuk ngeblog. Ehm... apa aja? Ini versi saya.

  1. Blog bisa jadi sarana untuk curhat. Yang namanya wanita, sependiam apa pun, pasti suka curhat. Bagi yang enggak terbiasa curhat sama manusia secara langsung entah karena alasan apa, blog bisa jadi tempat untuk curhat. Atau bagi yang suka curhat tapi masih pengin nambah sarana curhat, ya boleh banget sih ngeblog biar curhatannya ada yang nanggapi. Saya pun awal ngeblog, tahun 2009 silam, niatnya memang untuk curhat. Padahal sehari-hari, saya udah curhat dengan suami. Mungkin saya masuk dalam kategori yang kedua, ya. Hehehe. Blog pertama yang beralamat di mioariefiansyah.wordpress.com sudah saya hapus dengan alasan... malu aja sih kalau dibaca anak cucu. Edisi sok jaim ya gini. Hahah. Walau ada beberapa teman yang menyayangkan, tapi saya enggak menyesal karena semua postingan di blog tersebut sudah saya pindah ke ms word. Selain di blog mioariefiansyah, saya juga punya belasan blog (di wordpress, blogdetik, dagdigdug, blogetery, dll) dengan nama yang enggak bakal bisa dikenali teman-teman, kecuali bagi mereka yang benar-benar tahu gaya penulisan saya. Ada blog yang isinya khusus curhat masalah kerjaan, blog khusus ikhtiar hamil, blog selama di Balikpapan, dll yang intinya sebenarnya sama kok... CURHAT!! Hahahah. Kesemua blog saya tsb kini sudah saya "putusin" (tulisan udah dipindah ke ms word). Sekarang, blog saya ini saja. Entah, nanti. Ehhh. Jadi ya buat teman-teman yang sangat hobi curhat, sungkan mau curhat ke orang-orang karena khawatir mereka bakal ngantuk, teruss punya hobi nulis, kenapa enggak mulai curhat elegan di blog. Tahu kan kalau Raditya Dika awalnya curhat aja di blog, tapi kemudian curhatan dia bisa berfaedah (dibikin buku). Dan, enggak hanya dia aja yang "bernasib" seperti itu. 😁
  2. Blog untuk mengekspresikan perasaan. Marah dengan kondisi di luaran sana? Daripada ngamuk-ngamuk enggak jelas, mending ditulis aja di blog. Hasilnya? Legaa tanpa harus melukai orang lain. Atau, bahagia karena saudara menikah? Tulis aja rasa syukur bahagia tersebut di rumah pribadi alias blog. Yang namanya wanita itu ekspresif. Saya pun beberapa kali menuliskan hasil diskusi dengan teman di blog. Tengok saja postingan sebelum ini, misalnya. Jadi ya bagi teman-teman yang sangat ekspresif, tapi khawatir mengganggu orang lain atau males dianggep caper, tuangkan saja segala keekspresifan tsb di blog. Yukk.
  3. Blog sebagai sarana bicara sepuasnya melalui tulisan. Bagi beberapa orang, saya dikenal sebagai sosok yang pendiam. Padahal biasa-biasa aja sih, pendiam banget juga enggak tapi ramai sekali juga enggak. Di beberapa acara, saya biasa jadi MC atau moderator, yang artinya orangnya lumayan suka ngomong. Tapi, memang ada kalany saya terpaksa harus diam. Salah satu alasannya karena... lawan bicara enggak memberikan kesempatan untuk menanggapi. Baru juga buka mulut, ehh... lawan bicara udah ngomong lagi sepanjang jalan tol. Xixixi. Alhasil ya udahlah ya, saya ngalah aja alias jadi pendengar aja. Toh, malah dapat banyak ilmu. Nah, untuk menyalurkan apa yang udah penuh di kepala, saya ngeblog. Saya bisa bebas sepuasnya "ngomong" dengan cara enggak biasa. Ada yang bernasib sama?
  4. Blog melatih pemiliknya untuk berpendapat antimainstream yang sesuai dengan pikiran jujurnya, bukan sama dengan orang-orang di luaran sana. Semua orang boleh bilang Vic Zhou itu cakep, tapi buat kita dia biasa aja masih jauhh lebih cakep suami. Enggak usah takut di-bully netizen sih berpendapat antimainstream, toh kita bisa memaparkan alasannya di blog. Atauu, bagi orang-orang di luaran sana jadi ibu rumah tangga itu tragis, tapi bagi kita enak kok. Daripada perang urat saraf, kita bisa menuliskan pendapat antimainstream itu di blog. Ini yang saya lakukan. Coba tengok beberapa postingan saya yang berbau-bau gitu. Ada, kok.
  5. Blog sebagai rekam dan jejak digital. Ketika saya baca lagi tulisan-tulisan saya di blog lama yang udah dipindah ke ms word, batin saya seolah menjerit "dulu gini banget, yak". Di sisi lain, saya bersyukur pernah menuliskannya di blog dan ditanggapi orang-orang.
  6. Blog sebagai catatan berharga mengenai berbagai macam hal. Ketika ada yang bertanya tentang sesuatu, kita tinggal nyodorin aja link-nya. Seperti beberapa waktu yang lalu, salah satu teman pengin dimotivasi agar semangat lagi melakukan program hamil. Alhamdulillah, saya pernah menulis tentang perjuangan hamil di blog, jadi ya tinggal ngasih link-nya aja.
  7. Blog sebagai sarana ibadah, mendekatkan diri kepada Allah. Enggak berlebihan karena emang yang saya rasakan begitu. 2017 silam, saya banyak menulis di ummi-online. Tulisan-tulisan saya di sana berasal dari tulisan-tulisan di blog lama yang sudah saya daur ulang. Ada ratusan. Dan, saya enggak nyangka aja kalau tulisan-tulisan saya tsb banyak dicopas (sayangnya beberapa tanpa menyebutkan sumber) oleh website, instagram, fanpage, dijadikan kulwap, dan juga oleh perseorangan. Saya jadi "tertampar" untuk lebih baik lagi.
  8. Blog sebagai sarana nambah teman yang artinya nambah sudut pandang. Yupss, ngeblog rasanya kurang lengkap tanpa blogwalking alias BW. Dari kegiatan silaturahmi di dunia maya itulah kita dipertemukan dengan teman-teman yang berbeda sudut pandang dalam melihat masalah yang sama. Menyenangkan, ya.
  9. Blog sebagai sarana brainstorming sebelum menuis buku. Enggak tahu gimana cara memulai menulis naskah yang sedang digarap? Lemesin dengan ngeblog, Say. Terbukti banget sih kalau saya. 
  10. Blog sebagai sarana pelampiasan ketika writer's block. Enggak tahu mau nulis apa lagi biar halaman bisa genap 200? Xixixi. Writer's block, ya. Coba refreshing dulu dengan ngeblog. Manjur, kok. 
  11. Blog untuk merekap tulisan yang... banyak dicopas tanpa sumber. Jadi gini ya, cukup banyak tulisan-tulisan saya di ummi-online yang dicopas tanpa sumber oleh website lain, beberapa di antaranya bahkan untuk tujuan komersil. Nyesek banget. Di blog ini, saya pernah membahasnya juga. Monggo dicari kalau mau. Nahh, menyadari akan hal itu, maka saya pun berniat merekap tulisan-tulisan saya di beberapa website di blog pribadi ini. 
  12. Blog sebagai sarana toleransi. Apa hubungannya coba blog sama toleransi. Adaaa. Tujuan ngeblog tiap orang itu beda-beda. Ada yang memang untuk curhat saja, untuk ikut lomba, untuk mencatat materi kuliah, dll. Dari berbagai macam tujuan tsb, sebenarnya kita belajar untuk toleransi. Salah satuny, dengan enggak sembarangan berkomentar atau nge-judge, kalau kritik membangun tentu enggak masalah, ya.
  13. Blog sebagai sarana berbagi dan mendapatkan ilmu. Setiap dari kita pasti punya sesuatu yang bisa dibagi sereceh apa pun itu. Pun setiap dari kita kayaknya punya hal-hal sepele yang orang lain tahu tapi kita enggak ngerti. Blog bisa jadi sarana untuk kedua hal tsb: berbagi hal yang dianggap orang lain mungkin sepele tapi pasti ada aja yang butuh entah di bumi bagian mana dan mencari hal-hal yang juga dianggap banyak orang remeh banget tapi kita belum ngerti. Xixixi. Ya, kan. Ngaku, deh. Siapa yang suka googling hal-hal sepele yang belum dimengerti padahal teman-teman gaul dah pada ngerti, mau nanya mereka males dibilang dodol? Saya misalny, beberapa waktu yang lalu bela-belain googling kata "wagelaseh" itu apaa, dan sampailah di sebuah blog yang ngebahas itu sampai tuntas. Komen saya kemudian "eeaalaahh..." 😂🤣
  14. Blog adalah saksi bisu perjuangan. Saya selalu berkaca-kaca ketika membaca lagi tulisan di blog lama bertajuk "catatan bunda bahagia" tentang perjuangan hamil. Saya menuliskan surat ke anak saya yang waktu itu belum tahu kapan datangnya. Deuh, kalau ingat. 
  15. Blog sebagai sarana membebaskan diri. Bagi saya yang saat ini masih fokus menjadi penulis buku dan editor lepas sebuah penerbit, blog adalah sarana "membebaskan" diri. 
  16. Blog sebagai me time murah meriah. Anak tidur, pengin nulis naskah otak belum panas, ya sudah... ambil HP kemudian ngeblog. Jadilah postingan ini. Eh, iya 99,9% postingan-postingan saya di blog ditulis dari HP. Ngerasa lebih enak sih, metime-nya lebih nyess. Xixixi.
  17. Blog sebagai sarana eksistensi. Ini sudah dibuktikan oleh beberapa teman yang beralih profesi dari penulis buku ke blogger. Katanya sih enakan jadi blogger, enggak jauh beda sama artis. Xixixi. Ini subyektif ya tentunya. Bagi saya pribadi, blog emang bisa sebagai sarana eksistensi kok. Sederhana aja pembuktiannya. Kalau orang lain mengetikkan nama kita di google, maka akan muncul tulisan-tulisan di blog kita. Enak, kan. Jadi kalau ada yang nanya "kerjaan Lo apa?" coba aja jawab "silakan aja ketikkan namaku di google, udah ada sih di sana gimana" edisi songong dan riya wkkk
  18. Blog sebagai tempat mendulang ide kreatif. Mampet karena enggak ada ide? Ngeblog. Biasanya di tengah-tengah nulis, ide-ide serupa berdatangan tanpa diundang. Istilah lainnya "mbrudull". Cobain, deh.
  19. Blog untuk mendapatkan penghasilan. Ini udah dibuktikan oleh teman-teman saya yang beralih profesi menjadi blogger. Kalau saya pribadi sih belum terlalu. Palingan pernah juara ngablogburit 2011 & 2013 kala blogdetik masih ada dan pernah dapat job me-review website wanita serta yang saat ini masih on progress me-review produk kecantikan. Jujur, sih, sampai saya nulis sekarang ini, masih ada dua tanggungan naskah. Namun di 2019, saya memang punya rencana untuk fokus ke financial blogger. Entah gimana ntar lihat aja sih. Hehehe.
Setelah memaparkan dengan cukup singkat 19 jenis kepuasan batin yang menjadi alasan untuk ngeblog, mungkin pembaca yang enggak sengaja mampir ke sini dan belum terpikir untuk ngeblog ada yang tertarik mengikuti jejak?

Yuk, mari saling menyemangati dalam hal kebaikan. Mari melakukan hal-hal positif agar dunia damai dan sejuk, enggak ada yang tersakiti. Huehehehe.

Happy blogging!

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Waaah iya nyesek banget kalau tulisan kita dicopas tanpa izin, Mbak. Sulit dibendung juga sih yang kayak gitu di cyber world. Saya setuju kalau blogging dan blog walking bisa membuka mata akan adanya sudut pandang yang lain. Nice post :)

    ReplyDelete
  2. Masyaallah, banyak banget ya mbak manfaat dan kepuasan dari menulis di kg ini. Semoga apa yg kita tulis bermanfaat dan menjadi ladang amal yang mengalir pahalanya ya. aminnn...

    ReplyDelete
  3. Wkwkwk.. emang kamu tuh kayaknya puas bngt ya nulis yg ke 19 ini yos.. semoga luka batinnya terobati dengan menulis blog ya yos

    ReplyDelete
  4. Setuju mbak,, alasan-alasan asik ini yang selalu bikin aku happy nge-blog.

    ReplyDelete