Media Sosial Membantu Mengangkat Derajat Ibu Rumah Tangga? Coba Cek dengan 5 Bukti Ini!

By Miyosi Ariefiansyah - November 24, 2018

media sosial, ibu rumah tangga


Terlepas dari berbagai macam drama, perdebatan, nyinyir-nyinyiran, saling menuduh pura-pura bahagia, sampai penipuan, ngerasa enggak sih kalau sebenarnya media sosial selama ini tuh udah membantu mengangkat derajat ibu rumah tangga? Berlebihan, ya? Xixixi. 

Okelah. Mari kita buktikan. 😊

Enggak usah jauh-jauh 20 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu aja deh saat saya baru aja nikah, teman-teman berbondong-bondong nanya atau lebih tepatnya memastikan kalau saya enggak akan jadi ibu rumah tangga. Jangan salahkan mereka. Saya paham banget kenapa mereka begitu. Saya pun enggak bercita-cita jadi ibu rumah tangga karena toh jabatan itu kan emang otomatis sebenarnya. Otomatis disematkan ke wanita yang udah menikah. Walau praktiknya, istilah "ibu rumah tangga" sudah mengalami penyempitan makna, seperti yang saya rasakan kala itu. 😊

"Kamu enggak akan jadi ibu rumah tangga kan, Yos?"
"Eman, Yos. Gak jadi ibu RT (ibu rumah tangga), kan?"
"Jangan sampai deh jadi ibu RT. Udah kuliah susah-susah masa ujung-ujungnya cuma jadi ibu RT,"
"Kalau cuma jadi ibu rumah tangga, kita bakal diremehin,"
"Kasihan ortu sih kalau jadi ibu rumah tangga. Mereka nyekolahin enggak gampang,"
"Kamu jangan sampai mau lhoh ya kalau suami nyuruh kamu cuma jadi ibu RT. Lawan. Rugi kalau kuliah niat gitu,"
"Wes pokoke ibu RT itu pilihan terakhir,"
"Jangan sampai, deh,"
"Harus kerja sendiri. Jangan sampai jadi ibu RT. Nanti kalau ada apa-apa dengan pernikahan, kita bisa mandiri tanpa harus gantungin suami,"
"Laki-laki gak bakalan macem-macem kalau kita punya pegangan. Tapi kalau cuma jadi ibu RT, beuhh dia bakal aneh-aneh!"
"Kalau aku gak mau bergantung sama suami!"
"Aku sih emoh kalau cuma jadi ibu RT. Harus menghasilkan. Harus,"
"Aku gak mau kayak mamaku yang cuma jadi ibu rumah tangga?"
Dll

Sampai sini, tolong pembaca jangan baper, ya. Hehe.

Intinya, 10 tahun yang lalu, IBU RUMAH TANGGA dianggap enggak banget, kuper, gaulnya sama panci, enggak update ilmu, terpuruk, bergantung sama suami, bisa dipermainkan dengan mudah, enggak ngerti apa-apa, dan yang serupa.

Maka enggak heran, siapa pun yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga kala itu pasti langsung dicap... ehm... semacam... manusia GAGAL. Apalagi, kalau di sekolah atau kuliah, dia termasuk kelompok yang diperhitungkan.

Sampai sini lagi-lagi pembaca jangan baperr. Emang seperti inilah adanya. Duluuu. Ya, duluu, ketika media sosial belum ada. Ketika segala jenis akun lambe-lambean belum jadi salah satu sarana metime-nya orang-orang. Hehehe.

Saya pun ketiban efeknya. Ketika menikah muda (usia 21 tahun) selepas wisuda dan menjadi ibu rumah tangga, saya langsung jadi... katakanlah trending topic tingkat... RW atau kayaknya kelurahan eh apa kecamatan, ya. Yawes, intinya jadi bahan gosip mereka yang mengenal saya. 

"MIYOSI jadi ibu rumah tangga ya sekarang? Apa?? Serius??" pose syokk zoom in zoom out seolah dapat cobaan dan ujian hidup yang berat banget.

Sebenarnya, hal tersebut justru menjadi pelecut buat saya. Saya enggak menyalahkan mereka. Toh, hubungan kami baik-baik aja sampai saat ini. Saya anggapnya sih mereka belum tahu rencana-rencana saya jadi ya wajar kalau cuma lihat dari sudut pandang masing-masing. (Beuh, sekarang aja ngomong sok bijak gini, ya. Padahal duluuu, baper, dramaa, dan jejeritannya setengah mati. Wkkk)

Itu cerita masa lalu ketika media sosial belum ada. Ketika akun lambe-lambean belum mewarnai hari-harinya orang-orang. 

Hingga kemudian....

Semua anggapan "menyedihkan" tentang ibu rumah tangga perlahan pudar ketika media sosial datang. Saya termasuk salah satu di antara sekian banyak ibu rumah tangga yang merasakan efeknya. 

Pertama, media sosial membantu ibu rumah tangga bekerja dengan cara yang berbeda.
Dulu, bekerja HARUS banget ke kantor atau ke suatu tempat yang intinya di luar rumah. Dulu, bekerja identik dengan pergi dari rumah (tapi bukan minggat, ya). Setelah ada media sosial, istilah pekerja remote atau pekerja jarak jauh mulai dikenal. Siapa pun bisa, termasuk ibu rumah tangga. Mengajar bisa lewat WA atau aplikasi mengajar online. Lowongan sebagai penulis konten di berbagai macam website menjamur. Bahkan, akuntan pun (saya jurusan Akuntansi), kini bisa juga via online. Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

Kedua, media sosial membantu ibu rumah tangga belajar dengan cara yang enggak biasa.
Siapa yang enggak mudeng dengan istilah Kulwap? Kayaknya jarang, deh. Jika dulu ibu rumah tangga kerap dituduh enggak ngerti apa-apa karena enggak update ilmu, maka kini semua anggapan itu SALAH. Ibu rumah tangga bisa belajar apa pun dan di mana pun yang ia suka via online. Bahkan kalau mau, ibu rumah tangga bisa kuliah online di universitas yang ada di luar negeri. Coursera, misalnya. Coba aja googling kata kunci tsb.

Ketiga, media sosial membantu ibu rumah tangga "menyembuhkan" luka-lukanya.
Entah mengapa ibu rumah tangga juga kerap identik dengan wanita yang suka marah-marah karena stres. Sekarang, alhamdulillah ada begitu banyak grup atau kelas semacam soul healing untuk ibu rumah tangga. Output-nya pengin menjadikan ibu rumah tangga sebagai ibu yang bahagia... paling bahagia di dunia. Sebab, kebahagiaan ibu bisa memengaruhi kebahagiaan keluarga. Katanya kan gitu. Semua itu bisa dijangkau dengan mudah sejak adanya sosial media.

Keempat, media sosial membantu ibu rumah tangga membuktikan bahwa dia tidak berjuang sendiri
Kadang, kita merasa sendirian karena semuaa orang sekampung sudah mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tsb. Kadang, perasaan "kok cuma aku aja, sih" itu hadir. Wajar, ya. Beruntung, media sosial membantu menyadarkan bahwa dunia enggak sesempit kampung atau lingkungan pergaulan kita. Haii, ternyata ada banyak yang mengalami ujian seperti kita. Cuma enggak sekampung aja, sih. Kita enggak pernah sendiri. Enggak pernah. Selalu ada yang senasib. Pasti.

Kelima, media sosial membantu ibu rumah tangga meningkatkan kepercayaan dirinya.
Yang dulu malu-malu mauu, sekarang bisa lebih percaya diri atau ekspresif. Bahkan, kadang semacam kelewatan gituu. Xixixi. Pernah syok melihat teman yang dulu pendiam bangett ngomong setahun sekali belum tentu, tapi sekarang ceriwisnya minta ampun sampai bikin orang lain ngantuk dan mumet bahkan muntah? Kok bisa berubah drastis gitu, ya. Bisaa jadi aslinya emang yang kedua. Hanya saja, dulu yang berangkutan ngerasa minder atau apalah karena suatu hal. Dan, media sosial membantu mengembalikan jati dirinya.


Mungkin, sedikit berlebihan memang jika dikatakan bahwa media sosial membantu meningkatkan derajat ibu rumah tangga. Karena sejatinya, kalau bertanya pada hati nuranii, siapa pun setuju bahwa ibu rumah tangga sudah mulia jadi enggak perlu "diangkat" segala. Tapi yang jelas, media sosial membuat ibu rumah tangga jadi sosok yang berbeda. Menurut Bunda?


  • Share:

You Might Also Like

16 comments

  1. Nah.. ada juga nie mbak.. di Social media doank percaya dirinya. Dulu ada yang saya kenal ditwitter gtu. Beuh pas ditwitter luar biasa lantang. (Sok) asik.. saya pikir asik beneran donk, pas ketemu saya seperti biasanya.. sok kenal sok sok dekat , eh ternyata dianya diaaam.. nunduk terus, kayak grogi gitu. Lah sayanya jadi krik..krik..krik.. 😩😩😩

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini
      Bener bangettt
      Ngebuktiin juga di medsos galaknya minta ampun, giliran diajak ketemu diem kalem
      Semacam embuh

      Delete
  2. Waaah inspiratif banget mbak....ibu rumah tangga harus baca ini mbak agar mereka tidak merasa menjadi pribadi yg terendah karena statusnya ini....ya media sosial membuat seorang ibu rumah tangga bangkit dan selangkah lebih maju asal ia bijak menggunakan media sosial itu kan....semoga kita termasuk didalamnya....

    ReplyDelete
  3. Selama yang di follow akun2 yang membangun sih sebenarnya banyak positifnya yaaa... Salah2 malah jadi banyak mompetition hihihi

    ReplyDelete
  4. setuju dengan tulisannya….semoga saja begitu….siip.

    thank you for sharing

    ReplyDelete
  5. Manfaat medsos sebenarnya sudah dirasakan, hanya butuh untuk dioptimalkan biar jadinya ga cuma buang2 waktu dan energi..artikel yang menarik mbak..terina kasih telah berbagi

    ReplyDelete
  6. Wah ibu rumah tangga produktif sekali dan setuju media sosial itu mengangkat derajat iRT huhuhu,dukung jadi presiden irt :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini nih salah satu contoh ibu TIGA anak tanpa art yg produktif

      Delete
  7. iya. medsos yg dijadiin sarana kreativitas bisa menambah value seseorang

    ReplyDelete
  8. kusuka tulisan ni, renyah semacem krupuk baru diangkat dari wajan yg minyaknya masih panas, wkwkwk. Bener bgt miy, ga berlebihan kl disebut mengangkat derajat, nyatanya memang membantu selama circlenya positif^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkkk
      Tenga jg makk udh nyeret aku ke dunia blog lg y
      Makasih buanyakk
      Dan bener kata nyak prita... manfaatny dah krasaa

      Delete