Hari ke-204: Apakah Jepang Aman untuk Wanita?

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - July 22, 2020

Beberapa kali teman saya komen, "Sepi amat? Awas ada garong, Mio," dan semacamnya saat saya share foto yang rata-rata pas kondisi sepi/di tempat sepi. Soalnya kalau banyak orang, saya sungkan mau foto-foto. :D



Teman lain bertanya apa Jepang aman buat wanita? Mungkin karena dia sering melihat saya (melalui status juga) pergi sendiri enggak cuma ke yang dekat-dekat aja, tapi juga ke yang jauhh.

Sebelum ke sini, saya sudah sering baca bahwa Jepang adalah salah satu negara teraman dan ternyaman dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah. Masih jauhh lebih banyak berita bunuh diri ketimbang berita pembunuhan. Seperti itu kira-kira artikel di media online yang saya baca kala itu.

Meski demikian, bukan berarti saya sembrono. Menurut hemat saya, di mana pun itu kita harus waspada. Enggak boleh lengah sedikit pun. :)

Pengalaman tiap orang bisa berbeda, tapi sejauh ini yang saya alami alhamdulillah yang positif-positif saja (semoga seterusnya, aamiin). Pergi malam misal ke mana sendiri, alhamdulillah aman. Di transportasi publik pun entah itu bus atau kereta, aman-aman aja. Palingan rada risih kalau penuh. Tapi selebihnya, Alhamdulillah aman.

Mas-mas nongkrong seperti mencari mangsa kemudian melakukan perbuatan enggak sopan meski hanya panggilan iseng? Enggak ada. Semuanya mobile, belum pernah nemu anak-anak muda pada nongkrong di pinggir jalan kemudian ketika ada cewek lewat digodain.

Bisa dibilang, saya seolah seperti kesempatan mumpung di sini bisa pergi sesuka hati tanpa harus khawatir masalah keamanan (tapi tetap harus waspada), jadi rugi banget kalau enggak sering ngeluyur sendiri. Eehh, ini pemikiran macam apa. Untung bukan siapa-siapa jadi enggak bakal di-bully atau at least viral wkkk. Tentu, syarat dan ketentuan berlaku y pastiny dalam konteks ini secara kan pandemi. Bisa dinalar sendiri, sih. :D

Ehm, kadang saya membatin, orang-orang yang lahir besar dan tinggal di sini seolah mendapat privilege masalah keamanan, ya. Lha wong mereka bisa pergi ke mana aja kapan aja sesuka hati tanpa rasa was-was. 
Bertemu anak sekolah yang mau pulang di Stasiun Akihabara. Tidak dijemput, tapi pulang sendiri. Enak deh emaknya bisa ngerjain yang lain. Tapi kalau kondisi enggak aman, saya pun sebagai ibu enggak bakal bisa setenang ibu-ibu di sini.
Saya kerap mendapati anak-anak kecil malam-malam ke luar sendiri, ke taman. Atau, anak sekolah menyeberang sendiri. Aman-aman aja. Ehm... :)

Bahkan saat Senin kemarin saya sempat istirahat sebentar di Shinjuku Central Park, saya lihat sendiri anak laki-laki usia tiga tahun ditinggal ibunya. Mungkin, si ibu kesal karena anaknya enggak mau pulang. Beberapa saat setelah ibuny menghilang, si anak menangis. Orang-orang kilar-kilir cuek. Saya yang melihat dari jauh mulai khawatir. Gimana kalau si ibu benar-benar ninggalin. Ingin menolong, tapi takut disangka menculik. Alhasil, saya cuma lihat dari jauh, mengamati. Bersyukur setengah jam kemudian, orang yang sama datang mendekati anak tsb kemudian menggendongnya. Si anak auto diam dan memeluk ibunya. Hati saya ikut lega. :) 

Jadi, apakah Jepang aman untuk wanita? Sejauh ini dari mata subyektif saya jawabannya adalah iya. Enggak hanya aman untuk wanita, tapi semuanya. Semoga masalah keamanan ini bisa nular ke negara-negara lain yang saat ini belum aman, ya. Aamiin. :)

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)