Seperti Apa Rasanya Rumah Tidak Dihuni 6 Tahun?

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - March 07, 2019


Adakah yang punya pengalaman meninggalkan rumah sendiri selama bertahun-tahun? Bukan karena minggat, tapi alasan lainnya. Seperti apa rasanya? Padahal, rumah tersebut kalian dapatkan dengan penuh perjuangan.

Kalau ada, berarti saya tidak sendiri. Seperti apa kisah kalian? Saya, seperti ini. Samakah?


Oktober, 2012

Rumah mungil itu siap dihuni. Setelah mengontrak selama kurang lebih 3,5 tahun, kami akhirnya bisa pindah ke rumah sendiri. Ya, rumah yang kami beli secara kredit (tapi alhamdulillah sekarang sudah lunas) di tahun kedua pernikahan akan segera kami tempati.

Saya masih ingat kalau pindahannya cukup sederhana, enggak sampai menghebohkan orang-orang sekampung atau saudara. Ya, mau gimana, kami berada di perantauan kala itu. Cukuplah dengan menggunakan sepeda motor saja bolak-balik. Alhamdulillah, antara (mantan) rumah kontrakan dengan rumah sendiri hanya beda cluster. Jadi ya berdua aja sanggup. Lebih-lebih, anak memang belum ada. Ya sudah kan, apa pun ditanggung berdua, termasuk... pindahan.

Jujur, sebenarnya beraatt meninggalkan rumah kontrakan yang penghuni tetapnya sudah lumayan akrab dengan kami. Tapi mau gimana lagi, di sisi lain, kami juga pengin tidur di rumah sendiri. Meski belinya di awal 2010, kala masih belum dibangun, tapi baru bisa benar-benar ditempati 2 tahun kemudian. Dan kami, bisa dikatakan termasuk penghuni pertama.


Oktober - Desember 2012

Alhamdulillah, sebagai penghuni baru, saya langsung akrab dengan penghuni lainnya. Bisa jadi, karena kami masih sama-sama baru. Jadi, enggak ada canggung. Bisa juga, karena kami sama-sama dalam usia ibu muda meskipun kala itu saya belum jadi ibu. Kami kerap nggowes bareng dari rumah ke pasar modern. Sebelum akhirnya saya bersolo karier karena tetangga saya yang hobi masak tersebut hamil anak kedua.


Akhir Desember 2012

Berita itu datang tiba-tiba. Ya, pengumuman OJT (On The Job Training) di tempat suami kerja yang sekarang. Di awal 2012 sampai pertengahan, suami memang mengikuti tes kerja di suatu tempat. Alhamdulillah, diterima. Semoga Allah melancarkan segala niat baik dan misi muliamu, Mas.

Kerjaan suami di tempat baru beda dengan sebelumnya. Jika di tempat kerja yang pertama, suami ya di situ-situ aja alias enggak mungkin di mutasi alias cuma seputaran rumah kantor rumah kantor saja, di tempat kerja kedua (yang sampai sekarang dijalani) jauh berbeda. Suami harus siap dimutasi 3 - 4 tahun sekali seperti sekarang ini. Jadi ya saat tahu suami OJT di pulau seberang alias Lampung, ya sudah... kami harus menjalaninya dengan gembira.

Tahu gitu enggak usah beli rumah. Nope. Kami memiliki pandangan yang sama bahwa investasi properti enggak pernah rugi daripada uangnya "melayang" ke mana-mana enggak jelas. Selain itu, harga properti dari tahun ke tahun hampir dipastikan naik. Persentasi kenaikannya enggak sebanding dengan persentasi kenaikan gaji. Ya, kan. Sama-sama lulusan akuntansi detected. LOL. Mengenai kenapa lokasinya di situ, ya karena kami sudah cukup nyaman dengan "hawa"nya. Enggak terlalu panas dan bebas banjir adalah beberapa kelebihannya. Mengontrak di daerah yang sama dengan tempat tinggal lebih dari dua tahun cukuplah ya buat mengamati. Alhasil, ketika pihak perumahan membuka cluster baru, kami yang saat itu masih "ngos-ngosan" sebagai pengantin baru yang nikah muda memberanikan diri untuk membeli.

Akhir 2012, gak lama setelah pengumuman OJT, kami meninggalkan rumah tersebut. Dengan harapan, suami ditempatkan di ibu kota selesai OJT nanti. Toh, banyak kan yang gitu. Jadi enggak salah kalau kami ngaarepp. Antara tanggal pengumuman dengan pelaksanaan OJT juga sangat cepat. Hari ini pengumuman, lusa sudah harus masuk di tempat OJT. Jadi kebayang enggak bisa persiapan ini itu selayaknya orang normal, misal mindahin barang-barang atau ngontrakin, atau nunggu sampai orang ngontrak, atau semacamnya. Enggak seidealis di sinetron-sinetron pokoknya. Semua terjadi tiba-tiba. ๐Ÿ˜Š

Jujur, sebenarnya, suami OJT di Lampung ini membuat saya lega karena dia enggak harus tiap hari rumah - Jakarta yang jaraknya jauh. Lokasi rumah kami di Cikarang Pusat sedangkan lokasi pendidikan di Jakarta Pusat. Sebagai istri, jujur saya kasihan (dalam hati). Semoga perjuangan tulus ikhlasmu berbuah surga. Ya walaupun dalam hati saya tahu, yang begini (yang berangkat sebelum subuh dan subuhan di jalan biar enggak terjebak macet dan yang pulang sampai rumah jam 10-an malam) enggak suami saya aja.


2018, Kali Pertama Ke Rumah Lagi

Berharap ditempatkan di Jakarta, ternyata malah jauh dari bayangan. Suami ditempatkan di Balikpapan. Sebuah kota yang setelah menjalani sebagai pendatang membuat saya sangat nyaman. Kalau enggak salah, suami hanya dua kali nengok rumah (buat bersih-bersih) pas dia dinas luar ke ibu kota.

Saya? Baru September 2018 kemarin saat suami ada kegiatan di Jakarta. Cukup lama, 2 minggu. Maka, momen tersebut kami manfaatkan untuk menyambangi rumah di hari Minggunya.

Seperti apa "penampakannya"? Seperti ini...

Deltamas dilihat dari dalam taksi, siang hari. Dulu sering nggowes sampai sini. Dokpri.

Pintu masuk menuju cluster kami. Dulu ada jalan tembusan, tapi sekarang beda. Alhasil, kami muter. Dokpri.

Sudah begitu berubah. Dulu pas awal menghuni belum ada cctv. Dokpri

Rumah mungil kami tampak depan. Di halaman, ada buah mangga. Biasanya dipanen paratetangga. Halaman depan kerap buat nongkrong juga, hehehe. Dokpri.

Dulu, enggak seperti ini. Duluu, terawat bangett. Dokpri.
Jalan depan rumah, dokpri.

Bisa untuk parkir mobil. Ada kanopinya juga. Enggak khawatir kehujanan. Dokpri.

Rencananya, kami memang mau ngontrakin sebelum pada akhirnya kami jual (tapi enggak dalam waktu dekat). Jadi, buat teman-teman yang pengin/butuh kontrakan sekitar Cikarang Pusat, silakan menghubungi saya via email (yang sudah terpampang di bagian profil). Di dalam, mayoritas barangnya adalah buku karena kami berdua sama-sama pecinta buku. Soal harga bisa dinego alias bersahabat.

Oh iya, saat kami menyambangi kemarin, tetangga yang dulu selalu nggowes sama saya masih ingat. Alhamdulillah. Ya, memang kami masih komunikasi sih lewat WA walaupun enggak intens. Kami sempat mampir dan ngobrol sebentar dengan ibunya tetangga saya tersebut karena tetangga sedang pergi mempersiapkan umroh. Senang rasanya bisa cerita banyak hal. Senang bisa temu kangen. Alhamdulillah.

Kalau cerita kalian sendiri gimana? Adakah yang mengalami seperti saya? Mau juga dong dibagi pengalamannya. Heheh.

  • Share:

You Might Also Like

18 comments

  1. Mba aq scroll kebawah penasaran sama dalemnya hehe...
    Mau dikontrkin toh, kirain mba miyo mau balik tinggal di bekasi :)

    ReplyDelete
  2. Wooo tak kira mau diliatin dalemannya, penisirin aku..
    Aku dah punya rumah sih yos, apa ntar klo mas Luk dapet rejeki tiba2 tak beli haha.. ngayal

    ReplyDelete
  3. Saya, saya mbak ... rumah udah disiapkan. Eh, suami ketrima pendidikan spesialis di kota lain. alhasil skrg merantau dulu deh hihihi. Kita jalani saja skenarioNya bagaimana, pasti indah pada waktuNya ya mbak. Btw lingkungan rumahnya asri :)

    ReplyDelete
  4. Kalau suami kerja pindah pindah itu rasanya capek ya mba ngikuti geraknya. Sayang rumah yang ada harus dijual lagi.
    Semoga cepat laku rumahnya

    ReplyDelete
  5. lama banget itu rumah enggak ditempatin, enggak ada yang aneh kan mba pas masuk *nyari apa dah, kek lagi uji nyali, wkwkwk. duh kebayang repot pasti beberesnya karena pasti banyak debu itu rumah. Masyaallah, kontrakin aja bun, mayan kan nambah2 duit *lah hehe

    ReplyDelete
  6. Semoga cepet ada yang mau ngontrak ya Mbak biar terawat lagi rumahnya :)

    ReplyDelete
  7. Oalah mbak lama banget yah ga ditempatinnya. Aku masih jadi kontraktor mbak sama suami. Aku memang sengaja ga mau ambil KPR mba riba hehe. Jadi ya sedikasihnya sama Allah aja rumahnya hehe

    ReplyDelete
  8. Saya masih kontraktor di Malang ni mba.. Dulu tinggal d Rawamangun Jakarta๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  9. Wah di Deltamas nih mba. Saya tinggal di Cikarang di Lippo. Rumah ditinggalkan lama suka lembap bukan si mba?

    ReplyDelete
  10. hai mbak, aku dulu alumni jababeka, tetangganya deltamas. Kadang ngerasa sayang gak siy mbak membiarkan rumah jadi kosong gitu? karena biasanya jadi banyak yang rusak

    ReplyDelete
  11. Masya Allah, suka dengan rumahnya, adem. Saya selalu suka dengan rumah yang banyak pohonnya. Dulu, waktu kecil saya suka membayangkan punya rumah pohon sendiri. Hehehe.

    ReplyDelete
  12. Wah.. 6 tahun. Waktu yg lama ya mbak. Saya punya pengalaman yang mirip. Rumah pribadi telag kami tinggalkan selama 2 th ini krn suami mutasi kerja di kota yang berbeda..dan saya serta anak2 ikut serta. Alhamdulillah saat ini rumah tetap dijaga dan dirawat oleh tetangga yang kami percaya. Rasanya sayaang dengan rumah ini..krn banyak kenangan dan pengorbanan kita saat membangunnya ya mbak. Sampai2 anak saya pernag bilang..kalo sebuah rumah bisa diangkat dan dipindahkan..dia ingin rumah lama kami bisa diangkat dan dipindahkan persis ke rumah baru skr hihihi๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

    ReplyDelete
  13. Enam tahun enggak dihuni, ada kah yang dipasrahin bersih2 rumah mbak?
    Eman khawatir rumahnya banyak yg bocor.
    Daerah Delta Mas kapan hari pernah ada lomba blog-nya.
    Daerah mbak kah itu?

    ReplyDelete
  14. saya jadi inget waktu pertama kali ke Bogor. rumah suami ditinggal 8 bulan. itu kondisinya udah wow banget. apalagi rumah mbak yang nggak dihuni selama 6 tahun. bombastis pastinya. wkwkwk

    ReplyDelete
  15. Sayang sih sebenarnya klu rumsh dianggurun gk ada yg nempati. Biasanya dibersihkn trus kosong jd gimana y? Mnding dikontrakin aja buat invest sp thu mb balik lg k Cikarang kelak...saran sih hihi

    ReplyDelete
  16. Enak ya mbak klu udah punya rumah sendiri cuma yang nggak enaknya itu kalau nggak bisa ditempati karena satu dan lain hal. Dan itu juga saya alami. Sebelum nikah, suami udah beli rumah sendiri tapi qadarullaah setelah nikah ini rumahnya masih belum bisa ditempati karena alasan yang kurang lebih sama seperti mbak. Suami dipindah tugaskerja di daerah lain jadi yah mau nggak mau rumahnya masih belum bisa ditempati. Rencananya juga mau dikontrakkan aja.

    ReplyDelete
  17. 6 tahun, lumayan waktu yang lama semoga bisa segera dapet yang mau ngontrak ya mbak
    Biasanya rumah yang gak ditempatin itu cepat banget rusak, seperti punya saya dulu juga seperti itu lama kosong jadi cepat rusak

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)