Yakin akan Meneruskan Hubungan jika Keluarga Calon Pasanganmu Berkata seperti Ini? Hati-Hati jadi Bumerang di Kemudian Hari

By Miyosi Ariefiansyah - October 20, 2018

Yakin akan Meneruskan Hubungan jika Keluarga Calon Pasanganmu Berkata seperti Ini? Hati-Hati jadi Bumerang di Kemudian Hari


"CERAI?! Heh? Aku gak salah baca, kan?"
"Iya, cerai. Doakan, ya,"
"Ehm... sorry. Apa Mas Nganu selingkuh? KDRT? Kelainan?"
"Enggak. Dia normal. Mas Nganu laki-laki yang sangat baik yang pernah kukenal,"
"Lha, terus? Kalian udah punya anak,"
"Justru karena itu, aku gak mau anakku 'sakit' jiwanya,"
"Terus?"
"Kompleks. Cerai jalan satu-satunya,"
"Aku gak bisa sok nyeramahin atau nasihatin karena kamu yang ngerasain. Cuma bisa doain aja dan maaf kalau aku syok"
"Gak apa-apa. Wajar. Doain, ya,"

Kaget. Itu yang saya rasakan saat ngobrol dengan salah satu teman di WA beberapa waktu yang lalu. Dia yang panutan bangett (cantik, baik, karier oke, anak sehat, suami mapan dan sangat cinta) tiba-tiba memutuskan untuk menggugat cerai laki-laki yang sudah dinikahi 9 tahun. Makin sedih pastinya ketika tahu bahwa penyebab keretakan rumah tanggany bukan karena orang ketiga, KDRT, atau hal lain yang sangat beralasan banget kalau minta cerai. Bukan. Bukan karena itu. Tapi, hal "sepele". Teman saya, yang sudah mengizinkan kisahny dibagi sedikit di postingan ini sebagai pembuka, masih sakit hati dengan sikap keluarga suaminya jauh sebelum mereka menikah.

Ah, jadi hanya karena itu? Egois. Wanita enggak tahu rasa syukur. Pendendam.

Mungkin, akan ada orang-orang yang berkomentar demikian ketika tahu. Orang-orang yang dengan mudah sekali menjustifikasi, tapi bila diberi beban serupa belum tentu sanggup. Saya? Saya memilih mendoakan yang terbaik. Saya yakin di setiap kejadian ada hikmah luar biasa.

Sebenarnya, kisah teman saya tadi bukan satu-satunya di dunia ini. Tidak sedikit orang yang saya kenal baikk yang bercerai dengan pasangannya "hanya" karena dia masih belum menerima perlakuan kurang menyenangkan dari keluarga calon pasangan di awal kenal. Entah apa karena perlakuan kurang sreg tadi diterima saat masih polos dan lugu sehingga begitu membekas atau karena hal lain. Yang jelas, hal itu ternyata bisa menjadi bumerang di kemudian hari.

Saya sendiri santai-santai aja dengan ipar dan mertua. Saya bersyukur latar belakang keluarga suami yang dari berbagai suku plus sekarang ini saya punya ipar lagi (suaminya adek ipar saya) yang asli Taiwan yang itu artinya gak cuma sekadar beda suku tapi juga beda negara (tapi seagama) membuat "iklim" di keluarga kami moderat, dalam artian apa-apa enggak dibawa ribet. Pun saya juga sangat bersyukur memiliki orang tua yang berpikiran terbuka, salah satunya mengizinkan anaknya menikah dengan orang yang memiliki suku berbeda. Bukannya apa-apa, cukup banyak teman saya yang gagal menikah karena urusan ini, ortunya enggak setuju karena beda suku. Padahal saat lahir, kita enggak tahu mau jadi orang mana.

Rieweuhh? Ya, emang nikah itu sejatinya enggak cuma urusan dua orang, tapi dua keluarga. Makanya, buat kamu yang belum menikah, sebaiknya telitii lagi. Apa kamu benar-benar mencintai pasanganmu? Yakin akan menerima segala kekurangannya, termasuk mungkin sikap kurang sreg yang berasal dari keluarga calon pasanganmu? Jika jawabannya enggak alias kamu pernah tersinggung dengan kata-kata keluarga calon pasanganmu yang menurutmu enggak menghargai banget (walau mungkin maksudnya enggak seperti yang kamu bayangkan), ya hati-hati aja sih karena itu bisa jadi pengganjal kebahagiaanmu dengan pasangan ketika sudah menikah nanti. Bahkan, bisa berakibat fatal yaitu CERAI. Tapi kalau jawabannya apa pun yang terjadi selama masalah bukan dari calon pasanganmu, kamu menerima dengan legowo, ya udah sih ya berarti enggak ada masalah.

Lalu, apa aja sih sikap-sikap dari keluarga calon pasangan yang bisa jadi bumerang atau mungkin sebagai tanda bahwa mereka sebenarnya enggak setuju denganmu? Setidaknya dengan mengetahuinya kamu bisa meyakinkan dirimu sendiri untuk terus atau enggak. Ini di antaranya:

1. Mengatakan kalau kamu itu BERUNTUNG tidak hanya sekali, tapi berkali-kali
Sebuah hubungan harus didasari dengan sikap saling menghargai. Kalau yang satu merasa lebih tinggi meskipun itu bukan dari pasanganmu, ya lama-lama eneg juga. Yakin akan kamu teruskan? Yakin kamu siap dianggap wanita berutung karena sudah dipilih calon pasanganmu? Padahal, kalau saling menghargai seharusny bukan kamu saja yang disuruh bersyukur karena beruntung, melainkan juga pasanganmu. Yakin kamu enggak baper? Kalau yakin ya monggo aja. Tapi kalau ternyata sikap mereka yang menganggap kamu beruntung itu malah bikin inferior atau sakit hati, itu artinya kamu mesti pikir-pikir lagi untuk meneruskan hubungan.

2. Mengatakan bahwa mantan-mantannya calon pasanganmu itu anaknya orang hebat atau mereka juga hebat
Siapa pun tidak mau dibandingkan, termasuk kamu. Manusiawi sekali. Kamu enggak salah. Apalagi jika sudah melakukan yang terrbaik, tapi masih saja dibandingkan. Ya, sudah. Mungkin, itu sinyal kalau keluarga calon pasanganmu menerimamu karena terpaksa. Kalau mau tetap lanjut ya silakan. Keputusan ada padamu.

3. Mengatakan kalau kamu yang ngebet
Hubungan dua insan logikanya adalah karena kesepakatan berdua. Bukan yang satuny maksa, satuny pasrah. Itu sih dodol banget. Lha emang gak bisa nolak? Kan udah dewasa. Itu sebabny mengatakan kalau kamulah yang ngebet atau ngejar-ngejar sebenarnya enggak tepat. Jika pihak dari pasanganmu mengatakannya padamu dan harga dirimu enggak merasa dilukai, ya sudah. Orang lain bisa apa. Heheh.

Ada yang mau menambahkan?

Yang jelas, di awal kamu harus jujur pada diri sendiri. Kalau sekiranya kamu enggak bisa menerima kekurangan dari pihak pasanganmu yang omongannya pedes dan nusuk, ya buat apa lanjut. Atauu, kamunya cinta mati, tapi semua keluarga pasanganmu menunjukkan tanda-tanda ketidaksukaan, ya sebaiknya pikir lagi deh ya. Demi kesehatan jiwamu, jiwa anak-anakmu di masa depan. Mungkin kalian memang sama-sama baik, tapi itu aja enggak cukup.

Selamat memilih dan merenung. Semoga bahagia selalu.

Referensi:
Buku NIKAH MUDA NGGAK BIKIN MATI GAYA karya Miyosi Ariefiansyah dan Aprilina Prastari terbitan Bhuana Ilmu Populer tahun 2013.

(Postingan ini diikutkan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community)

  • Share:

You Might Also Like

26 comments

  1. Sedih mba, banyak temen seperti itu, tapi hanya wanita hebat yang bisa bertahan, eg... buktinya ada. Selalu bersyukur dengan mengatakan bahwa suaminya adalah dari Allah, dan jika kelengkapannya (keluarganya) demikian, itu artinya sudah yg terbaik Allah memberikannya untuk dia. Tapi yang pasti jangan sampai kita wanita dan sebagai ibu di rumah mengatakan cerai pada suami yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, semoga keluarga kita selalu dijaga y, mba
      emang zaman sekarang kecenderungan ego pada tinggi sih, telat jemput aj (ibaratnya) langsung pis ah, weww

      Delete
  2. Hmm, kalo menurut aku pribadi jika memang keluarga besan gak setuju, lebih baik jgn di paksa untuk menikah. Kan kasihan kalo ujung2nya cerai. Duh, hanya bisa mendoakan semoga mendapatkan yg terbaik dari Allah. Aamiin 🤲🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah, ini
      emang paling enak kalau dua keluarga mendukung y, mba

      Delete
  3. Saya juga merasa begitu mba, bila sedari awal sudah ada ganjalan, kalau pun tetap mau lanjut lebih baik ganjalan itu diselesaikan dulu supaya lancar secara jiwa raga.
    Mereka membanding2kan dengan mantan calon, sampaikan saja kalau saat ini yang dipilih adalah "saya yang sederhana" ini. Jadi bisa jadi ada kelebihan didalam diri kita yang tidak dimiliki mereka itu. Jujurin aja, hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. xixixi
      bener
      selesaikan ganjalan sebelum melangkah ke tahap selanjutnyaa

      Delete
  4. Yang repot kalau perkataan tersebut keluarnya pas udah nikah dan punya anak #dilemaistri

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya
      budaya patriarki emang membuat wanita salah mulu, ya
      deuh...

      Delete
  5. Betul mba, menikah itu bukan hanya menyatukan dua insan tapi menyatukan dua keluarga, nah disinilah kisi-kisi penyatuan dua keluarga itu, so saya pernah merasakannya tapi alhamdulillah semua kan baik-baik saja dan akan tetap baik sebaik niat kita diawal kenapa saya mau dinikahi dengannya...AAmiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah
      ikut senang, mbaa
      semoga keluarga kita selalu bahagia dunia akhirat aamiin

      Delete
  6. wah bermanfaat sekali ini. Tapi apa yang terjadi di antara pasangan itu dan keluarganya hanya mereka yang tahu dan merasakan. Dilemma, tetapi mungkin jika didiamkan akan menjadi penyakit. semoga apapun keputusannya itu adalah jalan terbaik untuk membuat hati tenang, nyaman, tanpa prasangka ataupun benci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar, mba
      enggak semua diceritakan juga, ya
      orang lain hanya bisa mendoakan saja

      Delete
  7. Kalo menurutku sih mbak, nggak bisa gitu karena alasan di atas terus jadi alasan buat gugat cerai. Nikah bukan perkara main-main kan.

    Alih-alih mempertanyakan kondisi kenapa suami begini begitu. Hal pertama yang bakal aku lakukan sih ngajakin suami ke kajian ilmu. Biar tahu hak sama kewajibannya apa. Kan di dalamnya ada perkara menyenangkan istri.

    Rumah tangga bakal kering banget kalo ilmunya kurang. Masalah komunikasi dengan pasangan dan keluarga besar jadi masalah. Cara menyelesaikan masalah juga jadi hmmm... Gitu lah. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hu'um mba
      zaman sekarang kecenderungan orang2 emang ego pada tinggi
      entahlah

      Delete
  8. duh sedih mbk saya bacanya, ikut prihatin untuk temannya ya. semoga ada jalan keluar yang lebih baik

    ReplyDelete
  9. Sedih banget baca paragraf pembukanya.

    ReplyDelete
  10. Duh, sedih banget ceritanya. Memang betul menikah tdk hanya menyatukan dua hati, melainkan dua keluarga besar. Semoga mndpt jalan keluar yang terbaik.

    ReplyDelete
  11. Hikz hikz..atitnya tuh ddisini kalo seumur2 gag pernah dihargai. Yang penting pasangan kita gag ikutan begitu, saya rasa cerai bukanlah jalan. Mungkin yg begitu krn lakinya kurang tegas, apalagi tinggalnya di pondok indah mertua. Miris...

    ReplyDelete
    Replies
    1. pernah baca artikel di sebuah jurnal bahwa zaman sekarang perceraian sebab tertingginya bukan karena selingkuh, tapi ego
      serem

      Delete
  12. Sedih banget... Tak bisa berkata dan menuliskan apapun

    ReplyDelete