9 Hal Menakjubkan Ini Dirasakan Ibu Baru yang Berprofesi sebagai Penulis

By Miyosi Ariefiansyah - October 23, 2018

9 Hal Menakjubkan Ini Dirasakan Ibu Baru yang Berprofesi sebagai Penulis


(Postingan ini ditulis dengan posisi tangan kiri gendong anak yang rada rewel karena imunisasi dan tangan kanan ngetik dari HP. Biar drama dikit gitu jadi dijelasin)

Sebenarnya jauh sebelum punya anak, tepatnya setelah menikah dan berprofesi sebagai penulis, saya cukup sering membayangkan gimana nanti kegiatan menulis setelah jadi ibu. Selain itu, saya juga suka mendengarkan curhatan teman-teman penulis yang lebih dulu punya anak. Hasilnya? Maksudny setelah buktiin sendiri. Sama dengan bayangan. Oh, ternyata memang begitu. Namun, emang lebih menjiwai pas ngejalanin sendiri.

21 April 2017, saya resmi jadi ibu. Itu artinya, kegiatan menulis saya mau enggak mau suka enggak suka pasti berubah. Lebih-lebih, sebagai ibu baru yang notabene si bayi masih butuh perhatian penuh. Produktivitas tidak bisa seperti dulu saat belum memiliki bayi. Namun, bukan berarti itu dijadikan pembenaran untuk bermalas-malasan. Enggakk, dong. 

Saya ingat, beberapa hari sebelum lahiran, saya masih sempat menyelesaikan kerjaan menyunting novel terbitan Bhuana Ilmu Populer yang berjudul "Bertemu Proses". Saya juga masih aktif menulis di ummi-online. Tahun 2017, ada sekitar 100 lebih artikel yang saya tulis di website tersebut. Selain menulis di media online, saya juga masih menyunting novel terbitan Bhuana Ilmu Populer dan naskah kumpulan soal serta pelajaran. Kalau ditotal ada belasan kayaknya (ntar lihat lagi di daftar karya). Beberapa karya suntingan tersebut ada yang sudah terbit, sisanya masih proses terbit. Untuk menulis buku, saya baru memulainya lagi tahun ini setelah terakhir menerbitkan buku pengayaan berjudul "Virtual Office" 2016 akhir. Tahun ini, saya tetap menyunting, mengajar online (kalau ini sudah saya lakukan sejak 2016), dan menulis buku lagi. Doakan proses terbitnya lancar, ya. In syaa Allah sudah ada yang sedang proses naik cetak.

Meski tidak seaktif teman-teman penulis lain yang hampir tidak pernah tidak ada di acara-acara offline, namun saya pribadi bersyukur dengan pencapaian saya sebagai ibu yang punya bayi yang juga penulis. Ya memang sih, ada beberapa yang membuat saya kecewa terhadap diri sendiri. Tapi itu semua justru sebagai bahan evaluasi semoga ke depannya bisa lebih baik lagi. Aamiin.

Nah, ngomong-ngomong soal menjadi penulis dan juga ibu, saya membuktikan beberapa hal menakjubkan yang dulu hanya bisa saya bayangkan yang kayaknya seru jika dibagi ke pembaca. Yakali bisa buat inspirasi. Yekan.

Apa saja hal menakjubkan itu? Ada banyaaakk. Namun, saya merangkumnya dalam 9 poin.

1. Nulis sambil gendong itu ternyata keren
Tangan kiri gendong bayi, tangan kanan mengetik. Seruu. Apalagi, kalau si bayi mulai berulah sementara kita sedang fokus kerja. Di situlah kesabaran diuji. Sejauh ini sih baik-baik aja. Saya malah berpikir "keren ya jadi cewek"

2. Baru mau ngerjain, anak dah rewel
Ada kalanya si anak pengin nempel terus dengan bundanya. Sehingga sudah diberi tahu baik-baik dengan beragam cara sampai kehilangan akal pun, si anak semacam dapat sinyal pemberitahuan bahwa setelah dia tidur si bunda pasti ngerjain. Dan, itu sebabnya si bayi merasa harus terbangun ketika si bunda mulai berbagi cinta dengan kerjaannya. Kalau saya sih berusaha ambil sisi positif sejauh ini ya. "Oh, berarti si anak teliti, dong,"

3. Pengin ikutan
Rasa ingin tahu yang sangat tinggi, kadang-kadang juga membuat si anak pengin ikut terlibat dalam kerjaan bundanya. Penginnya sih membantu, padahal... xixixi.

4. Ngantuk berat pas jam bebas
Walau sudah minum kopi dan olahraga, ada kalany badan enggak bisa diajak kompromi. Penginnya sih tiduran sebentar satu dua jam, kenyataannya terlelap bersama bocah sampaii pagi.

5. Nulis di hp dijabanin 
Menulis itu harus suasana tenang, enggak ada gangguan, dan menulisnya di laptop. Bayangin gitu? Satu eh dua kata deh ya: jangan manja. Kalau udah punya bayi, susahh. 

6. Hidup dalah pilihan
Punya bayi membuat saya makin paham bahwa hidup adalah pilihan. Tidak mungkin kita mendapat semua yang kita inginkan, termasuk dalam dunia menulis, di sisa waktu yang terbatas tersebut.


7. Siap rieweh
Pengin ke acara kepenulisan? Itu artinya siap rieweh. Mau, silakan. 

8. Enggak baper
Memiliki bayi bisa membuat ibu enggak baper. Gimana mau baper kalau pikirannya terpusat dengan bayi dan kerjaan. Akibatnya, mau ada yang rasanin alias omongin di belakang misalny, ya cuek aja. Bodo, ah. Waktu kalau enggak dipakai buat ngurusin bayi (dan bapaknya), ya buat nulis. Xixixi. Betapaa... waktu begitu berharga. Nulis status di media sosial macam FB atau ceriwis si grup WA aja jarang setelah ada bocil. Xixixi.

9. Bersyukur
Meski penulis yang memiliki bayi jelas lebih repot, tapi rasa syukur tidak pernah berhenti terucap. Bersyukur akhirnya Allah memberi kesempatan untuk ikut merasakan. Nikmat Allah mana yang kamu dustakan?

Nahh, itu tadi keajaiban yang saya rasakan setelah jadi ibu. Tetap aktif berkarya kok. Kalau teman-teman bagaimana? Ceritain, dong.


(Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post beraama Estrilook Community)

  • Share:

You Might Also Like

14 comments

  1. Emang gak ada alasan untuk berhenti berkarya ya mba, dan jangan jadikan anak sebagai alasan untuk gak melakukan apa2 (nunjuk idung sendiri).

    baydewey, itu daftar karya kayaknya udah panjang ya, ampe ratusan gitu. Hebat!

    ReplyDelete
  2. Saya nulis malah setelah punya 2 batita mbak.
    Dulu berkarir di luar rumah, nggak kenal dunia literasi. Setelah resign dan ngasuh anak dirumah, baru kenal dunia nulis.
    Kesannya: Muantabbbb...
    Tetap semangat mbak, banyak teman senasib kok...😄

    ReplyDelete
  3. Waah MaasyaaAllah ibu hebat...
    Semoga kelak kalau saya udah punya momongan bisa merasakan sensasinya sbgai seorang ibu dengan aktivitas yang mengantri...

    ReplyDelete
  4. Kalau saya kembali menulis justru setelah anak-anak besar. Kebetulan empat anakku selisih umurnya gak begitu jauh sehingga jangankan menulis, mandi aja susahnya minta ampun. Alhamdulillah, setelah si nomor 4 TK, baru deh saya bisa kembali menulis meski saat itu anak kelima udah hadir. Tapi gak serepot waktu megang keempat kakaknya dulu.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, saya juga menulis di sela-sela waktu antara momong bocah dan tugas domestik yang menumpuk. Riweuh, capek, dan penatnya jangan ditanya. Tapi, nulis itu justru bikin nagih dan alat untuk menjaga kewarasan 😊

    ReplyDelete
  6. Saya ngerasain itu, Mbak. Hehe. Baru bisa nulis kalo si kecil (2y2m) udah bobo. Ga bisa di laptop tp via tablet. Seru memang! Ribet tapi alhamdulillah malah bisa menjaga kewarasan saya krn ngerasa bahagia. Sukses terus ya, Keren!

    ReplyDelete
  7. Waah luar biasa mb,, mudah2an saya diberi kesempatan oleh Allah menjadi seorang ibu dan terus aktif menulis 😊,, thanks share nya mb 😉

    ReplyDelete
  8. Kalau saya lebih fokus nulis pas anak-anak sekolah, walau anak saya yang kecil sudah SD tetep aja pengen ngajak ngobrol sama saya apalagi tau ibunya pegang HP, biasa cari perhatian..tapi ga pa-pa saya tetep merasa bahagia,masih diberi kesempatan menulis walau sudah menjadi ibu rumah tangga.

    ReplyDelete
  9. I feel you, Mbak! Dulu sering banget nulis pakai hape sambil nyusui. Sekarang malah nulis pakai hape, eh hapenya direbut.

    ReplyDelete
  10. Kereen semangatnya mbak. Saya merasa terlambat dalam dunia literasi, semoga bisa menyusul meski ketinggalan jauh. Hehehe...

    ReplyDelete
  11. Pantesan aja tulisannya kece gini, ternyata emang udah banyak karyanya. 👍😍 Betul, Mbak. Terus menulis itu pilihan meski Kita udah punya anak atau babby. Jangan berhenti berkarya, semua akan jadi cerita indah nantinya.

    ReplyDelete
  12. Itulah keistimewaan perempuan. Multitasking banget. Tangan kanan kiri kerja semua 😍

    ReplyDelete