Pikirkan Baik-Baik sebelum Resign karena Keputusanmu Bisa Mengubah Seluruh Alur Kehidupanmu dan Keluargamu

By Miyosi Ariefiansyah - October 19, 2018

Pikirkan Baik-Baik sebelum Resign karena Keputusanmu Bisa Mengubah Seluruh Alur Kehidupanmu dan Keluargamu
Cerita I:
Seorang mantan pegawai perusahaan multinasional menyesalkan keputusannya yang terburu-buru resign. Sekalipun dia sudah percaya diri akan mendapatkan pengganti yang lebih baik, namun nyatanya hingga enam bulan berjalan mantan pegawai yang saat resign menduduki posisi puncak tersebut takkunjung mendapatkan pekerjaan. Praktik tidak semudah teori, ya.
Cerita II:
Sejak menjadi pegawai di sebuah perusahaan BUMN ternama, pegawai ini memang sudah memiliki cita-cita untuk resign (pensiun dini). Dia sudah merencanakan untuk hanya mengabdi pada perusahaan kurang lebih sepuluh tahun saja. Dalam jangka waktu tersebut dia merasa sepertinya sudah cukup mengumpulkan bekal dan modal. Dan, sepuluh tahun pun berlalu. Pegawai yang saat hendak pensiun dini grade-nya sudah tinggi itu pun memenuhi komitmennya. Dengan berbagai macam perhitungan serta persiapan yang matang, pegawai tersebut memang mendapatkan pekerjaan impian pada akhirnya. Alhamdulillah, ya.
Resign atau keluar dari pekerjaan yang sekarang sedang kita tekuni hampir menjadi hal yang biasa terjadi. Beberapa alasan di antaranya adalah:
1.Ingin berpindah kuadran
Alasan yang paling banyak saat ini adalah karena ingin berpindah kuadran entah itu dari pegawai (bekerja di orang) ke pengusaha atau dari pegawai ke pekerja mandiri (freelancer).
2. Bosan, ingin mencoba hal baru
Adalah wajar bila kita bosan dengan kegiatan serupa yang setiap hari kita lakukan (monoton). Bila hanya satu atau dua tahun mungkin bukan masalah, namun bagaimana bila belasan tahun. Apalagi jika sifat pekerjaannya sangat klerikal. Tentunya kita jadi merasa seperti katak dalam tempurung. Karena itu, dipilihlah resign.
3. Mendapakan pekerjaan lebih baik
Ini adalah alasan yang cukup logis. Normal bukan jika seseorang resign karena mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
4. Ingin mengejar pekerjaan impian
Seperti pada cerita di atas bahwa alasan resign bisa karena pekerjaan yang sekarang bukanlah pekerjaan impian. Namun, karena suatu hal, kita kemudian sadar bahwa untuk menggapai pekerjaan impian kadang dibutuhkan pengorbanan besar salah satunya dengan “menceburkan” diri dulu selama beberapa waktu ke pekerjaan yang sekarang dijalani. Kita baru memutuskan untuk benar-benar resign guna mengejar impian sebenarnya setelah perbekalan dirasa cukup.
5. Kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak kondusif
Atasan yang tidak mendukung untuk berkembang atau lingkungan yang tidak sesuai dengan hati nurani (padahal kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyesuaikan diri dan membaur, namun tak membuahkan hasil) juga bisa menjadi alasan kita untuk resign.
6. Alasan lain
Misal, resign karena sudah berkeluarga dan memiliki anak. Biasanya alasan ini berasal dari kaum wanita.

Keputusan untuk resign bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam waktu singkat. Bagaimanapun juga resign akan mengubah hidup kita dari yang tadinya mendapatkan penghasilan pasti per bulan menjadi tidak. Bagi sebagian besar orang, beradaptasi dengan kondisi baru bukanlah hal yang mudah. Itu sebabnya, kita harus mempertimbangkan banyak hal sebelum resign. Apa saja hal yang harus dipertimbangkan oleh karyawan sebelum memutuskan untuk resign?
  1. Jumlah tabungan yang dimiliki
Jangan terburu-buru resign jika jumlah tabungan belum cukup, apalagi jika kita sudah berkeluarga. Mengejar impian adalah hal mulia, tapi realistis juga jangan lupa. Kalau terlalu gegabah resign sementara simpanan sama sekali tidak ada, lalu keluarga mau dikasih makan apa? Setidaknya, kita harus punya tabungan senilai empat atau lima kali gaji. ini pun termasuk jumlah minimal. Lebih dari itu malah lebih baik.
2. Rencana setelah benar-benar resign
Apa yang akan kita lakukan setelah resign? Kuliah lagi? Menjadi pekerja lepas? Merintis usaha? Atau, yang lain? Rencana ini sebaiknya dimatangkan sebelum kita benar-benar resign. Bukannya apa-apa, tapi tidaklah mudah menyesuaikan diri dari yang tadinya penuh dengan kegiatan menjadi tidak. Jika kurang persiapan, kita malah bisa stres. Tidak mau, kan?
3. Resign baik-baik
Jangan memberi kesan buruk saat resign. Hal itu hanya akan menambah masalah dan beban. Resign-lah baik-baik. Masuk dengan permisi, ke luar pun berpamitan dengan sopan.
4. Jangan mendadak
Bukanlah hal yang etis jika ingin resign sekarang sementara surat pengunduran dirinya baru kita buat sejam yang lalu. Perusahaan pun butuh waktu untuk mencari pengganti. Setidaknya, surat pengunduran diri sudah kita buat sebulan sebelum benar-benar resign.
5. Punya planning jangka panjang dan pendek
Catat planning tersebut sebagai reminder. Seperti ini contohnya:
Mulai bekerja di PT. A: 2017
Rencana resign: 2027
Jangka waktu bekerja: 10 tahun
Target selama 10 tahun: menduduki jabatan strategis, investasi emas, dll

Resign bukan suatu masalah besar bila direncanakan dengan baik. Jadi, bila kita berniat untuk resign dari pekerjaan yang sedang kita jalani sekarang, rencanakanlah jauh-jauh hari. Sekarang juga!

Ariefiansyah, Miyosi. Virtual Office: Kantor Masa Depan. 2016. Jakarta: Progressio.
Ariefiansyah, Ryan dan Miyosi Ariefiansyah. Strategi Gila Menjadi Manajer. 2011. Jakarta: Laskar Aksara.

(Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community)

  • Share:

You Might Also Like

0 comments