Kesal selalu Ditanya Kapan Punya Anak dan Kapan Nikah? Jangan Marah, Mungkin Ini yang Ada dalam Pikiran Mereka

By Miyosi Ariefiansyah - October 18, 2018

Kesal selalu Ditanya Kapan Punya Anak dan Kapan Nikah? Jangan Marah, Mungkin Ini yang Ada dalam Pikiran Mereka

“Kapan nih aku diundang?”
“Lhoh, Kamu belum hamil juga?”
“Kapan nikah?”
“Kapan punya anak?”
Pertanyaan di atas tidak akan berarti apa-apa bagi mereka yang sudah menikah atau sudah punya anak, tapi bagi yang belum dan mungkin sedang dalam kondisi tidak stabil (kerjaan numpuk, baru berdebat dengan klien, ditipu teman, atau yang lain), pertanyaan semacam itu bisa sangat mengganggu.
Tak heran jika kemudian si empu (yang mendapat pertanyaan di atas) bereaksi, “Apaan, sih, pertanyaan enggak penting. Emang enggak ada yang lain?” atau sikap-sikap defensif lainnya.
Berhubung artikel-artikel seputar menghadapi pertanyaan orang “kapan nikah” dan “kapan punya anak” sudah banyak alias udah mainstream banget, maka di tulisan ini kita akan mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda: sudut pandang kepoers (yang nanya).
Dengan mengetahui beberapa kemungkinan motifnya, kita bisa lebih enjoy menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang enggak bosan-bosan ditanyakan seperti di atas. Bisa jadi, secara enggak sadar, kita sebenarnya juga pernah berbuat serupa.
Lalu, apa aja sihh motif mereka menanyakan sesuatu yang “memancing” adrenalin?
1. Penasaran, Enggak Lebih
Yups, tidak ada motif apa-apa bertanya “kapan kamu nikah” atau “kapan nih punya anak” selain memang MURNI karena penasaran. Dua sahabat yang sudah lamaa sekali berpisah kemudian bertemuu wajar jika ingin tahu seperti apa sih kondisi sahabatnya sekarang. Jadikah nikah sama si kakak kelas yang dulu ngejar-ngejar dia. Anaknya sekarang udah berapa. Atauu, hal-hal serupa yang motifnya benar-benar karena ingin tahu, tidak ada yang lain.
Kita sendiri biasanya seperti itu juga ya ketika baru bertemu dengan sahabat lama. Selain bahagia tak terkira, biasanya kita akan bertanya, “Hai, apa kabar? Sekarang di mana, nih? Kerja di mana? Kegiatannya apa? Udah nikah? Udah punya anak?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kadang terlontar karena saking gembiranya bertemu dengan orang yang pernah dekat/pernah punya kenangan dengan kita.
Jadii, jika suatu saat kita bertemu dengan teman lama, kemudian ditanya ini itu, ya jawab aja apa adanya. Enggak usah sensi. Karena bisa jadi, dia benar-benar penasaran, enggak ada alasan lain. Gimana sih rasanya setelah berpisah sekian lama kemudian tiba-tiba ketemu? Bisa bayangin, ya.
2. Enggak Tahu Mesti Nanya Apa alias Enggak Punya Bahan Perbincangan
Enggak tahu mesti ngobrolin apa kadang juga menjadi alasan kenapa pertanyaan sensitif itu tiba-tiba terlontar. Yaa, gimana lagi, pertanyaan bersifat kekeluargaan ini sudah sangat umum di Indonesia. Sehingga, ketika dua orang atau lebih berada dalam situasi kikuk (awkward moment), pertanyaan-pertanyaan yang sudah dianggap umum alias biasa ini keluar begitu saja. Jarang juga rasanya dua orang yang baru kenal (setidaknya di Indonesia) dan sedang berada dalam situasi canggung bertanya dengan santai semisal, “Eh, Lo semalam nonton apa?” atau “Ehm, jadinya kamu mau ke Planet Mars apa Jupiter, sih?” Hampir-hampir enggak mungkin kan ada obrolan semacam ini.
Maka, jika hal itu terjadi, jika pertanyaan itu muncul, jawab aja apa adanya. Enggak usah sensi. Hehe.
3. Iseng
Oke, motif ini mungkin memang lemah, tapi kenyataannya memang demikian. Kadang, seseorang hanya ISENG saja menanyakan hal-hal yang agak sensitif.
“Eh, aku barusan ngomong apaan, sih?”
Pernah kan menghadapi orang semacam itu atau mungkin kita sendiri yang begitu.
Jadii, yang bersangkutan benar-benar enggak ada tujuan apa-apa selain ISENG atau ngasbun. Lalu, kita mau marah? Deuh, jangan, Dear. Nanti cantiknya hilang. Jawab saja apa adanya, santaii.
4. Pertanyaan Spontan
Namanya spontan ya pastinya tidak terencana.
Pas lagi sama-sama jenguk teman yang lahiran, tiba-tiba ada salah satu penjenguk yang bertanya ke kita, “Kamu kapan nih punya anak?”
Bisa jadi, awalnya si penanya enggak ada pikiran untuk bertanya hal-hal sensitif seperti itu. Tapi, karena terbawa situasi, jadilah kalimat tersebut terlontar begitu saja secara otomatis.
Nah, mau marah? 😀
5. Mengejek
Mungkin, di masa lalu, orang ini pernah kita kecewakan: pernah kita beri harapan, pernah kita sakiti, atau alasan serupa. Sehingga di masa depan (maksudnya masa sekarang), ketika seseorang tersebut mengetahui bahwa kita belum menikah/belum punya anak sedangkan dia sudah, maka tidak heran jika yang bersangkutan merasa MENANG. Padahal, kita sedang tidak berkompetisi dengan siapa pun.
Terima saja jika hal itu terjadi. Biarkan saja dia melampiaskan kekesalannya dengan terus bertanya kapan kita menikah atau punya anak dan diakhiri dengan membandingkan antara kita dengan dirinya. Biarkan saja dia merasa menang. Toh, kita enggak rugi apa-apa, kan?
Mungkin, perasaan dia pada kita begitu dalam sehingga sudah berjalan di “takdir”nya masing-masing pun masih dikejar dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. 🙂
6. Orang Hampir Selalu Menanyakan/Mencari yang Enggak/Belum Ada
Percayakah kalau hampir semua orang selalu menanyakan atau mencari hal-hal yang tidak atau belum ada.  Misalnya, kita masih juga mencari kue lain padahal di rumah sudah banyak kue walaupun bukan kue yang kita cari. Nah, kan.
Jadi, tidak usah heran ketika ada orang atau beberapa orang yang tidak peduli dengan pencapaian kita di bidang pendidikan, karier, usaha, dan lebih peduli dengan sesuatu yang belum kita punya. Tidak perlu marah ketika ada orang lebih suka bertanya “Kok belum nikah juga sih? Ingat usia!” atau “Kok belum punya anak sih? Ingat semakin tua, semakin susah!” daripada bertanya “Eh, gimana sih tips biar bisa diterima kerja di ini?” atau “Gimana sih cara buka usaha tanpa modal?”. Percayalah, kita bukan satu-satunya KORBAN.  Jadi, santai ajaa.
7. Empati
Di antara sekian banyak alasan, mungkin inilah alasan yang paling manusiawi. Bertanya karena ingin memberikan SOLUSI, tulus dari hati.
“Kamu belum nikah? Wah kebetulan, aku punya adik kelas nih lagi nyari calon,”
“Kamu mau nyoba dokterku, nggak?”
“Eh, kayaknya kamu mesti ngurangin kopi, deh. Sebab, aku dulu ngurangin kopi, langsung hamil,”
“Kamu mau nggak nikah sama adikku?”
Solutif!
Bagaimana?
Mulai sekarang, tidak perlu marah, tersinggung, kesal, tersakiti, apalagi teraniaya lagi ya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Tetap kalem, tetap cantik, tetap tenang, dan selalu berusaha serta berdoa! Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk pihak-pihak yang bertanya-tanya yang seolah-olah kita harus sempurna. Ya, mereka juga tidak sempurna. Saya sendiri kenyang ditanya KAPAN PUNYA ANAK sejak 2008. Yaa udahlah, ya. Toh, setelah saya akhirnya punya anak di 2017, pertanyaan lain muncul lagi. Xixixi. Rauwis-uwis. Jadi, tetap semangat! Tulisan ini jadi pengingat buat saya, syukur-syukur jika bermanfaat juga buat yang baca.

Sumber: tulisan saya di ummi-online

(Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community)

  • Share:

You Might Also Like

2 comments