Pengalamanku Menghadapi Baby Blues, Persiapan Matang dan Lamanya Menunggu Momongan bukan Jaminan

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - December 21, 2019


Ternyata, usia matang, persiapan sedemikian rupa (mulai dari baca banyak buku & artikel hingga ikut kelas parenting), mendapatkan kepuasan maksimal sudah mengeksplorasi diri kilar-kilir ke sana ke mari, dan ikut kegiatan ini itu tidak ada jaminan bagi seseorang bisa bebas dari baby blues syndrome (BBS) saat menjadi ibu. Itu sebabnya bagi yang saat ini belum punya anak dan merasa, "Ah, kayakny aku enggak mungkin banget ngalamin. Itu kan cuma buat cewek-cewek lemah & manja," ehm... sebaiknya jangan diteruskan, deh. Hehe.


Perasaan itu Sebenarnya sudah Muncul saat Hamil (hanya saja kutepis)

Kata mereka, aku menyambut kehamilan dengan sangat-sangat bahagia tanpa drama. Sampai-sampai, seseorang pernah komen, "Kamu hamil kebo kayaknya," Ya, emang aku enggak mengalami yang namanya mual dan muntah termasuk nyidam. Apa aja, ayoo. Apa aja, masukk. Santai-santai aja pokoknya. Orang-orang mengistilahkan "hamil kebo" untuk ibu hamil sejenis aku dulu.

Padahal, mereka tidak tahu kalau aku pun sering menangis karena galau pas mau tidur. Alasannya mungkin akan dianggap sepele, makanya engga aku ceritakan ke siapa pun (lha ini ditulis? Wkkk).

Emang, alasannya apa?

Kenapa ya aku LDM sama suami? Dalam bayanganku sebagai ibu hamil, yang namanya suami istri tu ya bareng-bareng. Saat istriny hamil, suami nemenin kontrol. Saat suami berangkat ke kantor, suami ngelus-elus perut buncit istriny, dan yang serupa. Kenapa kayak aku aja yang harus merasakan semua ini. Kan bayi yang ada di perutku ini anak berdua?? Ya memang sih suami sering pulang udah bolak-balik kayak setrika. Dan setiap pulang, dia pasti nemenin kontrol dan hal lainnya. Tapi, tetap saja ada yang kurang karena tidak bisa bertemu setiap hari.

Receh, kan? Banget. Lebih-lebih dalam budaya patriarki yang masih sangat mendominasi peradaban dunia, pasti yang aku rasakan tersebut akan dinilai cuma sekadar rengekan wanita lemah. Dan lagi, perasaan tsb emang munculnya pas malem, pas sepi. Kalau siang? Sama sekali enggaakk.


Setelah Melahirkan, Perasaan Itu Makin Menjadi

Ya, aku kira, galau enggak jelas tersebut akan hilang dengan sendirinya setelah aku melahirkan. Nyatanya? Enggak. Malah makin menggila. Ditambah lagi, awal-awal menjadi ibu, aku suka mendengarkan ost-nya Goblin, terutama yang judulnya I'm Here kalau enggak salah. Tahu sendiri kan kalau lagunya benar-benar melow, apalagi kalau didengarkan malam-malam plus nonton dramanya. Makinnn, dehh. Xixixi. Ahjussii jahatt. Ehh... wkk.

Tapi, lagi-lagi, perasaan enggak jelas tersebut aku pendam sendiri (maksudnya enggak aku curhatin di medsos atau orang-orang sekitar) dengan alasan sama: enggak mau dianggap lemah kalau gembar-gembor. Plus, emang dalam hati rada curiga, kalau cerita ke sana ke mari alias emberr tentang yang kurasakan, bukannya dapat solusi malah diceramahi. LOL.


Berani Mendeskripsikan Perasaan, Berdamai dengan Keadaan, dan Berbagi Galau dengan Pasangan

Jauh sebelum menjadi ibu, aku sudah sering baca teori tentang Baby Blues Syndrome untuk mengantisipasi. Nyatanya, aku memang mengalami. Xixixi.

Meski awalnya menepis, tapi kemudian aku berusaha untuk ikhlas menerima. Memang kenapa kalau seorang wanita yang baru saja melahirkan merasa galau? Emang orang idup enggak boleh sedih? Rasanya kok jahat banget ke diri sendiri kalau harus selalu bilang baik-baik saja padahal enggak.

Aku mulai menerima bahwa aku wanita dengan segala macam perasaan yang kadang lebih mendominasi daripada logika. Karena jauhh sebelum jadi ibu, aku lebih memilih mengasah sisi maskulin meskipun secara penampakan aku cewek banget. Kenapa? Mungkin karena enggak mau dibilang lemah. Ya, tahu sendiri kan biar gimana pola pikir masyarakat kita secara umum masih didominasi budaya patriarki. Apa yang ada di film Korea yang dimainin sama Gong Yoo tuh BENER BANGET! Jadi, aku pun membiasakan diri untuk mengedepankan logika ketimbang perasaan.

Misal:

1. Ketika suami dinas dan ada tetangga komen apa berani sendirian di rumah, aku pasti menjawab, "Udah biasa, ntar juga pulang,"

2. Ketika suami lembur, aku tetap sok cool dan enggak pernah mau mengeluh ke teman. Dalam hati seolah berkata, "Mau lembur, mau enggak, ya udah sih, aku juga punya kesibukan sendiri,"

3. Sebelum punya anak ke mana-mana sendiri bahkan ke tempat yang jauh (beda pulau) bukanlah hal yang berat buatku. Sesaat setelah menjadi ibu, ke mana-mana sendiri tanpa suami kok ya jadi seperti orang linglung dan merasa takut berlebihan. Aku akan memeluk bayiku dengan sangat sangat erat dan siapa pun yang ingin melihat bayiku, langsung aku curigai. Siapa pun itu. 😆

4. Sebelum punya anak, suami pergi dinas, hampir selalu kujawab, "Hati-hati, Mas. Semangat cari duitny y, Sayang," ehh... wkkk. Sesaat setelah punya anak, "Kenapa sih ninggalin aku sendirian? Aku takut," geli banget nulis ini. 😆

Rasanya, semua "kesombonganku" benar-benar luluh lantak saat menjadi ibu. Aku merasa jadi sosok yang amat sangat sangat sangat bergantung sama suami, baik secara perasaan maupun semuanya dari a sampai z. Suamiku senang-senang aja, enggak komplain. Tapi, aku yang jadi benci ke diri sendiri... merasa lemah, enggak berguna, dan enggak berharga. Terdengar lebay, ya? Padahal, bukannya wajar ya kalau istri emang begitu sangat membutuhkan suaminya sendiri? Yaa, daripada suami tetangga. Ye, kan? LOL.

Aku enggak nyangka kalau bisa SERAPUH itu. Aku yang tadinya penuh percaya diri jadi serba ketakutan di awal jadi ibu:

1. Takut anakku kenapa-kenapa
2. Merasa sendiri padahal support system mulai dari orang tua, mertua, saudara, sahabat, tetangga, semua ada. Kalau suami mah udah jelas, ya.
3. Sering menangis sendiri malam-malam, takut enggak bisa jadi ibu yang baik.
4. Selalu takut setiap kali suamiku pergi, takut apa aku bisa jadi ibu yang gak parnoan
5. Rasa sayangku ke anakku sangat-sangat berlebihan dan membuatku ketakutan sendiri setiap dia sakit. Di awal jadi Ibu, aku kerap pergi ke dokter anak hanya karena anakku gumoh bahkan cegukan. Sounds silly, but it's true. Dan, aku baru lega ketika dokter bilang anakku sehat-sehat aja.
6. Di awal jadi ibu, ketika rata-rata ibu baru penginnya tidur, aku sebaliknya: takut tidur karena khawatir anakku kutindih enggak sengaja.

Selebay itu, ya, ternyata.

Tak satu pun orang yang tahu, selain... BAPAKNYA ANAKKU. Ya, akhirnya aku terus terang ke dia bahwa I was not okay. Bersyukur, aku bisa ekspresif menunjukkan semua yang kurasakan, termasuk menjelaskan bahwa sepertinya aku kena BBS. Bersyukur pula, suamiku menerima semuaa keluhanku padahal dia sendiri pasti juga banyak kerjaan (demi menafkahi keluarga).


Mengatasi Baby Blues Syndrome agar Enggak Berkepanjangan ala Aku

Setiap ibu punya cara mengatasi hari-hari pertama masuk ke dunia baru. Kalau aku:

1. ÀKUI.

Aku yakin, sebenarnya semua wanita mengalami perasaan kaget, senang, campur aduk sesaat setelah melahirkan. Hanya saja, ada yang menepis, ada yang jujur. Menurutku, akui saja semuaa perasaan campur aduk itu. Enggak perlu mengakui ke semua orang, ke diri sendiri aja dulu. Mengakui kalau lemah bukan tanda lemah. Justru sebaliknya karena enggak semua orang mau jujur meskipun itu ke diri sendiri.

2. Bicarakan TOTAL dengan Pasangan.

Yang menyebabkan kita hamil siapa? SUAMI. Maka, dialah yang harus bertanggung jawab. Maksudnya, ya curhat aja total sama suami. Curhat dari a sampai z. Bukankah bayi lucu itu anak berdua (anak kita dan suami). Sungguh, support pasangan benar-benar berarti dan menguatkan.

3. Jangan sembarangan cerita, lebih-lebih ke yang belum pernah mengalami

4. Lakukan sesuatu yang bikin bahagia, tiap ibu beda-beda. Kalau aku... MENULIS!

Emang masih ada waktu? Entahlah, tapi yang jelas, aku melakukannya. Hal tersebut lumayan bisa mengurangi pikiran-pikiran negatif yang muncul tiba-tiba. Karyaku saat masih berjibaku dengan BBS di antaranya:
  1. Artikel-artikel di Ummi-Online
  2. Karya suntingan
5. BERDOA


Alhamdulillah, masa-masa yang terjadi di tahun 2017 itu pun berlalu. Aku bersyukur pernah mengalaminya karena membuat hatiku jadi semakin peka, lebih-lebih terhadap sesama wanita. Untuk sahabatku di luar sana yang masih berjibaku dengan perasaan campur aduk tersebut, percayalah... kalian ibu yang luar biasa. Semangat, ya!!






  • Share:

You Might Also Like

15 comments

  1. Pokoknya jangan dipendam sendiri ya mbak?

    Semangat mbak ^^

    ReplyDelete
  2. Saya dulu termasuk yang tidak bisa mengungkapkan perasaan.. Tp seiring waktu, time healing alhamdulillah.. Komunikasi yg baik dg suami menurut saya adl koentji.. Terima kasih sudah berbagi mba

    ReplyDelete
  3. wah senasip banget mba, dulu jg ngerasa fine2 aja, krn masa kehamilan dilalui dgn bahagia, eh beda cerita ketika anak lahir, kyknya kalo suami ga perhatian dikit bawaannya baper seharian,bs nangis ga jelas, point no 5...saya ngalamin juga rasa sayang berlebihan wkwkkw anak gatel2 doang maksa suami ke dokter:D padahal tinggal beli salep aja sebenarnya, parno kebanyakan baca artikel kesehatan anak,jgn2 penyakit kulit, trus pas masih bayi bgt liat di dadanya detak jantung si bayi ampe keliatan gitu dikulit parno juga..maksa suami ke dokter jantung-.-'' YA Allah padahal katanya normal. ngalamin baby blues emang jgn asal curhat ke temen, saya dulu curhat malah kena ceramah agama, dibilang kurang bersyukur udah ada anak, yasalaam, enak bener ngomong, dia enak pas ada bayi byk yang bantuin,saya cm berdua sama suami,ga ada kerabat, ga boleh ngeluh capek katanya ibadah..,saya manusia biasa bukan robot jg, yg ada bukannya tercerahkan ngobrol sama ni orang malah nambah2in beban pikiran..aih mulutnya..

    ReplyDelete
  4. Memang gitu sih ya rasanya. Campur aduk nano-nano. Aku pun begitu, Mbak. Hamilnya kebo, pasca persalinan jadi panikan. Dulu ibuku suka bilang kalau bayinya tidur, ikutan tidur aja. Dia pasti kebangun tengah malam, daripada kamu ngantuk. Yo wis aku ikuti. Tapi ya itu, pas tidur suka tiba-tiba kaget khawatir bayiku ketindihan, terus meninggal. Terus malah sempat kebayang, kalau dia meninggal, aku mau ke toko bayi cari gantinya, huaaa ...

    ReplyDelete
  5. Saya kira BBS itu kalau seorang ibu malah nggak suka sama anaknya sendiri. Ternyata enggak gitu, maklum cuma pernah baca tetang BBS di novel 😁.

    ReplyDelete
  6. Anak kita seumuran dong hehe :D 2017 aku juga melahirkan, Mbak, dan babyblues juga. Lebih karena takut nggak bisa ASI Eksklusif karena terlalu ambisius. Pada akhirnya, aku bisa ASI Eksklusif, tapi bayangan babyblues masih meninggalkan trauma. Pertimbangan besar utk nambah anak haha

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah saya ga pe4nah ngalamin BBS, pdhal meriksa ke dokter selalu sendiri & apa2 jg swndiri. Alhamdulillah biasa aja, btw infonya bagus untuk dibaca khalayak

    ReplyDelete
  8. Jadi pengalaman yang tak terlupakan ya Mbak. Hal yang tidak terduga dan sebenanya bikin kita kaget juga. Kondisi psikologis berpengaruh banget dan hal ini tidak bisa dihindari dengan mudah. Peran suami sangat membantu.

    ReplyDelete
  9. lahiran anak bungsuku aku mengalami post partum depression hahaha udah bukan baby blues lagi, baru bisa sembuh pada saat anakku umur mau setahun :)

    ReplyDelete
  10. Yang aku suka banget dari postingan ini adalah karena pada prinsipnya kecemasan, ketakutan dan depresi yang kita alami akan cepat sembuh dengan mengakuinya ya mbak, baik ke pasangan atau ke diri sendiri dan menangis bisa jadi penenang juga asal tak berlebihan

    ReplyDelete
  11. Baby blues ini aku juga merasa kannya mba, tapi mungkin karena dibawa kerja jadi gak sampai parah banget.

    ReplyDelete
  12. Tulisan ini mengingatkan pengalaman pertama saya jadi ibu juga. Sok tangguh, sok kuat, ogah dibilang lemah. Padahal diem-diem suka nyungsep di bantal nangis sesegukan sendirian. Huhuhu...

    ReplyDelete
  13. andai saja dulu saya menemukan artikel-artikel sepeerti ini, mungkin nggak akan terlalu berat melewatinya. bersyukur suami selalu ada dan selalu membantu, kerjasama dalam menjalani kehidupan baru sebagai orang tua baru. bacaan ini sangat penting dibaca terutama untuk wanita. terimakasih sharingnya mbak

    ReplyDelete
  14. Setuju, jangan cerita ke orang yang belum paham BBS, gak bakal dipercaya hheheeee...
    BBS ini aneh tapi nyata sih memang. Aku aja yg aslinya mandiri banget nggak nyangka bisa jadi sensitif, baper dan cepet sedih setelah melahirkan. Untungnya semua selesai dan gak berkepanjangan. bisa dibayangkan klo sampai berkembang jadi depresi kayak apa huhuhuuu...

    ReplyDelete
  15. Perasaan galau, takut, cemas, tapi juga sekaligus bahagia melahirkan anak yang diidamkan menjadi satu ya kak. Pengalaman yang dibagikan ini jadi masukan buat daku kak

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)