Semangat Bunda April Kuliah S2 di Tengah Kesibukan sebagai Istri, Ibu, dan Wanita Bekerja

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - December 27, 2019


Siapa yang punya cita-cita melanjutkan kuliah S2? Sama. Aku pun. Namun, hingga detik ini, keinginan tersebut belum kesampaian karena berbagai sebab. Bukan karena ingin mencari pembenaran, tapi setiap orang memang punya kondisi serta prioritas yang berbeda. Teman-teman yang memiliki keinginan sama denganku namun masih belum bisa terealisasi hingga saat ini pasti punya alasannya juga. 

Wanita yang sudah menikah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di zaman sekarang bukanlah hal yang aneh lagi sebenarnya, bahkan bisa dibilang sangat lumrah. Jika dulu setelah menikah seolah ada semacam peraturan tidak tertulis bahwa karir wanita harus mandeg dan ia harus rela serta legowo berperan hanya di sektor domestik saja, maka tidak demikian dengan sekarang. Wanita bisa berdaya serta punya andil untuk ikut serta berada di garda depan dalam rangka memajukan bangsa, tidak hanya berperan di belakang layar saja.

Namun, dalam praktiknya tentu saja tak semudah berkata-kata. Ada yang setelah menikah bisa langsung melanjutkan kuliah S2-nya. Ada yang sebaliknya, menunggu menata karir dan keluarga dulu sampai mapan, baru kemudian memikirkan diri sendiri. Atau, ada yang memilih fokus di bidang atau proyek lain dulu, baru kemudian lanjut kuliah lagi. Pilihan setiap wanita pun berbeda. Ada yang memang memilih belajar dengan cara formal, melanjutkan kuliah secara konvensional misalnya, seperti yang akan kubahas di sini. Ada pula yang sebaliknya, memilih cara-cara informal semacam kursus atau belajar sendiri alias otodidak. Apakah salah? Tentu tidak. Semuanya benar. Semuanya bertujuan baik. Pilihan ada di tangan masing-masing.

Jika kalian termasuk dalam kelompok pertama, ingin sekali kuliah lagi di tempat formal, mungkin kisah dari Bunda Aprilina Prastari atau biasa kupanggil Bunda April ini bisa dijadikan inspirasi. Siapa tahu, kelak, kita juga bisa mengikuti jejak beliau.

Seperti apa kuliah S2 ala Bunda April di tengah kesibukannya sebagai ibu dari dua orang puteri, istri, dan juga wanita bekerja? Simak wawancaraku beberapa waktu yang lalu dengan wanita yang sudah hobi belajar sejak kecil ini.

**

Bunda Aprilina Prastari:


Sejak SMA, (atau SMP ya), aku punya kebiasaan bangun tengah malam untuk belajar. Harapanku jadi dokter sangat besar. Sayang, Allah belum mengizinkanku. Aku sempat dapat jalur undangan ke Kedokteran Undip tapi nggak diterima. Begitu juga saat UMPTN. Aku berusaha masuk ke kedokteran UI, tapi lagi-lagi gagal.

Kakakku menyarankanku masuk ke D3 Komunikasi UGM.

Waktu itu aku bertekad, “Ya udah gak papa sementara masuk D3 dulu, tapi nanti harus melanjutkan sekolah lagi”.

Lulus D3, alhamdulillah aku langsung kerja sebagai wartawan di media cetak. Alhamdulillah, aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Itu sangat menunjang.

Sambil kerja aku melanjutkan S1. Terus nikah, punya anak pertama, kondisiku masih melanjutkan kuliah.

Mungkin karena aku tipe orang yang kalo udah punya niat, sebisa mungkin harus dilaksanakan. Apalagi untuk pendidikan.

Mungkin juga karena aku gak suka kalau ada orang lain yang meremehkanku hanya karena aku belum sarjana (lulus S1).

Misal kalau ada suara sumbang, “kok wartawan cuma lulusan D3” atau “iya sih, dia lulusan UGM tapi cuma D3 di sana”

Waktu kuliah di D3 pun, pernah juga mendengar omongan bernada meremehkan, “Oh, mereka anak D3. Kalau kita S1-nya). Jadi aku ingin membuktikan.

Lulus S1 aku tetap bekerja.

Tahun 2009, dengan pengalamanku di advertising agency yang cukup lama, aku diminta mengajar sebagai dosen praktisi di salah satu PT di Jakarta.

Di sini pun, aku masih menemui orang yang mempertanyakan kenapa aku bisa jadi dosen padahal belum S2.

“Bu April kok belum S2 udah bisa ngajar ya?”

Padahal aku di sana sebagai dosen praktisi dan mengajar mata kuliah yang sifatnya praktis dan menjadi keahlianku.

Agak gak enak sih digituin, tapi ya udahlah. Biarin ajah.

Cuma dengan tuntutan pekerjaan, aku merasa memang harus kuliah lagi. Aku harus punya ilmu yang cukup untuk menjadi dosen atau konsultan. Dengan sekolah lagi, aku akan terpacu untuk membaca dan cari ilmu sebanyak-banyaknya. Biar aku gak terlena. Alangkah baik kalau pengalaman juga diimbangi dengan ilmu yang cukup. Meski aku paham ilmu gak harus didapat dari pendidikan formal. Cuma kalau nantinya aku mau tetap jadi dosen dan konsultan, pendidikanku juga harus tinggi.

Aku memikirkan jangka panjang.

Persaingan di dunia kerja semakin ketat. Aku harus bisa lebih stand out.

Akhirnya di usia 33 tahun, dengan berbagai pertimbangan, aku kuliah S2  di Pascasarjana Universitas Indonesia. Jurusanku masih komunikasi (tepatnya marketing communication) karena aku memang ingin jadi ahli di bidang ini (komunikasi).

Saat itu, aku bekerja dan punya dua anak usia SD.

Kalau ditanya, apa yang membuatku semangat kuliah lagi? (1) Kebutuhan, (2) Mendukung rencana jangka panjang.

Capek gak kuliah lagi dengan kondisi jadi ibu bekerja?

Pastinya. Apalagi kuliahnya malem. Kadang kalo ngantuk banget, aku kasih minyak kayu putih di bawah mata supaya nggak ngantuk. Kalo suamiku jemput pake motor, aku suka ketiduran di motor. Dan, itu bikin suamiku panik karena takut aku jatuh.

Sabtu-Minggu aku pake buat bikin tugas dan belajar. Kasih pengertian ke anak-anak kalau emaknya lagi sekolah dan harus belajar. Alhamdulillah aku punya suami dan anak-anak yang pengertian dan mendukung. Aku juga bersyukur punya ART saat itu. Kalo nggak ada, mungkin aku pun akan teler. Jadi aku dikelilingi support system yang kece badai.

Keputusan kuliah lagi tentu didasarkan dengan beberapa pertimbangan.

  1. Suami mendukung
  2. Aku sudah menguasai pekerjaanku jadi in syaa Allah gak terlalu bikin stress.
  3. Jarak tempat kerja (saat kuliah aku jadi konsultan di salah satu kementerian di daerah Jakarta Pusat) dan kampus (UI Salemba) relatif dekat.
  4. Anak-anak sudah cukup besar. Ada ART yang bantu
  5. Waktu kuliah gak lama. Cuma 2 tahun dan waktu kuliah efektif cuma setahun lebih. Beda sama S3.
  6. Kondisi keluarga baik (anak-anak dan suami sehat, kerjaan suamiku aman, anak-anak sekolah dengan baik) jadi aku bisa lebih fokus kerja dan belajar. Tentu kegiatan-kegiatan rutin sebagai ibu tetap harus dikerjakan ya.
  7. Dan beberapa pertimbangan lain.
Alhamdulillah, dengan kuliah lagi, aku dapat meningkatkan kemampuan dan percaya diri.

Kalau boleh kasih saran ke ibu-ibu yang mau kuliah lagi:
  1. Harus punya alasan yang kuat untuk apa kuliah lagi.
  2. Keluarga mendukung
  3. Untuk ibu-ibu yang perfeksionis untuk urusan rumah (ini aku nih), harus bisa menurunkan standar kualitas rumah bersih dan rapi hihihi.
  4. Bisa membuat skala prioritas sehingga gak gampang panik kalo gak sesuai rencana
  5. Relaks. Tetap ada ‘me time’
  6. Pastikan support system aman.
Semoga bermanfaat, ya.
**

Bagaimana? Sangat menginspirasi ya, teman-teman. Semoga kisah Bunda April di atas bisa "membakar" semangat kita semua, terutama buat yang pengin kuliah lagi. Semoga niat kita dimudahkan Allah. Aamiin.

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. Masyaa Allah... Baru bacaaa... Jazakillah khair, Mi. Semoga manfaat utk pembaca blogmu. Kudoakan semoga segala mimpimu bisa tercapai ... Semangaaat

    ReplyDelete
  2. Masyaallah memang inspirasi sekali Bunda April nih. Sekali dapat materi dari beliau memang luar biasa bikin semangat menggebu-gebu.

    ReplyDelete
  3. MasyaaAllah, keren banget bunda April

    ReplyDelete
  4. Bun Bun April emang keren dari dulu 👍👍👍👍

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)