Pengalaman Seru di Ruang Operasi (Caesar)

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - April 06, 2019


"Aku pengin lahiran normal," kataku pada suami
"Yang terbaik aja," jawabnya
"Dukung dong, Mas. Aku kan penginnya normal," ngegas 😂
Ini percakapan di awal hamil.

Sampai detik ini pun kalau ditanya pengin lahiran cara apa ya pasti kujawab normal. Bukan karena pengin dibilang ibu sejati atau wanita idaman sejagad raya atau semacamnya, tapi lebih ke alasan fitrah aja. Kan emang sama Allah udah ditakdirkan kalau wanita pasti bisa melahirkan normal alias alami. Begitulah pemikiranku.

Faktanya, karena alasan medis yang intinya berhubungan dengan keselamatan sang ibu, akhirnya operasi caesar menjadi opsi.

Nah, berhubung tulisan-tulisan yang beredar di dunia maya tentang lahiran caesar selama ini tuh beraura meloww, maka aku pengin nulis dari sudut pandang yang berbeda. Melahirkan caesar itu seru juga kok. Dan lagi, tiap cara melahirkan emang punya ceritanya masing-masing, kan.

Buat calon ibu yang kelak ternyata harus melahirkan secara caesar, santai aja. Pleasee, enggak usah baferr saat ada yang bilang kalian bukan ibu sejatii. Toh, mereka bukan juri. Daripada melow, mendingan baca pengalaman seruku. Siapa tahu, bisa menginspirasi. Huehehe.

Dan buat kawan-kawan yang bisa lahiran normal, alhamdulillah selamat, ya. Enggak perlu juga kok menjaga perasaan kami. Lha wong apanya juga yang mau dijaga. Punya anak kan harusnya senang. Natural aja. Tapi kalau bisa ya jangan nyinyir juga, sih. Mending kita bahu membahu saling mendukung jadi ibu yang baik demi generasi yang lebih cerah. 😁

Okaii, aku lanjutin ceritaku, yaaa.

Sejujurnya, aku rada takut juga saat mau lahiran caesar. Selama ini, aku belum pernah (dan enggak pengin) "bergaul" begitu dekat dengan rumah sakit dan segala macam peralatannya. Kalau pun sakit, cukuplah istirahat, beress. Bahagia banget, deh.

Makanya, saat harus operasi caesar, yang kebayang pertama kali adalah beragam peralatan rumah sakit yang menurutku horror.

Jadi ingat pertama kali ketemu suami di acara pemeriksaan golongan darah dimana dia jadi yang meriksa dan aku jadi pasiennya. "Sakit nggak, Kak," tanyaku pada laki-laki yang saat itu masih jadi kakak kelas. Bukannya sok imut, tapi aku emang takut disuntik.

Namun, semua ketakutanku seolah sirna ketika akan resmi menjadi seorang ibu.

Dimulai dari Kamis malamnya, ketika darahku diambil. Dilanjut, Jumat paginya, saat aku mengenakan baju biru sebelum resmi diangkut ke ruang operasi (ini enggak masalah, sih). Kemudian, diakhiri dengan punggungku ditusuk untuk memberikan efek mati rasa sebelum perut dibedah. :)

"Dingin, ya," kata suamiku yang ikut masuk ke ruang operasi yang kutahu bahwa dia hanya sekadar mengalihkan perhatian saja.

Ya, rasa di perut yang tiba-tiba dingin seperti diberi jeli menandakan... dokter sedang membuka satu per satu lapisan demi lapisan perut hingga sampai ke tempat dimana bayi berada.

Ruangan operasi enggak terasa horror lagi karena murotal sayup-sayup mengiringi perjalanan kami. Di samping itu, jelas karena ada suami. Pengin sih berseloroh dengan bilang, "Dok, tolong dong lemak-lemaknya diambil sekalian biar kempes," tapi apa daya aku enggak punya tenaga karena semalam sebelumnya disuruh puasa.

"Siap, ya!" dokter memberi aba-aba ke rekannya yang lain.

Lamunanku buyar saat mereka bilang kalau nanti akan ada sensasi perut seperti didorong saat bayi diambil.

Sementara itu, tanganku terus digenggam suami.

Dan, benar. Dadaku semakin menyempit karena perutku seperti ada yang mendorong dan mengobok-obok.

Taklama kemudian, suara tangis bayi laki-laki terdengar sangat jelas. Aku dan suami berpandangan lega.

Aku mengangguk yakin ketika suami yang juga dengan gesturenya seolah meminta izin untuk pergi menyambut si bayi.

LEGA, itulah yang aku rasakan. Pengin nangis rasanya saking senengnya. 😂

Adakah yang juga mengalami euforia sepertiku? Terutama yang sudah menantikan laamaa.

Setelah mendapatkan informasi detail mengenai kondisi bayi (alhamdulillah sehat) seperti berat badan, panjang, dan semacamnya, aku dipindah ke ruang pemulihan. Tentu, perutnya dalam posisi udah ditutup, yess. Cuma emang masih mati rasa ajaa bagian perut ke bawah jadi ya belum bisa lincah lagi.

"Bu, nanti kalau efek bius lokalnya udah hilang siap-siap ya ngerasain cekit-cekit,"

"Iya, Mbaa," jawabku penuh percaya diri. Dalam hati bergumam "halah, paling sakitnya ya gitu itu,"

TERNYATAA...

Jika melahirkan normal sakitnya di awal, maka caesar sebaliknya. Aku jadi menyesal sudah menggampangkan. Bahkan untuk sekadar miring ke kiri dan ke kanan saja saakitt. Jangankan bergerak, cuma bersin atau ketawa ajaa, sakitnya di perut sangat luar biasa.

Padahal rencanaku, setelah lahiran caesar, aku pengin mandi, beberes badan, dandan cantik, terus gendong bayii. Ndilalah, semuaanya cuma mimpi. Aku jadi merasa ketipu dengan iklan ibu-ibu habis lahiran langsung bisa gendong bayi dengan bahagia di televisi. Xixixi. Naif banget, sih. Kemakan iklan banget, yaa.

Meski demikian, aku bersyukur karena bisa IMD (inisiasi menyusui dini). Alhamdulillah. Sangat bersyukur sama Allah karena aku bisa memberi bayiku ASI. Saat menulis ini, aku sedang melakukan proses penyapihan dengan cinta. Doakan, yaa.

Ruang operasi ternyata enggak seseram yang kubayangkan. Aku yang sejak muda sudah sangat alergi dengan beragam peralatan medis, aku yang sejak beliaaa enggak pernah berteman akrab dengan merekaa, nyatanya saat jadi ibu... pecah telor juga. Berbagai macam peralatan untuk membedah perut manusia terpampang nyata di depan nyata.

Aku yang saat awal hamil pengin banget lahiran normal karena emoh berhubungan dengan semua alat tersebut, nyatanya saat menjadi ibu... yang tadinya kuhindari justru jadi perantara penyelamatku. Mungkin ini cara Allah membuatku bersahabat dengan mereka. ❤

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Ternyata ruang operasi GK seserem omongan org2 ya.. sesar itu sakitnya malah habis melahirkan ya,,, sesakit apa ya??😂

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah pernah ngerasain meski ga persis banget miy, pas operasi pengambilan janin diluar kandungan, meski yg dibedah bukan rahim. Tapi biusan lokalnya sama di tulang punggung dan perut berasa diobok2. Setelahnya menggigil kl aku. Sakitnya di perut kayak mati rasa aja di awal ya, tapi alhamdulillah terlewati. Dan saat melahirkan normal, kembali merasakan sensasi yg berbeda. Perempuan sungguh warbiyasak. Masyaa Allah

    ReplyDelete
  3. Awwwww.. suka banget bacanya mba :D
    Bener banget, sebenarnya gak usah dibawa baper2 kalau ada yang remehin lahiran sesar.
    Saya malah bangga sesar, bahkan bangga sesar karena dibilang cemen wakakakak

    Mungkin karena cuek tersebut saya fain2 aja denger beragam ekspresi orang saat tau saya sesar 2 kali, apalagi kalau ditanya kenapa sesar.
    Saya malesjelasin panjang lebar, jadi saya bilang baca aja di blog saya, atau bilang
    "Saya takut lahiran normal, kata orang2 sakit banget, saya kan cemen"
    wakakakakakaak

    Dan biasanya, denger kata2 begitu mereka cuman geleng2 kepala, gak berniat lanjutin pertanyaan lagi :D

    Tapi betewe, kasih tau ceritanya dong, kok pak suami bisa masuk nemanin saat sesar?
    Saya 2 kali sesar, sendirian dong ga boleh ditemanin keluarga :D

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)