5 Hal Ini Penting Kamu Cermati saat Baru Tahu kalau Hamil setelah Sekian Lama Menanti

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - April 01, 2019



Mengeluarkan semua isi perut (di kamar mandi)!
HAL PENTING yang kulakukan saat sampai terminal 2 Juanda. 1,5 jam, kumenahannya sejak dari Balikpapan. Enggak biasanya, aku seperti itu. Selama ini, perjalanan darat, laut, maupun udara selalu kunikmati. Tapi kali ini, semua seolah takmau kuajak kompromi.

Perjalanan terakhirku Balikpapan - Surabaya karena setelah tahu kalau hamil, aku enggak balik lagi ke Borneo
Sempat terbersit, "Jangan-jangan...", tapi segera kutepis. Bukannya menolak, cuma takut patah hati lagi. Jadi ya lebih baik enggak berharap, enggak GR. Kurasa, sikap sok cuek tsb lebih aman untuk perasaanku yang kerap "terjungkal" saat menerima kenyataan yang enggak sesuai harapan. Yang mengalami menunggu kehadiran buah hati sewindu atau bahkan lebih sepertiku pasti memahami. :)

"Beli sushi yuk sambil nunggu travel," ajak suami setelah mengambil dua koper berukuran sedang di bagasi.
Aku mengangguk cepat.

Kukira, setelah makan, mualku akan berhenti. Nyatanya, malah makin menjadi. Untung, aku bisa menahannya hingga sampai Malang 2 jam kemudian.

"Kok kamu kayak hamil gitu, ya?" komen kakakku yang kujawab dengan tertawa keras.

"Meteng, ta, kok kayak beda," tanya tetangga yang kujawab cepat sembari menggelengkan kepala.

Sebenarnya, aku sadar kalau ada yang enggak beres di diriku. Tapi, aku pura-pura enggak tahu. Telat datang bulan, badan rasanya "mekar", di dalam perut seolah ada kupu-kupunya, adalah beberapa tanda enggak biasa itu.

"Jangan-jangan..."
"Enggak, ah. Enggak boleh GR. Kecewa itu sakit. Udah, ah. Enggak mungkin,"

"Jangan-jangan..."
"Ntar aja nunggu kurus,"

"Jangan-jangan..."
"Ntar, kalau suami dimutasi biar enggak rempong,"

Kutanya-tanya dan kujawab-jawab sendiri semua gejolak hati. Bila pun sharing, ya palingan sama suami.

"Moga-moga, ya," jawaban dia dari masa ke masa ketika aku cerita seperti ada yang berbeda dengan diriku, tubuhku.

Perjalanan Malang - Yogya membawa berjuta pertanyaan tentang dan dalam diriku
Keanehan dalam diriku masih belum beranjak juga saat aku dan suami ke Yogya. Malah, di kereta yang membawa kami dari Malang, perutku seperti ditusuk. "Mungkin mau datang bulan secara kan belum," terangku pada suami ketika dia bertanya aku kenapa.

Seminggu di kota gudeg mengikuti suami dinas memberikanku kesempatan untuk keluyuran ke mana pun aku suka. Ya, hitung-hitung sambil nunggu suami selesai acara. Daripada bengong aja di hotel, ya kan. Enggak kupedulikan rasa sakit di perutku yang makin menjadi. Yang ada, aku malah makin aktif bergerak ke sana ke mari dan... olahraga seperti plank, sit up, & push up.
"Mbak Mio kok kayak beda, ya," kata salah satu di antara dua tetehku ini saat ketemu
Salah satu teteh yang kutemui di sana sempat komen kalau auraku seperti aura orang hamil. Tapi, lagi-lagi, aku hanya tertawa.

"Apa mungkin ya aku hamil," tanyaku pada diri sendiri saat kereta membawa kami ke Malang dari Yogya dini hari.
Pertanyaan yang kuajukan saat pergi pada diri sendiri nyatanya belum mampu kujawab saat pulang
Aku sempat menyesali tindakan ceroboh: melakukan kegiatan fisik terlalu keras. Gimana kalau ternyata aku hamil terus enggak jadi. Padahal, 8 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu. Segala pikiran berkecamuk, tapi malas aku ungkapkan. Takut mengecewakan orang-orang juga yang selalu berharap aku bisa hamil.

Seminggu kemudian, tepatnya 26 September 2016, aku beranikan diri untuk testpack.

ALLAHU AKBAR
Akhirnya, aku merasakan TP positif juga :)
Saat itu, aku masih di Malang. Rencananya, aku ke Balikpapan sekalian bareng suami. Dia ada acara gathering kantor di Malang dan Batu. Maka, ketika akhirnya tahu kalau hamil, suami langsung melarangku naik pesawat. Meski dokter membolehkan, tapi mengingat untuk dapat anak enggak semudah mengedipkan mata, kami memilih konservatif dan berhati-hati. Aku di Malang sampai lahiran. Suami saja yang ngalahin Balikpapan - Surabaya - Malang.

Kalian yang juga tidak mudah dalam mendapatkan buah hati adakah yang memiliki pengalaman sama? Merasa "hopeless" dan enggak pengin GR ketika tanda-tanda hamil semakin jelas karena enggak mau lagi kecewa? Tahu-tahu, udah hamil berapa bulan aja seperti pengalamanku kemarin. Ehm, sebenarnya enggak bisa dikatakan keren, sih. Malah, kalau boleh kubilang SEMBRONO. Harusnya begitu ada sedikit saja tanda-tanda berbadan dua, kita sebagai ibu harus tanggap. Aku sendiri bersyukur anak pertamaku lahir dengan selamat dan lengkap tanpa kekurangan suatu apa pun. Karena, sebelum ketahuan kalau hamil, aktivitas fisikku lumayan keras.

Maka saat kemudian tahu kalau positif hamil, aku jelas enggak mungkin bisa lagi cuek seperti sebelumnya. Pun kurasa kalian. Adakah yang akhirnya hamil setelah ke sana ke mari ikhtiar sepertiku kemudian memutuskan untuk pasrah total? Jika ada, 5 hal ini penting kamu cermati saat baru tahu kalau hamil setelah sekian lama menanti:

1. Pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kalau kita benar-benar hamil dan untuk mengetahui kondisi si janin saat ini. Konsultasikanlah pada "yang berwenang" daripada berspekulasi ke sana ke mari. Test pack positif memang belum tentu 100 persen hamil. Itu sebabnya, agar enggak terjebak dalam kebahagiaan semu, ya mending langsung saja pastikan pada ahlinya.

2. Jika sudah benar-benar positif, enggak ada salahnya memberi tahu saudara untuk memohon doa. Suami adalah orang pertama yang kuberi tahu. Orang tua, mertua, dan saudara, adalah yang berikutnya. Dari mereka, doa tulus dipanjatkan agar bayi yang ada dalam kandungan selamat.

3. Update status di media sosial? Ehm, tahan dulu, deh. Jika poin nomor 1 dan 2 bisa dibilang wajib, maka nomor 3 ini opsional. Malah kalau bisa jangan dulu.
Statusku emang normatif alias biasa-biasa aja, tapi di kolom komentar emang aku jelasin kalau hamil. Xixixi.
"Jangan senang dulu, Mi. Pengalamanku sih pas ngalamin hal kayak kamu ternyata cuma hamil bohongan. Padahal, aku dah seneng aja. Dokter juga bilang kalau aku hamil, ternyata enggak. Ya kali kamu juga hamil bohongan. Apalagi kamu susah hamil kan katanya. Jangan bahagia dulu, sih,"

Mungkin maksudnya emang baik biar aku enggak terjebak dalam euforia, tapi enggak bisa dimungkiri juga kalau kata-katany sedikit memadamkan perasaan bahagia yang kurasakan. Bagi seorang ibu yang sudah menunggu lama, tentu kehamilan adalah sesuatu yang sangat dinanti. Ketika kemudian ada yang... semacam merusak kebahagiaan dan harapannya, yaa... gimana, ya. Enggak bisa juga dibilang enggak terpengaruh walau cuma 1 atau nol koma sekian persen.

Komen di atas hanya segelintir contoh dari lumayan banyak komen serupa. Bersyukur, aku dan suami yakin kalau memang benar-benar hamil. Bersyukur pula, yang mendukung jauh lebih banyak.

Dari pengalaman ini, aku menyadari memang agar tidak terlalu ekspresif dalam menuliskan kabar bahagia di ruang publik. Aku sampaikan pengalamanku ini ke teman-temanku yang kala itu juga sedang menunggu hamil. Alhamdulillah, ketika kemudian diberi kesempatan untuk menjadi ibu setelah sekiaan lama menunggu (lebih lama daripada aku), mereka baru gembar-gembor di media sosial pas hamil tua/sesaat sebelum melahirkan, beberapa malah pas udah lahiran. Xixixi.

4. Menyadari dengan sepenuh hati bahwa kamu kini sudah berbeda, enggak bisa lagi egois. Ketika positif hamil, aku menghentikan semua kebiasaan enggak sehatku seperti minum kopi atau makan mie instan. Aku juga enggak lagi jajan daging setengah matang seperti steak atau sate. Bukan berarti parnoan sana-sini juga enggak gitu sih, tapi poinnya adalah... aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku. Meski untuk mewujudkannya, aku harus mengorbankan hal-hal yang kusenangi. Buatku enggak masalah, toh aku udah puas. Hehehehe. Naluri sebagai seorang ibu seolah terpanggil dengan sendirinya ketika seorang wanita pada akhirnya hamil. Aku membuktikan kalimat tersebut benar adanya.

5. Bersyukur, berdoa, dan semakin banyak belajar. Bersyukur dan berdoa tentu menjadi bagian tak terpisahkan ketika Allah mengabulkan doa. Jika bagi teman-temanku memiliki anak bukan sesuatu yang sulit, tapi tidak buatku. Itu sebabnya, ketika Allah kemudian mempercayakanku sebagai ibu, rasa syukur itu enggak pernah habis. Doa agar aku bisa menjadi ibu yang baik juga enggak pernah lupa. Namanya manusia, pasti sangat butuh bimbingan dari Sang Pencipta, bukan. Saat hamil tersebut, aku juga tercatatat sebagai siswa Institut Ibu Profesional. Menjadi ibu bukan berarti berhenti belajar, justru harus semakin rajin belajar. Pinsipku.

Itu tadi sedikit pengalaman saat memulai karier sebagai ibu. Semua bermula dari sikap enggak sadar kalau hamil karena udah kebal keseringan test pack hasilnya negatif. Maka, ketika mengalami tanda-tanda seperti orang hamil, aku enggak mau berimajinasi ke mana-mana karena takut kecewa lagi. Tapi ketika kemudian positif benar-benar hamil, aku pun enggak bisa lagi cuek seenaknya. Jika saat jadi pegawai, kita harus amanah dengan perintah atasan yang notabene sama-sama manusia. Apalagi ini, jadi ibu, yang memberi mandat langsung Sang Pencipta. Maa syaa Allah.

Bagiku, bulan April ini sangat istimewa. 21 April 2017, aku melahirkan bayi laki-laki. Itu sebabnya, tema ngeblog bulan ini adalah yang berhubungan dengan kehamilan, kelahiran, dan perkembangan buah hati. Selain agar terdokumentasi dengan rapi, ya semoga postinganku ini bisa bermanfaat untuk semua ibu dan calon ibu di luar sana. Lebih-lebih, untuk semuaa calon ibu yang sedang menunggu, sungguh... kalian tidak pernah sendiri. Ada aku. :)

  • Share:

You Might Also Like

18 comments

  1. Kdg kita sbg ciptaannya tdk bisa tahu apa yang akan terjadi, termasuk kelahiran. Allah menunda pasti ada hikmah dibalik itu. Jd yakinkan bhw Allah akan memberi yg terbaik utk kita

    ReplyDelete
  2. Wah, sebagai seorang single, belum menikah, dan belum punya anak, mungkin saja saya bukan target postingan ini (dan postingan mbak Mio pada bulan ini)? Hm, tapi mungkin juga saya bisa menjadi target pembaca untuk menambah ilmu pra-insyaallah saya di kemudian hari.
    Semangat menjaga dan mendidik buah hati buat para orangtua. Selamat membangun generasi.

    ReplyDelete
  3. Wah alhamdulillah ya mbaaak setelah menanti akhirnya hasilnya nggak mengecewakan. Sehat sehat selalu :)

    ReplyDelete
  4. Whaaaaaa, seneng banget ya mbak nya.. setelah nunggu lama,akhirnya dapet juga.. semoga sehat selalu:))

    ReplyDelete
  5. Keren Mb Mi. Keep inspiring. Semoga Allah memberikan amanah yang terbaik kepada semuanya. Alloh Maha tahu waktu dan tempat terbaik untuk hamba hamba yang dicintaNya.

    ReplyDelete
  6. Sewindu yg luar biasa ya... Masya Allah.
    Dan saya pun jadi ingat penantian novelis Hanum Rais setelah 11 tahun menunggu barulah Allah beri kado buah hati terindah.

    ReplyDelete
  7. Huaah aku pun lama menanti mbak.. setelah 2 tahun menikah akhirnya ngerasain TP positif tapi cuma bentar 3bulan langsung kuret. Itu udah setaun lalu sekrang belum ada tanda-tanda lagi. Mudah-mudahan Allah segera ngasih amanah lagi sama aku aamiin

    ReplyDelete
  8. Wah, mendapatkan apa yang setelah sekian lama diperjuangankan dalam penantian itu memang luar biasa rasanya ya... saya pun yang alhamdulillah nunggunya gak lama, saat lihat garis dua itu rasanya bahagia pakai banget. Masya Allah... ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah...berarti buah hatinya sekarang usianya 2 tahun ya? Duh senangnya, baru kucu-lucunya...๐Ÿ˜€

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah ya Mbak, baby yg dikandung kuat. Padahal Ibunya udah olahraga berat gitu. Kembali lagi klo Allah bilang ya, maka itu yg akan terjadi.

    ReplyDelete
  11. Masya Allah... Alhamdulillah, nikmat Allah itu memang dekat dan tiada disangka-sangka. Sayapun ikut merasakan kegembiraannya. Iya Mbak.. Benar.. Sebaiknya jika "telat" segera pastikan dgn konsul ke dokter atau bidan, demi kesehatan buah hati dan sang ibu tentunya๐Ÿค—

    ReplyDelete
  12. Semoga sehat n selalu bisa berkarya ya mba :)

    ReplyDelete
  13. Sama mba aku dulu awal2isi ndah tau juga kalo hamil masih tetep aja kemana2 berasa gak ada apa2

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah akhirnya 8 thn waktu penantian hamil juga ya mba. Pasti wktu itu senang skali yaa.
    .

    ReplyDelete
  15. aku merasakan apa yang dikau rasakan mbak, bedanya aku hanya menunggu 9 bulan hingga merasakan dua garis. Tapi setiap bulan terlambat pas dicek negatif..pas di bulan 9 terlambat lagi..tp gak mau ngecek takut kecewa lagi...eh ternyata malah beneran hamil hehehe..sukses selalu mbak miyosi :)

    ReplyDelete
  16. Ya ampun mba, ini persis banget kayak aku. Baru ngeh dan ketahuan hamil pas lagi di luar kota cobaa. Akhirnya, pas mau balik pulang ke Jakarta jadi kudu hati-hati banget soalnya sempat ada flek waktu itu. Alhamdulillahnya, enggak kenapa-kenapa hihii. Sehat-sehat terus ya mbaaa

    ReplyDelete
  17. Wah.. keren ceritanya mb, Saya juga dulu ga tau hamil kayak mb, udah 4 bulan janin di kandungan, emaknya ga nyadar. Masih tetap lakukan kerja berat dan hal lainnya, pas tau lagi hamil semua dengan cepat berusaha menjaga kandungan dengan baik. Alhamdulllah lahir dengan sehat anak saya mb. Terima kash sharingnya mb.

    ReplyDelete
  18. Diberi titipan Allah semoga amanah..
    Masih banyak diluar sana belum diberi kesempatan Oleh Allah
    Selamat mendidik generasi emas

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)