Hari ke-67 di Jepang: Hasil Jalan dan Nggowes Mengeksplorasi sebagian Kecil Tsukuba Hari Ini

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - March 07, 2020


Temanya masih sama seperti kemarin: nggowes. Ini juga efek karena belum bisa pergi ke yang rada jauhan. Jadilah mengeksplore Tsukuba aja dengan jalan kaki dan sepeda.

Pagi ini diawali dengan hujan rintik kemudian mendung. Meski demikian, hal tersebut enggak menyurutkan niatku untuk pergii sendirian. Metime-nya emak-emak ya gini. Sederhana aja sih. Cukup ninggal anak dan ayahnya bersama dengan makanan yang udah disiapin lengkap untuk sekadar menghirup udara segar di luar. Apalagi, di Jepang ini beneran minim polusi. Jadi merasa sangat rugi kalau kerjaannya hanya nggendon di rumah. Wkwkwk.

Hal lain yang juga kusukai selama di Jepang ini adalah mau ngalor-ngidul sendirian relatif aman dan nyaman. Jadi enggak perlu bareng siapa-siapa alias benar-benar bisa pergi sendirian kapan aja dan ke mana aja. Bukannya enggak mau bareng atau ansos ya, tapi kadang-kadang kita benar-benar butuh ruang untuk sendiri sesendiri-sendirinya sebelum kembali ke keramaian atau lingkungan sekitar. Dan tentu saja, semua itu bisa tercipta dengan sempurna kalau AMAN (no abang-abang kurang ajar/sksdsb/bahkan copet). Tentu, sebagai pendatang aku berharap semoga ke depannya juga aman dan nyaman begini. Aamiin.

Nahh, berhubung paginya rintik, aku enggak pakai sepeda pancal, cukup jalan kaki. Rutenya sama sih seperti kemarin: dari Ichinoya ke Tsukuba Senta. Bedanya, pulangnya naik bus.

Jarak dari dormiku ke Tsukuba Senta 6 km, ya ini emang mampir-mampir gitu sih buat foto-foto, plus emang lewat jalan lain karena jalan yang biasanya kulewati ditutup.

Jalan kaki ditemani udara yang lumayan dingin ituu seruu bangett. Apalagi, enggak cuma aku yang seperti ini. Di sepanjang jalan, aku melihat banyak orang berolahraga mulai dari jogging, lari, sampai hanya sekadar jalan cepat sepertiku.

Dari Ichinoya, aku lewat depan sebelum halte Norin. Dari sana, aku langsung menuju kampus suami, melewati Hirasuna, Oikoshi, Tsukuba Medical Center Hospital, Azuma, dan berakhir di Tsukuba Senta. Lumayan banget, sih.

Salah satu hal yang membuatku merasa terharu yang udah aku alami berkali-kali selama di sini termasuk hari ini adalahh saat menyeberang jalan yang cuma ada zebra cross aja alias enggak ada lampu merahnya, pengendara kendaraan bermotor autongalah dan ngasih jalan. Aku pun auto melakukan apa yang orang-orang di sini lakukan, membungkukkan sedikit badan ke mereka tanda terima kasih. Bagiku, itu sesuatu yang sederhana, tapi kok ya bikin nyess gitu ya. Xixixi.

Pulang dari jalan, alhamdulillah Taka sudah dikasih makan ayahnya. Mereka sedang bermain ketika kusampai. Alhamdulillah. Suami sholeh. Moga setelah selesai studinya langsung ditempatkan di sini, yaa. Aamiin. wkwk. Namanya juga harapan yekann. LOL.

Sorenya sempet pengin ke tempat tetangga untuk melakukan sesuatu, tapi ternyata mereka lagi pada pergi. Baiklahh... akhirnya aku lanjut eksplor edisi kedua. Kali ini sama anak dan suami, naik sepeda pancal. Rutenya lebih jauh, ke Doho Park, salah satu taman terkenal di sini.

Jika pas jalan kaki pagi tadi jarak yang kutempuh 6 km, maka saat menggunakan sepeda pancal PP 17 km. Mayan legalah ya.

Teruss kalau disuruh milih antara jalan atau nggowes, aku pilih mana? Ehm... bingung juga karena dua-duanya menyenangkan. Semuanya menggerakkan seluruh anggota tubuh sih. Tapi mungkin kalau nggowes memang rada ribet kalau mau mampir-mampir, apalagi parkir di sini kan mahall. Jiwa akuntansiku meronta-ronta jadinya. Sedangkan kalau jalan kaki, emang relatif lebih  mudah mampir-mampir tapi rada lama waktu tempuhnya. Ya, memang semua ada plus minusnya sih ya. 

Selanjutnya, seperti biasa, biarkan foto aja yang akan berbicara dan bercerita.

Edisi exploring Tsukuba by walking and cycling. Apa aja yang aku temukan?


Ume yang kutemukan di jalan menuju Doho Park, setelah Takezono Park. Foto: dokpri.
Penampakan Tsukuba Senta saat mendung. Foto: dokpri.
Lokasi dekat Kasumi. Foto: dokpri.
Melewati salah satu tempat belanja. Foto: dokpri.
Taka senang bermain dengan para bebek yang bersihhh banget. Nikmati masa kecilmu, Nak. Foto: dokpri.
Penampakan Tsukuba Chuo Park saat mendung. Foto: dokpri.
Lokasinya 2,5 km dari Tsukuba Senta atau sekitar 7 km lebih dari Ichinoya. Foto: dokpri.
Salah satu spot favorit di Doho Park. Foto: dokpri.
Enggak cuma Taka, anak kecil lain pun bahagia ketika diberi kebebasan, kita? Foto: dokpri.


Kebahagiaan anakku sederhana, dilepas di alam bebas, sesuai dengan namanya Taka yang artinya Elang. Foto: dokpri.


Sendiri bukan berarti merana, itu pilihan. Foto: dokpri.


Tsukuba medical center hospital yang begitu asri.. Foto: dokpri.


Taka bersama teman-teman baru. Foto: dokpri.


Lihat bebek-bebek ini jadi ingat pepatahnya Bung Karno, "Bebek berjalan berbondong-bondong, Elang berjalan sendirian". Foto: dokpri.


Ada yang berlarian, ada yang ngasih makan bebek, indahnya. Foto: dokpri.


Menjauh ketika didekati, mendekat ketika dijauhi. Foto: dokpri.


Ada rumah di ujung sana, jadi ingat film Lake House. Foto: dokpri.


Matsumi Park. Foto: dokpri.


Ume yang sama di kampus. Foto: dokpri.


Ume dilihat dari jauh seolah mengingatkan diri bahwa menjadi berbeda kadang memang istimewa. Foto: dokpri.


Enggak ada macet, nikmat Allah mana yang kamu dustakan? Foto: dokpri.


Jalur yang berbeda dari kemarin, lupa namanya apa. Foto: dokpri.


Alam selalu membawa ketenangan. Foto: dokpri.


Berharap Tokyo 2020 lancar dan sesuai rencana. Foto: dokpri.


Sepi. Foto: dokpri.


Belajar di sini kayaknya seru juga. Foto: dokpri.


Di mana? Foto: dokpri.


Di sisi kiri sedang ramai remaja main bola, tapi demi etika ya enggak aku foto, xixixi. Foto: dokpri.


Entah berapa kali lewat ini selama di sini. Foto: dokpri.


Jadi ingat film-film misteri. Foto: dokpri.


Pagi ini. Foto: dokpri.


Kemarin. Foto: dokpri.


Sore ini. Foto: dokpri.

Pernah merasa enggak bisa ke mana-mana karena suatu hal? Misal kalau aku sekarang karena himbauan pemerintah jangan pergi ke tempat jauh dulu (terutama ke daerah yang sudah terindikasi virus yang lagi dibicarakan di mana-mana) sampai pertengahan Maret. Enggak usah galau, sih. Kita bisa mengeksplor sekitar yang mungkin selama ini kurang kita perhatikan karena perhatian kita ke yang jauh. Nah, kalau tempat tinggal teman-teman gimana, nih? Pasti juga ada yang seru yang bisa diulik. Yukss.

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)