Hari ke-346: 7 Hal yang Membuat Betah Tinggal di Jepang

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - December 11, 2020



Tulisan ini sifatnya opini pribadi. Bukan berdasarkan pengamatan, melainkan pengalaman. Jadi, pastinya bukanlah tolak ukur karena setiap orang punya penilaian berbeda. Buatku, hingga hari ini, opini masih sama: negeri sakura begitu nyaman untuk hidup. Setidaknya ada 7 hal yang membuat betah tinggal di Jepang menurutku. Kelak, hal-hal ini akan sangat kurindukan ketika kembali ke tanah air tiga bulan lagi. :)

Apa saja 7 hal yang membuat betah tinggal di Jepang? Bisa jadi buat yang lain receh, tapi bagiku sangat berarti.

1. Enggak perlu bingung beli gas plus memasangnya :)

Yups, aku tinggal di dormitory dimana untuk urusan yang satu ini benar-benar terintegrasi. Enggak perlu repot-repot beli gas, terus angkat sendiri, kemudian masang karena yang kita lakukan cukup muter colokan dekat kompor gas dari off ke on terus capcuz pakai kompor gasnya dengan bahagia, aman, dan nyaman.

2. Kompor bisa mati sendiri otomatis

Enggak perlu khawatir makanan gosong karena kompor akan otomatis mengatur dirinya sendiri entah itu apinya yang jadi kecil atau bahkan mati ketika kondisi mengharuskan untuk itu.

Poin 1 dan 2 ini menurut hematku berkaitan dengan keamanan, terlebih bagi yang tinggal "ramai-ramai" di dormi/apato/yang semacamnya. Bayangkan jika ada salah satu warga yang lalai masang kompor gas enggak benar atau ketiduran saat masak, habis deh satu gedung. Na'udzubillah. Dengan terintegrasi semacam ini, risiko-risiko semacam itu bisa diminimalisir.

3. Tidak perlu 24 jam sibuk dengan urusan rumah tangga karena alat-alat "doraemon" bukan lagi barang mewah yang hanya orang-orang tertentu saja yang punya. 🤭

Di sini, semuaa kegiatan rumah tangga kulakukan bareng-bareng dengan suami. Enggak ada bala bantuan saudara, orang tua, mertua, atau ART (sejak nikah juga gak punya karena aku kurang suka ada orang "ketiga" masuk dalam kehidupanku tsahh). Tapi kok ya lancar-lancar aja gitu. Dulu di tanah air, aku tuh dua Minggu sekali pijat Bu Yuli. Enggak pijat sekali saja berasa dunia runtuh. Sekarang? Hingga detik ini belum sama sekali merasakan yang namanya pijat. Dan, ternyata masih tetap hidup alias baik-baik saja. :D

Tempat tinggal yang cuma segini-segini aja plus alat-alat penunjang yang ngebantu banget benar-benar memudahkan segalanya. Konsep hidup minimalis yang banyak dilakukan orang Jepang ini kan sebenarnya diajarkan oleh Rasulullah ya dengan konsep zuhud beliau. Ujung-ujungnya dengan gaya hidup seperti itu yang bahagia ya kita sendiri. No ngamuk-ngamuk dengan alasan mood turun karena 24 jam ngurusin rumah enggak pernah istirahat. :D

4. Mandi berendam bukan sok-sok-an alias b aja :D

Mandi berendam air hangat bukanlah hal yang mewah, tapi sebagai salah satu ikhtiar biar enggak sakit terutama di musim dingin seperti sekarang ini. Bahkan cara mandi orang Jepang pun ketika aku praktikkan benar-benar berpengaruh terhadap kualitas tidur yang lebih baik. Mungkin karena ini juga meski aku enggak pernah pijat lagi, tapi badan teteup fresh.

5. Transportasi umum supernyaman di mana pun bahkan hingga pelosookkk pelosookkk dan pelosokkk

Aku bersyukur bisa ngebolang ke tempat-tempat mainstream dan antimainstream selama di sini, termasuk ke pelosoookkkk. Dan yang bikin aku takjub, di pelosok pun ada transportasi publiknya berupa kereta yang nyamannya samaa. Cuma jumlah gerbongnya aja yang lebih sedikit. Bisa dibilang merataaa. Kalau merata kayak gini mau ngga tinggal di tempat super sepi? Mauuu. 🤭 Bahkan di pelosok pun teteup ada vending machine, konbini, stasiun, dan jalanan yang menunjang. Maa syaa Allah.

Satu lagi, adanya transportasi publik yang sangat sangat bisa diandalkan ini membuat emak-emak sepertiku yang hingga detik ini masih jiper belajar nyetir mobil karena masih trauma bisa keluyuran ke mana-mana sendiri tanpa harus nunggu suami libur atau cuti. Memanjakan bangett. 

6. Relatif aman

"Tolong beliin kopi dunk di vending machine," kata suamiku jam 12 malem (karena dia masih ada kelas online).

"Apaaa??? Jahat kamu, Mas. Tega!!" Alih-alih menjawab demikian, yang ada aku malah dengan senang hati keluar. Yeyy. Deuh, suami & istri macam apa ini. Sesuatu yang gak mungkin keluar dari mulut suamiku kalau gak tinggal di sini. Aku pun gak berani semisal di negara tertentu keluar di jam-jam hidung belang berkeliaran.

Alhamdulillah, enggak mau takabur juga karena sebaik-baik penjaga kan Allah. Tapi boleh dong ya kalau aku salutt dengan ikhtiar yang dilakukan orang-orang Jepang hingga membuat kondisi jadi relatif aman. Bukankah bisa ditiru? :)

7. Pelayanan yang ramah di mana pun itu

Ini yang bikin hatiku meleleh. At least sampai detik ini belum pernah ketemu mbak-mbak jualan judes atau semacamnya. 

Nah, itu tadi 7 hal yang membuat betah tinggal di Jepang. Senang? Alhamdulillah. Berdoa semoga gak cuma di negara-negara tertentu saja yang gini, tapi seluruhhh dunia. Kita tinggal di planet yang sama, boleh kan berdoa biar semua sama-sama bahagia juga?

Meski demikian, tinggal di sini bukan berarti mulus enggak ada tantangan. Pastinya adaaa. In syaa Allah akan kutulis di postingan selanjutnya.






  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)