(Cerbung) Budaya Patriarki: Mantan

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - February 03, 2019


(Cerita sebelumnya ada link ini)

**

"Untung ya Mas kita nggak jadi nikah. Untung, putuss, hahahah," kataku setengah becanda pada laki-laki di hadapanku yang tengah menyantap nasi goreng dengan lahap ini.

"Masee nasgornya yang pueedues, yaa!" ucapku kemudian pada Mas Agus, si empunya kantin kantor. Seolah, kata-kata tadi enggak ada efek sampingnya.

Padahal, laki-laki berkulit putih yang sejak SMP hobi makan nasi goreng ini langsung menghentikan acara makannya. Bau harum berbagai macam bumbu dari dapurnya Mas Agus yang enggak jauh dari tempat kami duduk seperti tak berdampak apa pun. Konsentrasinya kini ada pada kalimatku barusan.

"Mama suka nanyain kamu. Lita juga. Dia kemarin baru aja nikah. Sekarang, dia tinggal di Taiwan ikut suaminya yang asli sana,"

Tanpa kusuruh, laki-laki yang sekarang jadi rekan kerjaku ini memberi informasi mengenai kehidupan keluarganya yang dulu juga pernah jadi bagian dari hidupku.

"Erma gimana Mas kabarnya. Makin cantik, ya! Pas kapan gitu baca artikelnya di Facebook. Eh, lha kok ada fotonya. Cantikk bangett. Beruntung kau, Mas," sengaja takkurespon ucapannya dan malah membicarakan yang lain, istrinya.

Padahal dalam hati, diam-diam aku ikut berbahagia karena keluarga laki-laki yang pernah begitu berarti buatku selama 10 tahun itu hidupnya makin sukses. Alhamdulillah.

Tak ada jawaban. Kami sama-sama tenggelam dengan pikiran masing-masing. Aku menyendok nasi goreng yang baru saja datang sambil mengingat masa-masa ketika aku masih jadi gadis bodoh, tepatnya saat masih sangat mencintai laki-laki di depanku ini.

**

"Aku enggak mau ya Mas jadi ibu rumah tangga aja. Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau enggak kerja,"

"Pikiranmu terlalu sempit,"

"Kamu yang sempit, Mas,"

"Zaman sekarang, kerja enggak harus ke luar rumah,"

"Dan zaman sekarang, wanita berkarier di luar itu udah biasa. Jangan kolot,"

"Aku enggak kolot. Apa gunanya menikah kalau sendiri-sendiri,"

"Menikah bukan berarti melebur 100 persen, Mas. Kita tetap bisa jadi diri sendiri. Menjadi bintang di bidang masing-masing,"

"Yang kamu fokuskan kebanggaan, bukan kebahagiaan,"

"Kebanggaan juga bagian dari kebahagiaan, Mas. Jangan sok naif. Semua orang butuh diakui,"

"Terlalu bernafsu ingin diakui hanya akan menyiksa diri sendiri,"

"Aku cuma ingin membuktikan bahwa aku bisa. Aku enggak mau bergantung sama laki-laki, tapi bukan berarti enggak butuh laki-laki. Apa salah? Mas enggak pernah ngerasain yang aku rasain jadi enggak ngerti,"

"Sampai kapan pun, kita enggak akan pernah ketemu kalau begini terus,"

"Itu karena Mas terlalu kolot,"

"Setiap membahas ini, kita selalu bertengkar,"

"Kita udah kenal sejak SMP,"

"Kupikir, kita bisa sepakat seiring dengan berjalannya waktu,"

"Kita sudah melalui banyak hal. Udah saling mendukung di bidang masing-masing. Tapi kalau ujung-ujungnya nanti setelah nikah aku cuma jadi ibu rumah tangga, maaf Mas,"

"Sejak dulu masalah kita sama, ya. Enggak sepakat masalah ini,"

"Sejak dulu, Mas juga sama. KOLOT!"

...

Itulah pertengkaran terakhirku dengan laki-laki yang sudah beberapa bulan ini bekerja di kantor yang sama denganku. Pertengkaran yang terakhir terjadi ketika usia kami masih sama-sama labil: 21 tahun.

Dan, aku masih ingat Mama, sebutanku untuk mantan calon mertua, bilang seperti ini saat kami bertemu di acara wisuda.

"Arief mau diambil mantu sama dokter, Nak Tami. Doakan, ya. Alhamdulillah. Nanti kamu datang, ya,"

Entah, ucapan Mama kala itu membuatku panas. Cemburu, mungkin. Apalagi, ucapan-ucapan lain yang serupa bersahutan kemudian.

"Banyak banget yang pengin jadi mertuanya Arief,"

"Arief bingung mau pilih yang mana. Banyak banget yang suka sama Arief ya ternyata,"

Entah, ucapan Mama sengaja atau tidak. Tapi yang jelas sukses membuatku terluka.

Sejak putus dengan Mas Arief karena beda prinsip, dia ingin aku di rumah setelah menikah sedangkan aku ingin jadi wanita karier di luaran, hubunganku dengan Mama Mas Arief jadi renggang. Bahkan cenderung tegang. Mama yang dulu sangat ramah berubah jadi memanas-manasi. Atau, perasaanku saja yang sensitif. Entah.

"Sebenarnya, kamu dienakkan Arief. Dia kan penginnya kamu di rumah aja. Bukannya itu enak. Kamu enggak disuruh ikutan mikir cari duit," ucapan Mama lainnya yang sukses membuatku semakin mantap untuk mengakhiri hubunganku dengan laki-laki yang sudah kukenal baik sejak SMP, sejak berusia 11 tahun.

Di usia kami yang ke-21, sesaat sebelum wisuda, hubungan kami resmi berakhir. Saling dukung selama jadi bagian dari SMP favorit, SMA unggulan, dan PTN hanya tinggal kenangan.

Aku enggak mau jadi ibu rumah tangga aja meskipun bisa bekerja dari rumah. Aku ingin berkarier di luar, sesuatu yang enggak disetujui Mas Arief.

**

"Untung loh Mas kita putus," kalimatku membuyarkan lamunan kami masing-masing.

"Kalau enggak, mungkin aku nggak bisa seperti sekarang,"

"Simbok baik-baik aja?" dia balik bertanya hal serupa, bukannya merespon pernyataanku.

"Ehm... pernah nanyain aku, nggak?"

"Enggaklah," jawabku cepat dan... bohong.

Faktanya, simbok selalu bertanya tentang laki-laki yang selalu bersikap sopan dan enggak pernah minta yang aneh-aneh seperti laki-laki lain selama 10 tahun berteman dekat ini.

"Kalau Mama selalu nanyain kamu," jawabnya menerawang.

Aku sedih sekaligus senang.

"Enakan seperti ini, Mas,"

"Ganti-ganti pacar?"

"Bukan ganti-ganti ah, enggak cocok aja karena beda prinsip,"

Prinsipku menjaga kesucian. Prinsip mantan-mantanku kalau cinta buktikan salah satunya dengan memberikan yang paling berharga. Tentu, aku enggak mau. Biarpun kehidupanku sudah berubah 180 derajat, aku tetaplah aku anaknya Simbok yang enggak akan pernah bisa melukai hati Simboknya dengan melakukan sesuatu yang membuat beliau terluka bahkan syok. Ah, padahal... bukankah enggan menikah dan lebih suka pacaran hingga usiaku 33 tahun seperti sekarang ini juga membuat beliau terluka, ya. Tapi, setidaknya aku menjaga kepercayaan Simbok dengan menjaga yang paling berharga. Dan nyatanya, emang cuma Mas Arief yang benar-benar menjaga dengan menghargaiku alias tidak meminta yang aneh-aneh selama berteman dekat sejak SMP.

"Sekarang sama siapa?"

"Ihh, kok jadi wawancara. Males, ah. Untung deh... beneran untung... aku enggak jadi nikah sama Mas. Kalau enggak, beneran dikekang. Apes dah tuh Mas istrimu,"

Hahahahaha. Kami tertawa bersama. Tidak ada acara saling menimpali lanjut debat kusir seperti saat masih bersama dulu.

"Huss... ojo guyon aee. Wah, Mas Arief iki bahaya. Nih ada nyonyanya, nih,, datang" ucap Mas Agus setengah becanda tapi sukses membuat kami sama-sama menoleh.

Istri Mas Arief datang! Ekspresinya... susah untuk kudeskripsikan.

Ah, ingin rasanya kubisikkan di telinganya, "Enggak usah ngerasa insecure gitu, Mbak. Aku enggak berminat dengan suamimu, mantanku. Makanya Mbak jadi wanita harus punya sesuatu biar enggak galau sendiri,"

Tapi, aku hanya tersenyum tipis. Bersyukur dalam hati. Bersyukur enggak menikah sampai detik ini. Bersyukur. Karena setidaknya, aku belum pernah merasa insecure atau tidak percaya diri hanya karena CUMA jadi istri, tidak punya identitas sebagai diri sendiri. Aku bersyukur bisa memutuskan hidupku sekehendak hati.

Walau... kalau ingat Simbok yang rajin salat dan mengaji, ingat Simbok yang selalu mendoakanku, hati ini seolah teriris sendiri.

(Bersambung)

  • Share:

You Might Also Like

29 comments

  1. Selalu ngakak klu baca cerbungnya tante whahahah

    ReplyDelete
  2. Hehehe... Saya kok larut ya sama ceritanya, saya tunggu sambungan nya ya mbak

    ReplyDelete
  3. Hehehe... Saya kok larut ya sama ceritanya, saya tunggu sambungan nya ya mbak

    ReplyDelete
  4. Hehehe... Saya kok larut ya sama ceritanya, saya tunggu sambungan nya ya mbak

    ReplyDelete
  5. kenapa aku jadi kesel sama si aku ini yaa.. hmmm...
    tapi aku masih penasaran kenapa dia bisa begini.

    ReplyDelete
  6. Duh, adanya yang orang berprinsip kayak gitu... gemas deh, ditunggu kelanjutannya Mbak.. kesal juga kalau lg serius baca disambung-sambung ceritanya...hahaha, khawatir enggak baca cerita selanjutnya..wwkwaw...

    ReplyDelete
  7. Ini... kok, aku merasa tertohok gitu mbak baca paragraf nomor dua terakhir, hehe... Betul, emang kudu punya sesuatu biar gak minder. Ah! Nampol nih, mbak

    ReplyDelete
  8. ku penasaran dengan sambungannya, kupikir pasti banyak yang suka jadi IRT ternyata enggak juga yes, kalo saya mah rela deh jadi IRT aja dan disambi nulis ~

    ReplyDelete
  9. Penasaran sama kelanjutannya. Kalau Aku mau aja da sama Mas Arief, seneng jadi irt bisa fokus sama keluarga. Hehe ๐Ÿ˜„

    ReplyDelete
  10. Penasaran.com mba sama kelanjutannya hehe
    impianku banget tuh bisa jadi irt

    ReplyDelete
  11. Saya blm baca cerita awalnya, tapi suka dg jalan cerita cerbung ini. Tokoh spt si Aku ini pernah sy temui, deh. Jadi ini memang spt realita. Lanjuut,Mbak

    ReplyDelete
  12. aku bacaaaa
    dari awal
    ampe akhirrr
    tuntasss

    apik mbaa
    lanjuttt yaa
    ditungguuuu

    ReplyDelete
  13. suak dengan cerbungnya, juga temanya. Ditunggu lanjutannya, mbak Miyosi.

    ReplyDelete
  14. Ih..kalau baca kayak ginian, pengennya cepat dapat sambungannya lagi hehe..
    Mksih mb.

    ReplyDelete
  15. Lanjut Mbak.. Ceritanya mengalir..bagus๐Ÿ‘๐Ÿ‘.
    Penasaran menunggu lanjutannya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  16. Ceritanya makin seru Mbak. Tokoh si aku ini bener2 megang prinsip sekali ya jadi penasaran dengan cerita selanjutnya..

    ReplyDelete
  17. Mantannnn.... oh mantannn... ๐Ÿ˜
    Senyum² sendiri...

    ReplyDelete
  18. Satu kata, lanjutkan mbaa hihii. Aselii penasaraaann hihii

    ReplyDelete
  19. Hmm... jadi penasaran sama lanjutannya, penasaran sampai kapan si aku bertahan dengan prinsipnya, hihi...

    ReplyDelete
  20. Dialog tagnya mbak belum pas hehe (Siti Al-Muhajirin)

    ReplyDelete
  21. Si aku orang tipikal tangguh. Dilnjut ya kisahnya....

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)