5 Penyebab Kenapa Seorang Penulis Bisa Bingung atau Enggak Tahu Mau Nulis Apa

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - February 23, 2019


Bahasa kerennya sih WRITER'S BLOCK.

Pernahkah kalian mengalami? Saya yakin, hampir semua penulis genre apa pun pernah merasakannya. Saya pun. Seperti saat ini, misalnya, jujur aja saya enggak tahu mau nulis apa untuk program One Day One Post. Jadi ya udah, akhirnya nulis ini. Xixixi.

Lalu, kenapa sih seorang penulis bisa bingung atau enggak tahu mau nulis apa. Macam-macam sih alasannya. Bisa jadi, alasan kita bedaa. Cuma kalau buat sayaa, inilah 5 alasan kenapa seorang penulis bisa bingung atau enggak tahu mau nulis apa:


1. Terlalu banyak yang ingin ditulis sampai akhirnya... enggak ada yang ditulis

Yess, buat saya, masalah ide bukanlah hal yang bikin resah. Toh, ketersediaannya begitu melimpah ruah. Buat saya, masalahnya bukan "mau nulis apa ya", tapi "yang mana ya yang mau ditulis dulu,"

Saking banyaknya ide di kepala, saking penuhnya bahan-bahan di otak, hingga akhirnya malah bingung mau nulis yang mana dulu. Hasilnya malah enggak ada yang ditulis. Xixixi.

Kalian sendiri gimana?


2. Perfeksionis

Salah satu kelemahan orang perfeksionis adalah ingin segala sesuatunya sempurna. Efeknya jadi malah bingung karena selalu merasa enggak sempurna. Inginnya menghasilkan tulisan yang sempurna, tapi karena diri sendiri nyadar kalau enggak sempurna jadinya ingin membuatnya sampai sempurna. Padahal, jelas-jelas nyatanya enggak ada yang sempurna. Ya, kan. Xixixi. Mbulet, ya.


3. Terdistraksi hal lain

Lagi enak-enaknya menulis tiba-tiba "terputus" karena suatu hal. Lalu, untuk melanjutkan kembali jadi enggak se-wow sebelumnya. Pernah mengalami seperti ini? Kalau toh pada akhirnya saya paksakan menulis juga atas nama profesionalisme, "nyawa" tulisannya kok jadi hilang, ya. Perasaan saya aja, sih.


4. Males memilih dan memilah gambar

Bagi saya yang tipe orangnya lebih fokus ke konten daripada ilustrasi, memilih dan memilah gambar mana yang akan ditampilkan di sini bisa memakan waktu dan kadang terasa begitu membosankan. Xixixi. Apalagi, jika harus edit sana sini.

Seperti tadi, misalnya. Rencana awal, malam ini saya ingin menulis review tentang pengalaman memesan rak buku, partisi, dan kitchen set di salah satu teman saya SMA yang saat ini jadi dosen arsitektur & punya usaha di bidang tsb. Tapi setelah saya kumpulkan foto-foto hasil bidikan saya sendiri yang jumlahnya baanyaak yang artinya mengharuskan saya memilih dan memilah, postingan tersebut urung saya publish. Saya merasa, fotonya masih belum sempurna dan ingin saya ulang. Tu, kaan, kumat perfeksionisnya.


5. Penginnya memberikan sesuatu yang bedaa dan enggak cuma gitu-gitu aja


Inti dari lima poin di atas sebenarnya satu, sih: PERFEKSIONIS.


Solusinya bagaimana? Kalau saya sih langsung saja menuliskan semua uneg-uneg tersebut. Pengalaman selama ini, dengan menuliskan masalahnya, saya jadi tahu solusinya seperti apa. Menuliskan rumusan masalah bagi saya seperti mengurai benang ruwet. Ibarat ngerjain soal-soal cerita hitungan, biasanya kita akan lebih mudah mencari tahu jawabannya ketika soal cerita tersebut kita "alihbahasakan" menjadi diketahui, ditanya, dan kemudian... jawab. Setelahnya, saya seolah jadi diingatkan bahwa sejatinya menulis itu bukanlah beban. Meskipun di sisi lain, di setiap tulisan yang kita buat seyogyanya ada nilai manfaatnya buat yang baca.

Kalau kalian gimana?

  • Share:

You Might Also Like

8 comments

  1. Kalau lg mentok, saya biasanya nulis diari dulu, huhu. Habis itu kadang muncul pencerahan.

    ReplyDelete
  2. Klo mentok aku kadang stop nulis dlu, mending jalan2 atau ngaoain biar dpt ide. Aku kadang ga terlalu perfek kok yos, bodo amat dengan gambar atau terlau perfek he

    ReplyDelete
  3. Sama deh kita ... kalau saya lebih sering malas cari reduksi dan pasang foto... ribet,xixixi

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)