Menulis Buku Semudah Makan Kudapan

By Miyosi Ariefiansyah - April 19, 2018





menulis buku
pixabay
Tulisan saya kali ini juga ada di ummi-online.

Saat ini, profesi penulis bukanlah sesuatu yang asing lagi. Bahkan, profesi tersebut bisa dijadikan salah satu pilihan utama dalam berkarier. Jika kita merasa memiliki passion di dunia menulis & ilmu di bidang tertentu yang mumpuni, mengapa tidak mencoba terjun ke dunia tulis-menulis? Selain bisa berbagi ilmu, kita juga bisa mendapatkan uang. Menyenangkan, bukan? 

Meski demikian, tidak sedikit yang berkomentar bahwa bikin buku itu susahh. Mau nulis apa juga enggak tahu. Belum-belum sudah nyerah duluan. Padahall, menulis buku itu bisa dikatakan relatif mudah. Siapa pun bisa asalkan mau.

Nah, sebelum kita yang memiliki minat di dunia penulisan masuk lebih dalam, alangkah baiknya jika mengenal proses pembuatan buku terlebih dahulu agar memiliki bayangan sekaligus membuktikan bahwa ternyata menulis buku itu semudah… makan camilan alias kudapan. Hehehe.

Secara garis besar, proses pembuatan buku bisa dibagi menjadi dua, yaitu:
1. atas inisiatif sendiri/penulis atau
2. karena pesanan

Yang pertama, proses pembuatan buku atas inisiatif sendiri

a. Penulis menentukan tema sendiri
Dari mana tema diperoleh? Ya suka-suka penulisnya. Tapi untuk membantu agar enggak bingung, penulis bisa melihat beberapa indikator ini untuk menentukan tema:
  • suka nulis buku apa?
  • ahli di bidang apa? 
  • kerja atau bergelut di bidang apa? 
  • bisa juga menulis buku yang lagi tren atau yang sedang disukai masyarakat 
b. Putuskan ingin menulis dalam bentuk apa? fiksi atau nonfiksi?

c. Tema udah dapet, selanjutnya adalah kerangka karangan atau outline
Inti dari outline sebenarnya untuk memudahkan jalan si penulis, biar tetap terarah dan enggak melebar ke mana-mana.
Bentuk outline pun enggak pakem aliaas sesuai kebutuhan, tapi biasanya begini
  • Tema buku:
  • Judul: (nanti bisa berubah)
  • Penulis:
  • Bentuk tulisan: kocak, resmi seperti karya tulis, nyantai, lebay, atau gimana?
  • Referensi tulisan: isi tulisan kita dari mana asalnya? Wawancarakah? Dari buku-buku lain? Atau gimana
  • Pangsa pasar: menjelaskan buku kita ini untuk siapa? Ibu-ibu atau remaja atau siapa?
  • Bab I: ngomongin apa?
  • Bab II: ngomongin apa?
  • Dll
Kalau toh nanti ada yang berubah atau revisi di tengah jalan ya enggak masalah.
Outline itu mirip rencana anggaran. Dalam praktiknya bisa melebar atau sebaliknya. Tapi yang jelas karena udah ada pijakan atau pakem, mau berbelok pun juga masih terarah. Enggak sampai yang melebar jauh. Misal di awal ngomongin ibu bekerja, tapi lama-lama kok membahas gerhana matahari? Hubungannya?

d. mulai menulis
Targetkan sehari berapa halaman. Enggak usah muluk-muluk kalau kita supersibuk. Cukup sehari sehalaman. Itu artinya, dalam empat bulan sudah terkumpul 120 halaman atau satu buku. Dalam setahun udah tiga buku. Sangat mending banget ya daripada enggak sama sekali.

e. sambil menulis, kita boleh banget ngelirik penerbit yang kira-kira akan kita tembak

f. jika naskah sudah selesai, jangan langsung dikirim ke penerbit, tapi endapkan dulu beberapa hari kemudian baca lagi
Biasanya di tahap ini, kita akan menemukan kesalahan tulis atau semacamnya

g. kirim ke penerbit via email dengan format:
  • subyek jangan kosong
  • badan email berisi salam pembuka, perkenalan kita siapa, kita mau apa, naskah kita tentang apa, penutup, & nomor yang bisa dihubungi
  • lampiran: naskah (boleh lengkap atau separuh jalan)
h. sebulan atau maksimal tiga bulan kemudian, kita bisa meminta kepastian
Kalau ditolak, kita bisa bertanya kenapa, kemudian kita revisi dan kirim ke penerbit lain. Kalau diterima, siap-siap diminta revisi jika ada dan siap-siap menerima Surat Perjanjian Penerbitan


Yang kedua, proses pembuatan buku karena pesanan

Siapa yang pesan? Penerbit atau agen naskah, jadi
mereka yang menghubungi kitaa atau kita yang mengajukan diri pada mereka. 

Prosesnya serupa walau ada yang beda.

Kalau di agen naskah, kita dapat SPK atau surat perjanjian kerja yang isinya meminta kita untuk menulis naskah sekian halaman dengan tarif sekian dan dibayar tanggal sekian.

a. Tema naskah
Dapat dari mereka, kita tinggal ngembangin. Kalau semisal temanya enggak kita banget ya enggak usah diterima.

b. Outline
Biasanya penerbit atau agen naskah meminta kita membuat outline sekaligus contoh tulisan. Jika cocok ya lanjut, jika enggak ya putus

c. Dapat SPK
It means naskah kita 99,9% terbit

d. Kalau pesanan penerbit, kita baru dapat kejelasan setelah naskah selesai dan kita kirim

e. Deadline
Tidak bisa sesuka hati seperti nulis dengan inisiatif sendiri.
Nulis di agen naskah, diberi DL 2 sampai 3 minggu untuk 120 halaman. Penerbit, DL 1 bulanan atau lebih.

f. Naskah kemungkinan besar diterbitkan

Secara sederhana, itu saja alur proses pembuatan bukuu.

Yang bikin lama apa??

Kalau dari sisi penulis ya enggak nulis-nulis alias yang bersangkutan sendiri, orang/pihak lain sifatnya hanya mengingatkan atau ngasih pompom atau menyemangati

Kalau dari sisi penerbit ya karena harus antreee. Setiap hari ada ratusan naskah masuk via email

Happy writing and enjoy the process!!


  • Share:

You Might Also Like

28 comments

  1. Wah, bermanfaat sekali tipsnya. Pingin bikin buku jg nih😊

    ReplyDelete
  2. Waaah keren tipsnya mba miyosi. Jadi pengen nulis buku lagi nih. Buku saya masih 1, sudah di-acc tp masih ngendon di penerbit. Trs pengen nulis buku lagi malah sering teralihkan jd content writer, huhuuu

    ReplyDelete
  3. Salah satu resolusi sebelum turning 30 harus nelorin 1 buku!😭😭

    ReplyDelete
  4. Wah keren Mba Miyosi ini. Makasih ya ilmunya. Doakan buku antologi pertama saya bisa segera terbit. Untuk sekarang saya masih fokus nulis di blog. Tetapi suatu hari nanti pengen juga sih punya buku solo tentang perjalanan hidup saya yang ingin saya ceritakan pesannya pada banyak orang selain itu, semoga suatu hari nanti juga bisa menulis tentang parenting sesuai kompetensi saya. Atau bahkan berharap tulisan2 saya di blog bisa dibukukan. Aaaminnn semoga aja ada penerbit yang tertarik hahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, ditunggu bukunya ya, bundaa
      ah iyaa blognya baguss, bundd

      Delete
  5. Wahhh makasih banyak mbaaaa artikelnya. Ngebantu banget aku yg pemula hehe

    ReplyDelete
  6. Dari dulu pengeeen banget nulis novel, ide udah kepikiran tapi buntu buat ngembangin alur dan konfliknya Mbak, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. novel saya juga gak jadi2 mbaa wkk
      terdistraksi sama yang lainn

      Delete
  7. Ines mau komen lain mbak wkwk. Templatenya baru, tampilannya lebih fresh buat ngebaca. Sukaa. Sama sukanya dengan tulisan Mbak Miyo di atas yang bikin mikir kalau mau nulis itu harus nulis "ahli di bidang apa?" hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh, makasihh
      baru belajar nge-layout ya
      deuh mumet wkkk
      kayaknya tiap orang pasti punya keahlian yaa
      semangat semangat

      Delete
  8. Makasi mb tipsnya cuman aku sih komitmen buat selesaiinya yang ga ada hehehe

    ReplyDelete
  9. Aaaaaah aku pengen nulis buku mbaaak *pengen doang, nulisnya ga konsisten jadi blm kelar2 😂

    ReplyDelete
  10. Kalau aku itu masalahnya udah 50% terus mandeg antara bosan, berasa kurang greget, godaan tema lain, huhuu... emang harus konsisten, disiplin, dan sabar ya nulis buku itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi zmn skrg y mb
      Bnyk amat yg bisa bikin kita terdistraksi
      Apa harus nulis d hutan y kita wkk

      Delete
  11. Tetep susah, Mb Yos
    Aku terima aja jadi pegawai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadilah pegawai yg baik dan benar y
      Jangan keluyuran ato medsosan pas jam kerja
      Kasihanilah kami2 ini
      Wkkk
      Suksea dek apa pun pilihanmu

      Delete
  12. Waah, kereen artikelnya mbak Miyosi. Smg saya bisa segera nyusul bikin buku solo. Ya Allah, smg dimudahkan. Makasih tipsnya mbak...

    ReplyDelete
  13. Wah, Mbaa aku baru baca postingan yang ini. Saya sempat ingin menulis (novel) sendiri namun nggak jadi-jadi lantaran ya itu, nggak pasang target. Jadinya ogah-ogahan. Padahal kalo dipikir-pikir sebenernya idenya lumayan oke, kalo bisa dimasak bakal matang beneran, hahaha. Semoga tahun depan bisa nyentuh draft naskah yang nganggur di folder laptop huhu. Makasih banyak Mba Miyo sharing-nya (:

    ReplyDelete