Hari ke-301 di Jepang: Catatan 10 Hari Terakhir

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - October 27, 2020

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti kelas menulis perjalanan yang diadakan oleh media nasional terkemuka di tanah air. Bisa dibilang, medianya keren banget, tidak perlu diragukan lagi dari sisi kualitas . Alhamdulillah, saya mendapat banyak ilmu serta insight  baru dalam hal menulis perjalanan yang selama ini terlewat. Sungguh, daging banget ilmu yang diberikan para mentor. Jam terbang memang tidak pernah menipu, ya. :)

Saya pun diberi tugas membuat catatan, semacam diari, perjalanan yang saya lakukan dalam sepuluh hari terakhir. Nah, hitung-hitung mengisi blog yang sudah cukup lama kosong, saya bermaksud menuliskannya juga di sini. 

Apa saja perjalanan yang saya lakukan dalam sepuluh hari terakhir ini? Baiklah, saya mulai, ya. Bismillah.

Minggu, 18 Oktober 2020

Setelah beberapa hari sebelumnya, Tsukuba diguyur hujan, alhamdulillah Minggu-nya cuaca cerah. Saya bisa pergi ke Tsukuba Senta untuk belanja plus metime sementara anak dan suami melakukan aktivitas bersama.

Halte Norin saya pilih untuk menunggu bus C10. Padahal, kalau dari tempat tinggal, Halte Ichinoya sebenarnya lebih dekat. Alasannya sepele: Norin lebih teduh dan sepi. :D

Meski hanya pergi ke Tsukuba Senta yang notabene biasanya saya jangkau dengan jalan kaki atau jogging karena jaraknya hanya 5 km saja, tapi saya sudah merasa sangat bahagia. Apalagi, tahun depan di bulan yang sama, tempat yang saat ini sering saya datangi ini akan menjadi asing karena saya sudah kembali ke tanah air. Itu sebabnya, saya ingin benar-benar menikmatinya, mengamati setiap detail yang ada, sebelum nanti benar-benar meninggalkannya. Sedih nggak, sih? Jujur, iya! :)

Senin, 19 Oktober 2020

Rencananya, kami akan ke City Hall mengurus sesuatu setelah suami selesai kuliah. Tapi apa daya, saya jadi malas ke mana-mana karena hujan yang cukup deras datang lagi. Meski bisa bawa payung sebenarnya, tapi saya malah lebih memilih mengolah ubi. Cocok banget dinikmati di suasana dingin plus hujan seperti ini ketimbang pergi. Jadilah, suami saya saja yang ke City Hall. Saya dan Taka? Seharian tidak ke mana-mana, menikmati melihat jalanan yang basah dari lantai tiga saja.

Selasa, 20 Oktober 2020

Seolah mendukung rencana kami yang akan pergi ke Hitachinaka, cuaca sangat cerah, berkebalikan dengan hari sebelumnya. Kami bertiga pergi ke salah satu tempat yang lumayan diburu orang-orang dari berbagai wilayah Jepang saat musim gugur seperti sekarang. Namanya Hitachinaka. Masih satu prefektur, tapi lumayan jauh. Butuh satu jam lebih untuk ke sana dengan menggunakan transportasi kereta dan bus.

Meski awalnya rada malas, tapi Taka malah yang paling ceria begitu sampai di Hitachi Sea Side Park. Dia senang berlarian di antara tanaman Kochia yang merahnya merona. Lebih-lebih, setelahnya ia naik bianglala. Lengkap sudah kegembiraan Taka hari itu. Alhamdulillah.

Rabu, 21 Oktober 2020

Karena sehari sebelumnya sudah ngebolang seharian mengeksplorasi Hitachi Sea Side Park yang sangat luass, maka Rabu-nya kami di dormitory saja. Bila pun pergi, paling-paling hanya sekitaran tempat tinggal saja. Dan lagi, cuaca kembali mendung. Minum secangkir kopi hangat nampaknya lebih menggoda ketimbang keluyuran di tengah angin musim gugur yang bertiup cukup kencang. :D

Rabu sebenarnya adalah hari yang cukup padat. Suami ada kuliah, saya pun ada kelas bahasa Jepang. Bersyukur, jadwalnya enggak barengan. Jadi, kami bisa gantian bersama bocah. Ketika suami kuliah, saya yang bersama bocah. Sebaliknya, saat saya ikut kelas bahasa Jepang, suamilah yang bersama bocah. Alhamdulillah.

Kamis, 22 Oktober 2020

Taka mengajak jalan-jalan ke Tsukuba Senta. Ya, kenapa enggak, sih. Toh, saya juga berniat beli buku bahasa Jepang di Daiso. Jadi sekalian gitu.

Kalau dipikir-pikir, Tsukuba Senta ini benar-benar tempat yang sangat lengkap dan nyaman untuk menghilangkan penat atau sekadar angon bocah. Kalau lagi malas jalan-jalan ke prefektur sebelah seperti Tokyo atau lainnya, ke Tsukuba Senta saja sudah sangat terhibur.

Jumat, 23 Oktober 2020

Suami bawa nasi biryani sepulang dari acara pengajian bapak-bapak di Masjid Tsukuba. Senangnyaa. 

Sabtu, 24 Oktober 2020

Saya ada acara live di Instagram @miyosiariefiansyah. Kali ini dengan narasumber Bunda April. Meski di awal ada kendala dan rada susah nyambung, tapi alhamdulillah acara bisa juga dilalui. Jujur, saya masih enggak terlalu puas efek sinyal yang enggak jelas. Padahal materinya bagus banget tentang bekerja dari rumah, tapi gara-gara sinyal (di tempat saya sih bagus huehehe), jadi ya gitu dehh. Kapan-kapan nge-live lagi yuk, Bunds! Huehehehe.

Minggu, 25 Oktober 2020

Setelah acara SIPUT atau Silaturahmi Keputerian online selesai, saya jogging. Ya, setelah sekian lama efek musim panas kemudian lanjut hujan di awal musim gugur. Alhamdulillah, Minggu kemarin cuaca sangat bersahabat. Rute saya kali itu Ichinoya - Tsukuba Senta saja terus lanjut keliling di sekitaran Senta. Total ada kayaknya 10 km. Lumayan bangettt. Legaaa. Olahraga memang bisa membantu menjaga mood.

Senin, 26 Oktober 2020

Kemarin adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-12. Kami "merayakannya" dengan memposting foto jalan-jalan ke Hitachinaka di Instagram masing-masing. Tentu saja, plus dibumbui caption ala-ala. Intinya sih kalimat positif karena kata-kata adalah doa. :)

Selasa, 27 Oktober 2020 

Hari ini masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Cuaca mendung. Pukul 17.00 waktu Jepang alias JST saja udah seperti jam tujuh malam suasananya. Sangat jauh berbeda dengan musim panas dua bulan yang lalu dimana jam tujuh malam masih terang benderang. Ya, perbedaan musim di negara yang memiliki musim lebih dari dua begitu terasa dan kentara.

Itu tadi kegiatan yang saya lakukan selama kurang lebih sepuluh hari terakhir. Tentu saja, saya tidak menceritakan semuanya, detailnya. Saya hanya mengulik beberapa bagian saja.

Mungkin di masa pandemi seperti sekarang ini, kita sering merasa bahwa kegiatan sehari-hari hanya itu-itu saja. Padahal, tidak juga. Kalau mau berpikir lebih positif, kita bisa melakukan banyak hal meski jangkauan jadi lebih terbatas. Dan lagi, tidak perlulah menekan diri sendiri sebegitunya. Diberi sehat sampai detik ini sama Allah saja seharusnya kita syukuri. Semangat, ya!


  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Jam terbang seperti Mbak Miyo saja butuh sebuah daging. MasyaAllah memang belajar itu tidak boleh berhenti dan malu memulai dari mana saja ya mbak.

    Selamat juga sudah 300 hari lebih hidup tanpa tempe kacang wkwk.

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)