Bagaimana Rasanya Menjadi Ibu Rumah Tangga?

By Miyosi Ariefiansyah - August 12, 2018



Hanya karena sebuah profesi tidak menghasilkan uang, bukan berarti ia tidak penting lalu patut diremehkan. Barangkali, sebuah profesi tidak bisa diuangkan karena memang tidak bisa dan tidak ada orang yang mampu membayarnya dengan uang saking berharganya. 7 hari, 24 jam, dan seumur hidup. Siapa dia? IBU RUMAH TANGGA.

Bagaimana rasanya jadi ibu rumah tangga? Bersih-bersih rumah ya tiap hari? Nyuciin baju suami? Baru tahu rasanya beberes, nih. Huehehehe.

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh salah satu teman saya sesaat setelah saya menikah muda tahun... 2008 silam. Ehm, jujur, jika ibu rumah tangga cuma diidentikan dengan bersih-bersih rumah dari a sampai z, maka saya bisa saja protes dengan pernyataan di atas. Karena sejak remaja, pekerjaan rumah tangga bukan sesuatu yang aneh bagi saya. Ya, ibu saya memang mengajari anak-anaknya untuk mandiri. Kata beliau, wanita itu enggak cuma harus pinter aja, tapi juga prigel alias cekatan dan energik... atau... rikat... tanggap. Jadi, saya pengin protes kalau disangka baru kenal pekerjaan rumah setelah nikah. Harusnya sih sejak remaja udah dibilang "Mbak Rumah Tangga". Xixixi. Keinginan yang anehh.

Sebenarnya, menjadi ibu rumah tangga bagi saya seru-seru aja. Toh sejak remaja, saya menikmati kegiatan per-rumahtangga-an, salah satunya... bersih-bersih rumah. Anggap saja olahraga. Ya, kan. Saya juga tergolong anak rumahan -dan ibu rumah tangga identik dengan di rumah aja yang enggak semua orang betah- yang perginya kalau penting aja, misal jadi MC, rapat karang taruna, ke toko buku, atau ke mana aja yang tujuannya jelas. Jadi, pas menikah pun demikian. Kalau enggak ada kepentingan, entah itu organisasi atau kerjaan atau ngebolang sama suami, bisa dipastikan saya di rumah aja dan menikmati segala kekuasaan yang saya miliki. Xixixi. Maksudnya, ada istilah "rumahku istanaku", kan. Jadii, terserahhh saya yang notabene "ratu" mau ngapain aja di rumah. Enggak boleh ada yang ngatur secara itu wilayah jajahan saya. Beuh. 

Intinya, saya senang-senang aja menjadi ibu rumah tangga. Suami pun bukan tipe lakikk yang rewell. Kami sama-sama bukan pasangan rewel. Dibawa asik aja. Begitulah. Kalau pas dia kumatt rajinnya, beuhh, rumah bisa dibersihin dari ujung ke ujung jauhhh lebih kinclong daripada saya. Kalau ada yang pernah lihat Nodame Cantabille, maka karakter suami saya dalam hal bersih-bersih rumah ituu Chiaki Sinichi bangett. Bersihh. Detaill. Jelii. Lalat kepleset. Begitulah.

Lantas, yang mengusik ketenteraman jiwa sebagai ibu rumah tangga itu apa? Tiap wanita bisa beda. Cuma kalau saya, ini:

  1. Anggapan bahwa di rumah itu enggak kerja yang itu artinya enggak menghasilkan uang. Sebagai orang enggak suka diam, tentu ini bikin kesel. Raga emang cuma di situ-situ aja, tapi hasil kerja bisa di mana saja. Ya, kan? Hari gini, gitu. Dan lagi, kalau hanya uang yang dianggap sebagai simbol produktivitas, helooo... apa kabar itu perampok, koruptor, dan profesi-profesi sejenis?
  2. Para ibu rumah tangga yang merasa enggak berharga. Jadi yang boleh merasa berharga siapa? Bukankah semua manusia berharga. Saya enggak mau menjustifikasi karena sebabnya pun pasti macam-macam. Hanya saja kalau boleh bilang, "Haii, di rumah yang notabene istana mungil, kita bebas ngelakuin apa aja selama gak ganggu tetangga. Kita bebas nerapin aturan-aturan apa aja, misal aturan aneh tamu di rumah itu harus pakai sandal jepit atau apalah yang intiny sesuka hati kita. Jika di kantor, di rumah orangtua, rumah saudara, rumah mertua, kita enggak bisa berbuat seenak jidat. Nah, di rumah kita sendiri, sebaliknya. Rumah adalah wilayah teritorial kita. Bukankah ini nikmat Allah mana yang kita dustakan? Bukankah ini sangat berharga. Yang lain merindukan kebebasan. Misal, enggak bisa kan ke kantor pakai celana pendek dan kaos oblong ditambah enggak mandi. Kita, ibu rumah tangga? Bebas ngapain aja"
  3. Orang-orang yang memandang kasihan. Di dunia ini, hampir enggak ada orang yang mau dikasihani untuk hal-hal yang bagi pelakunya nikmat. Salah satunya, orang yang senang-senang aja jadi ibu rumah tangga. Jadi ya tolonglah jangan soktahu dan memandang iba. Lha wong yang ngejalanin aja mau-mau aja kok orang lain ribet.
  4. Ibu rumah tangga dianggap bodoh dan tahunya cuma sebangsa... acara gosip. Gemes banget ini. Kalau masalah gosip mah enggak hanya ibu rumah tangga yang bisa terjerumus, siapa pun bahkan anak sekolah juga bisa. Apalagi, sekarang zamannya medsos, nggosip bisa di mana aja dan kapan saja serta oleh siapa aja, kan.
  5. Dianggap tukang buang-buang duit suami. Lagi-lagi, kenapa orang lain yang rempong dan ribet, lha wong suaminy enggak apa-apa kok uangnya dibuang-buang (dalam bentuk tabungan dan investasi). Boleh marah kalau yang dibuang-buang adalah duitnya suami orang. Ini sangat logis.
  6. Anggapan ibu rumah tangga pasti cupu. Deuh, sekarang tahun 2018. Masih ada aja gitu yang berpandangan kayak gini? Tinggal di galaksi mana, sih? Xixixi.
  7. Anggapan ibu rumah tangga enggak menghasilkan. Padahal, zaman sekarang sih harusnya enggak ada lagi pemikiran seperti inj. Dan bila pun seorang ibu rumah tangga memilih fokus sebagai ibu rumah tangga tanpa ada embel-embel lain, bagi saya itu hak masing-masing. Yang penting, yang ngejalanin bahagia. Ini poinnya.
  8. Apa lagi?
Solusi atas hal-hal yang kadang mengusik ketenteraman hati itu apa, dong? Biasanya, saya cuekin. Gimana lagi. Pendapat orang lain adalah sesuatu yang enggak bisa kontrol, kan. Kalau pas rajin, kadang saya timpali juga dengan baik, tapi seringnya sih saya cuekin aja. Senyumin. Energi sudah habis. Xixixi. Mending buat ngerjain yang lain.

Khusus untuk kegiatan bersih-bersih rumah dan printilannya, saya pernah menuliskannya di ummi-online beberapa tips berdasarkan pengalaman pribadi. Yaa... kalii... bisa berguna buat yang baca. Saya copaskan tulisan saya di ummi-online ke sini, ya. Males ngedit lagi. Xixixi.

Serunya Membersihkan Rumah 
Aktivitas membersihkan rumah sudah sangat familiar bagi saya, tepatnya sejak saya masih kecil (SD). Maklum, karena memang tinggal di kampung, sudah menjadi semacam kewajiban bila gadis-gadis desa -yang masih lugu dan polos- (:P) harus bisa dan terbiasa bersih-bersih rumah sejak dini.
Sebenarnya, aktivitas ini sangat menyenangkan lhoh, bahkan lebih menyenangkan daripada memasak (bagi orang yang lebih suka bersih-bersih daripada memasak).
Kebetulan, saat ini, saya dan teman-teman sedang menggarap proyek buku nonfiksi tentang pendidikan karakter untuk anak usia SD dan SMP. Apa hubungannya sama paragraf di atas? Ada dong. Kalau enggak ada, ngapain ditulis.
Ternyata, aktivitas membersihkan rumah ini bisa membentuk salah satu karakter anak, yaitu tanggung jawab dan kepekaan terhadap lingkungan (tapi nggak KEPO 😛 ). 
Beberapa di antara sekian banyak manfaat akan kebiasaan bersih-bersih rumah sejak dini: 
  • Bisa mengurangi beban orangtua untuk membayar ART. Pun bila orangtua memiliki ART, juga bisa membantu kegiatan ART. Setidak-tidaknya meringankan walau hanya 10%. Kita juga jadi lebih akrab dengan ART dan bisa berbagi/bertukar ilmu.
  • Seperti yang sudah ditulis di atas, mengajarkan akan tanggung jawab dan kepekaan sosial. Misalnya, suatu saat ART pulang kampung, hanya tinggal kita dan orangtua. Cucian numpuk, piring kotor berserakan, lantai lengket, dan beragam pemandangan tak menyenangkan lainnya. Akankah sebagai anak kita diam saja dan membiarkan ibu kita mengerjakannya sendiri??? Terserah sih, tapi coba tanyakan pada hati nurani. 😀
  • Olahraga 😀 😀
Sebenarnya, pekerjaan rumah (bersih-bersih) itu tak terlalu berat. Bagi saya sih lebih mumet masak daripada bersih-bersih rumah. Kalau hanya bersih-bersih rumah, Insya Allah sekali pandang bisa langsung beres. 😀 Jadi, adalah tidak benar bila ada yang bilang bersih-bersih rumah bisa memakan waktu 24 jam sampai tak sempat berbuat apa-apa. Wew. Ya, kecuali membersihkan rumahnya orang-orang sekampung sih. 😛 
Coba kita jabarkan jenis-jenis pekerjaan rumah yang lumayan terkenal:

  • Menyapu, gak sampai setengah jam, 5-10 menit bisa (bersih). Ya, kecuali kalau menyapu lapangan sepak bola. 😀 

  • Mengepel, gak sampai dua jam kecuali kalau ngepelnya sambil ngesot, cukup 10 menit. 

  • Mencuci baju, bisa diakalin dengan merendam baju dulu, sambil nunggu deterjen meresap, kita bisa mengerjakan yang lain. Total, mencuci baju mungkin sekita 15 menit (mencuci dan membilas). Yah, kecuali kalau mencuci bajunya orang-orang se Indonesia, wkwkwk

  • Menjemur, kalau sedikit bisa 5 menit, kalau lumayan banyak ya mungkin 10 menit

  • Membersihkan piring dan teman-temannya, 10 menit cukup, kecuali kalau nyuci piringnya sama tidur 😀

  • Setrika, gak semua pakaian harus disetrika bukan, please deh, pekerjaan kita seumur hidup kan gak hanya setrika 😀 . Kita bisa memilah, mana pakaian yang bisa disetrika secara serius, mana yang tidak. Mungkin, bisa kita alokasikan 15 menit. Yah, kecuali kalau setrikanya sambil nonton tivi, sinetron apalagi. Hadeeehhhh. 😀

  • Membersihkan kaca, mengelap, dll, bisa kita alokasikan 10 menit. Cukup kok, kecuali kalau membersihkan kaca gedung-gedung bertingkat. 😛

  • Membersihkan kamar mandi, biar efektif, kita bisa melakukannya saat mandi. Kalau hanya untuk sekadar bersih-bersih lantai, ya kita lakukan setiap kali mandi. Tapi, kalau untuk menguras bak kamar mandi, mungkin memang memerlukan waktu agak lama kurang lebih 10 menit.
Nah, kan kalau ditotal, waktu yang kita butuhkan untuk bersih-bersih rumah tak sampai 24 jam. Fitnah banget kalau sampai ada yang bilang begitu. 😀
Setelah ini, saya mau buka usaha jasa penyaluran pembantu 😛 #Becanda
Yuk, biasakan bersih- bersih rumah sejak dini
Mari meneladani Rosulullah dan para sahabat yang meskipun ilmunya sudah setinggi langit dan dijamin masuk surga, tapi tetap menapak tanah dan tak memandang sebelah mata pekerjaan apapun, termasuk bersih- bersih rumah. 😀
Semangat!!

(Maaf kalau masih banyak kesalahan dalam penulisan karena tulisan di atas -yang tentang serunya membersihkan rumah- saya buat sudah lamaaa sekali. Sengaja enggak saya edit biar ingat betapa polosnya dulu. Alasan.)


Okaii, kembali lagi ke masalah gimana rasanya jadi ibu rumah tangga.

Setelah membaca tulisan saya di atas, termasuk tips bersih-bersih rumah, pasti Teman-Teman sudah bisa menyimpulkan gimana. Kerempongan bagi saya baru muncul ketika punya anak. Rempong di sini bukan karena enggak suka, bukan, tapi lebih ke prioritas saja. Kapan-kapan akan saya bagi pengalaman "gimana rasanya jadi ibu baru".

Jadi, gimana rasanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga? SERU. Ada yang merasakan hal yang sama? Hayukk, ceritaa.

  • Share:

You Might Also Like

18 comments

  1. Lucuuuu 🤣🤣🤣
    Bahagia selalu, mbaa

    ReplyDelete
  2. Jadi penasaran nih yg belum nikah
    Berarti gak sehorror cerita orang2 y

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkk ho oh
      Kalau masalah bersih2 rumah sih g horror kok
      Kalau males juga bisa bayar orang
      Yg horror ituu... hahah jalani sendiri aja yahh

      Delete
  3. Seru baca cerita bunda
    Jadi ikut seneng

    ReplyDelete
  4. Nambain poinny
    Ngerasa g nyaman kadang2 dg kata2 "kalau gw ibu bekerja" lah emang ibu rumah tangga g?
    Mungkin krn aku masih awal y jd masih sensian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalny dulu aku juga sensi, sekarang sih santai aja
      Iyain aja sebenerny kalau dibilang g ngapa2in
      Ya aminin aja
      Ya kali nanti kita punya 100 asisten xixixi

      Delete
  5. Ah, selalu iri mba kalau lihat fullmom. Tapi apapun keadaannya disukuri aja, hehehe...

    ReplyDelete
  6. Laki-laki pun kudu ngerti hal2 yang beginian mbak, coba disuruh gantiin pekerjaan ibu rumah tangga belum tentu kuat hehe

    ReplyDelete
  7. Tulisan Miyo selalu kocak :D Setuju miy, ttg poin2 di atas, wkwkw. Kalau aku tipe yang kayak suamimu Miy, tapi sekarang lbh berdamai untuk ga seperfeksionis waktu single, kl ga ya ga bs prioritas krn kecapean

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suamiku rajin bebersih tapi musiman mbaaa hahah
      Iya mb kalau sekarang kita juga perfeksionis beuhh bisa2 g sempet medsosan ngurus keluarga sama beberes tokkkk
      Ujung2ny ngamuk2
      Wes mo jadi manusia normal aja aku
      Happy mom happy family
      Aamiin

      Delete
  8. Rasanya jadi IRT?
    Seruuuuu
    juga
    bosaaaannnn
    hahahahahaaa..

    Seru karena dekat anak terus.
    Bosan karena sebenarnya i hate kerjaan masak etc itu, mau beli atau go food mulu, sedih liat anak makin kurus gegara makan makanan gak bergizi (emak narsis, gak pinter masak, tapi keukeh bilang masakannya paling sehat hahahaha)

    Poin 3 selalu dilontarkan keluarga saya, mereka kasian saya cuman jadi IRT, sampai diajarain begini begitu biar dapat tambahan uang.
    Disuruh jadi guru TK, ngasih les anak orang, padahal i hate ngajar hahaha.

    Poin 5 selalu dilontarkan keluarga dari sono, hiks..
    Gak enak banget kalau di rumah gak menghasilkan uang, dibilang morotin suami saja, ih padahal mah suami sendiri kan yaa,.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak
      bosan kalau enggak ada teman yang seide
      tapi sekarang banyak komunitas yang sesuai sama bidang kita jadinya enak2 aj sih

      gpp mba beli makan kan simbiosis mutualisme sama orang yang hobi masak, kasihan juga yg punya usaha catering kalau semua orang rajin nmasak, xixixi

      hu um mmb, kbanyakan masyarakat emang masih memandang kalau yg layak dihargai yg menghasilkan uang. blom tau aja irt bisa kerja dari rumah dan bisa menghasilkan banyak duit, wkkk, yekan mb haha

      apa disuruh morotin suami orang? wkk peace, aneh2 aja orang2 xixixi

      Delete
  9. Ngerasain dua hari jadi ibu rumah tangga aja rasanya kayak kejang-kejang
    Salute dah buat semua ibu rumah tangga
    Salute
    Terkadang ego mendominasi niat suci mb
    Entah kapan aku bisa ikhlas untuk jadi ibu rumah tangga aja
    (Curhat)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sbenerny apa pun kalau jd rutinitas bisa sumpek dek
      Dulu tiap hari sekolah pengin liburan
      Tiap ari liburan pengin sekolah
      Bukane g bersyukur y ancen tiap manusia butuh hiburan intine biar g monoton
      Tsaahh

      Delete