Post-Holiday Blues setelah Lebaran dan Cara Menyikapinya

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - March 29, 2026



Kalau kamu merasa hampa setelah libur lebaran dan sulit menyatu lagi dengan rutinitas, bukan berarti kamu malas. Itu wajar walaupun bukan berarti harus dinormalisasi dengan terus "berdiam diri".

Kamu tidak sendirian. Sebagian dari kita mungkin mengalami sindrom post holidays blues atau perasaan sedih, stres, dan cemas karena liburan berakhir sebagaimana dijelaskan juga oleh Alodokter.Com.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) tahun 2006 tentang Holiday Stress sebagaimana dilansir oleh website Healthline.Com, sekitar 24-35% orang justru mengalami penurunan suasana hati setelah liburan berakhir. Alih-alih menjadi penyemangat, hari-hari setelah libur panjang sering kali terasa sebaliknya.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Libur lebaran boleh dibilang istimewa. Ia bukan libur panjang biasa untuk sekadar jeda dari rutinitas. Bayangkan saja, setelah berpuasa 30 hari, mengalokasikan dana untuk berbagi & membeli tiket mudik, hingga menjadwalkan silaturahmi agar terhubung kembali dengan sanak-saudara & teman-teman yang selama ini jarang ditemui, maka lebaran ibarat titik kulminasi yang menampung & mewujudkan semua harapan tersebut. Canda, tawa, bermaafan, saling mendoakan, dan masih banyak lagi. Semuanya terasa hidup dan penuh makna. Apalagi, jika hari-harimu selama ini sudah dalam mode berjuang, maka momen lebaran menjadi sangat berarti.

Namun, pengalaman menyenangkan tersebut hanya terjadi singkat. Perlahan, aktivitas normal kembali. Segudang tanggung jawab yang sempat terlupa pun meminta dieksekusi lagi.

Padahal kalau dipikir-pikir, bukankah sebelum lebaran kita semua juga sudah terbiasa dengan ritme hidup yang padat? Kita "santai" saja menjalani segala macam ke-suntuk-an tersebut. Lalu, mengapa setelah lebaran semua itu seolah kehilangan daya tariknya? Seolah menjadi beban (alih-alih memang tanggung jawab dan kewajiban). 

Dalam perspektif psikologi, kondisi seperti itu disebut dengan psychological contrast effect. Website Effectiviologi.Com menjelaskan bahwa efek kontras psikologi adalah kecenderungan kita yang bias dalam menilai sesuatu karena membandingkannya dengan pengalaman kita sebelumnya. Libur lebaran dengan segudang aktivitas "hahahihi" terasa sangat menyenangkan karena sehari-hari kita sudah disibukkan dengan pekerjaan yang melelahkan seolah tak memberi jeda. Pun sebaliknya, hari-hari pasca lebaran atau saat kembali seperti semula terasa hambar karena kita membandingkannya dengan ragam kegiatan menyenangkan di kala liburan. Padahal, faktanya, semua kegiatan tersebut sejatinya sama saja jika dibuat skor/penilaian. Yang membuat terasa lebih menyenangkan atau tidak adalah pengalaman kita sebelumnya. 

Lantas, bagaimana menyikapinya?

Terima dan akui semua perasaan tersebut. Manusiawi. Jangan denial. Konon, segala macam perubahan positif dalam hidup dimulai saat kita mau mengakui apa yang kita rasakan. Jujurlah pada diri sendiri. Terima rasa "kehilangan" tersebut sebagai bagian dari kehidupan. Kita bukan robot, melainkan manusia dengan segala emosi yang bergejolak di dalamnya.

Mulai dengan hal-hal yang ringan, jangan langsung nge-gas. Mulai dengan membaca kembali secara perlahan tugas dan tanggung jawab yang dimiliki. Biasanya, kalau sudah "bergerak", hal lain yang lebih besar akan mengikuti dengan sendirinya. Sebaliknya, jika semua rencana tersebut hanya tersimpan di kepala saja sedangkan fisik masih sibuk scrolling, maka yang terjadi adalah semakin malas dan merasa terbebani.

Mulai kembali dengan jadwal semula, misalnya bangun pagi jam tertentu, olahraga ringan, dan "ritual-ritual" lain yang sekiranya bisa membangkitkan semangat. 

Jangan perfeksionis, terima saja jika di awal keinginan untuk produktif lagi masih belum sempurna. Jangan berekspektasi di luar kemampuan dan tidak logis, misalnya dalam sehari harus menyelesaikan 100 pekerjaan berbeda. "Bergerak" saja dulu perlahan. Terus ber-aksi, lama-lama akan "sempurna" sendiri. Perbaiki semuanya seraya "berjalan".

Gunakan teknik pomodoro untuk meningkatkan fokus dan produktivitas. Sebagaimana dilansir oleh oleh Alodokter.Com, teknik pomodoro yang dikembangkan oleh Fransisco Cirillo tahun 1980 ini adalah teknik "memecah" waktu kerja dengan pertimbangan agar otak dan mental tidak kelelahan. Alon-alon asal kelakon, seperti itulah kira-kira teknik pomodoro jika dianalogkan dalam peribahasa Jawa. Dengan cara yang cukup sederhana, misalnya 25 menit fokus bekerja tanpa gangguan dan 5 menit istirahat sejenak kemudian ulangi lagi seperti semula, maka pekerjaan justru akan mudah selesai. Progress nyata pun terlihat. Hal tersebut dinilai lebih realistis dibandingkan mengerjakan semuanya dalam satu waktu tanpa jeda istirahat sama sekali. 

Pada akhirnya, memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Hidup selalu dinamis dan bergerak dari fase satu ke fase yang lain. Bersyukurlah jika momen libur lebaran bisa menghangatkan jiwamu dan meningkatkan bonding dengan keluarga. Jadikan itu sebagai "bahan bakar" agar perjuanganmu di hari-hari "normal" terasa menyenangkan. Mari bersemangat lagi memanfaatkan waktu untuk bertumbuh!


Referensi:

https://www.alodokter.com/kenali-post-holiday-blues-perasaan-sedih-yang-muncul-saat-liburan-usai

https://www.alodokter.com/teknik-pomodoro-cara-efektif-tingkatkan-fokus-dan-produktivitas

https://effectiviology.com/contrast-effect/

https://www.healthline.com/health/mental-health/how-to-prep-yourself-for-the-post-holiday-blues#what-are-they









  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)