Menikmati Pergantian Tahun dengan Empat Belas Jam di Kereta
Perjalanan bukan hanya tentang seberapa cepat kamu sampai, tetapi juga mengenai seberapa penuh dan utuh kamu menikmati prosesnya.
Kalimat di atas kembali terngiang saat aku dan Taka menghabiskan empat belas jam di Kereta Gajayana Tambahan jurusan Malang - Jakarta, tepat di momen pergantian tahun. Perjalanan tersebut seolah reminder tentang waktu & masa tunggu juga jeda beserta maknanya.
Kami berangkat Rabu 31 Desember 2025 pukul enam sore lebih. Hujan mulai mereda saat kereta perlahan bergerak meninggalkan Stasiun Kota Malang. Seolah, itu adalah ucapan selamat tinggal untuk 2025. Kami tiba keesokan paginya, Kamis 1 Januari 2026, sekitar pukul delapan. Malam tahun baru kami lewati dengan deru gesekan roda dan rel yang konstan, lampu-lampu kota yang melintas sekelebatan, serta dinginnya AC sentral yang membuat kami bersyukur mengenakan pakaian berlapis.
Di dalam gerbong Priority yang sedang melaju menembus malam, aku serasa diingatkan kembali tentang makna menunggu. Bahwa, masa tunggu bukanlah hal yang sia-sia jika diisi dengan sesuatu yang berguna. Kalau dalam konteks perjalananku berarti menunggu belasan jam mulai dari berangkat hingga kereta sampai di tujuan akhir, Jakarta. Aku jadi teringat satu kalimat lama yang dulu sering aku jadikan status WhatsApp, "Sabr doesn't mean we do nothing, but what we can do while waiting!"
Entah, hati kecilku mengatakan bahwa waktu belasan jam ini semacam jeda yang sengaja diberikan untukku di penghujung tahun untuk merenung dan bermuhasabah tentang semua hal yang sudah kujalani. Di tengah tuntutan dunia yang harus serba cepat, momen empat belas jam di kereta memberiku kesempatan untuk menghela napas.
Carol Dweck, psikolog dari Universitas Stanford Amerika Serikat, dalam konsep Growth Mindset-nya sebagaimana dilansir oleh detik.com menyatakan bahwa orang yang bersedia menjalani proses cenderung lebih tangguh dan mudah beradaptasi terhadap perubahan. Perjalanan panjang Malang - Jakarta ini menjadi representasi sederhana dari konsep tersebut: proses menunggu dari awal hingga akhir serta perubahan suasana dari stasiun ke stasiun.
Empat belas jam di kereta sebenarnya bukanlah pengalaman baru bagiku. Sejak pindah ke Jakarta awal Januari 2025 silam, kami beberapa kali pulang ke Malang dan kembali lagi ke Jakarta menggunakan kereta. Bahkan jika ditarik lebih jauh, sejak SMA hingga kuliah, kereta menjadi moda transportasi pilihan saat liburan tiba. Aku masih ingat rasanya duduk belasan jam di kereta yang saat itu belum senyaman sekarang demi bisa liburan di tempat kakakku yang tinggal di Jakarta Barat.
Pun bagi Taka, naik kereta jarak jauh bukan hal aneh. Walaupun kalau boleh jujur, sebenarnya, Taka lebih menyukai pesawat. Alasannya sudah bisa diterka, (khas generasi Alfa): cepat. Malang - Jakarta hanya satu jam tiga puluh menit.
Kami sempat terlibat diskusi dan negosiasi sebelum akhirnya Taka setuju. Tidak sedang diburu-buru waktu, harga lebih lebih terjangkau, dan terhindar dari turbulensi (yang belakangan ini membuatku sedikit trauma) semua dia anggap make sense.
Namun, sebenarnya ada alasan lain yang lebih personal.
Aku ingin Taka semakin mengasah pengendalian diri atau self control-nya. Sebagai anak Generasi Alfa yang tumbuh di dunia yang serba cepat alias instan kesabaran kerap menjadi keterampilan yang langka. Bagaimana tidak, semua hal hampir bisa didapat hanya dengan mengedipkan mata atau menjentikkan jari saja. Tidak. Tidak boleh. Mereka seharusnya tidak dibiasakan seperti itu. Mereka harus paham arti proses agar kelak sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini harus didapat melalui perjuangan dan tak bisa instan. Bukan sekali minta, semua langsung ada di depan mata tanpa usaha.
Maka, perjalanan kereta empat belas jam ini boleh dibilang bentuk delay of gratification (penundaan kesenangan untuk hasil yang lebih baik di masa depan), meminjam istilah Walter Mischel, psikolog dari Universitas Stanford.
Dalam konteks perkembangan anak, prinsip delay of gratification memiliki manfaat yang tidak bisa disepelekan. Mereka yang terbiasa bersabar akan lebih tahan menghadapi stres (dalam hal ini stres mengatasi rasa bosan). Mereka juga lebih kreatif dalam mengisi kekosongan waktu yang itu artinya belajar tentang problem solving sejak dini. Keterampilan tersebut pastinya akan sangat bermanfaat untuk mereka di masa depan.
Naik kereta, tanpa disadari, menjadi ruang latihan untuk melatih skill tersebut. Tak bisa dipercepat atau diperlambat. Semua harus sesuai jadwal.
Lalu, apa saja yang kami lakukan selama 14 jam di kereta? Jawabannya: BANYAK.
- Mengecek kembali barang bawaan. Walaupun sudah kupastikan semua sudah ter-angkut sebelum berangkat ke stasiun, tapi tidak ada salahnya mengecek kembali untuk benar-benar memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal. Sekadar merapikan kembali barang-barang agar kalau membutuhkan mudah mudah menjangkaunya juga bisa.
- Merapikan foto-foto yang ada di HP. Urusan menyortir foto ini bisa sangat memakan waktu kalau dilakukan di hari normal. Namun saat dilakukan di perjalanan, hal tersebut ternyata bisa "membunuh" waktu.
- Menjawab pesan-pesan di WhatsApp dengan lebih tenang, tidak tergesa-gesa.
- Menikmati makanan, minuman, dan snack yang sudah disediakan.
- Mengisi kembali daya gawai.
- Beribadah.
- Ke kamar mandi sekadar untuk cuci muka, buang air kecil, atau merapikan diri.
- Melihat ke luar jendela yang vibes-nya begitu magis seolah menyeret ke masa lalu.
- Istirahat. Ya kali 14 jam melek.
- Membaca sebisanya. Karena untukku pribadi, hal tersebut tidak bisa dilakukan secara maksimal mengingat setiap kali baca terlalu lama di kendaraan mata selalu sakit.
- Menulis apa saja mulai dari yang berat hingga receh di catatan HP.
- Main Nintendo atau Game walaupun tidak terlalu lama.

0 comments
Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)