Ternyata, Menjadi Ibu Tidak Pernah Benar-Benar Kebal dari Rasa GAGAL
By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - January 02, 2026
Pernah merasa gagal sebagai ibu "hanya" karena anak sakit? Kamu tidak sendiri. Aku pun.
Meski sudah delapan tahun dipanggil bunda oleh anakku, mengecap beragam teori parenting dari sumber terpercaya, dan merasakan sendiri naik turunnya menjadi orang tua, namun perasaan tersebut tak bisa sepenuhnya hilang. Ia kerap datang tanpa diundang, terutama saat anak merasa tidak nyaman karena sakit. Apalagi, makin ke sini, jenis penyakit semakin aneh-aneh saja.
Dari luar, aku mungkin terlihat baik-baik saja: tenang, tidak panik, dan terkendali. Tapi, di dalam, tak bisa kumungkiri jika tetap ada sisi rapuh. Aku memang bukan tipe orang yang bisa bercerita banyak tentang kehidupan pribadi ke orang lain. Kalaupun bercerita, paling banter ke suami, atau grup WhatsApp kecil yang isinya hanya aku, mbakku, dan dua ponakanku. Alasan kenapa aku demikian cukup klise: tidak mau merepotkan. Alasan lain: malas kalau ceritanya jadi melebar ke mana-mana, apalagi sampai adu nasib. Soal bercerita ke dokter anak saat memeriksakan Taka, tentu beda konteks. Itu memang sudah tugas mereka, bukan. :D
Mungkin terlalu dini jika kusimpulkan. Namun, dari yang sudah kualami, boleh kukatakan bahwa ketika tinggal di Jepang satu tahun tiga bulan, Taka hanya sakit sekali. Itu pun besoknya langsung sembuh. Jadi sakitnya karena kelelahan, bukan hal serius. Sebaliknya, saat di tanah air, Taka terbilang cukup sering sakit. Apa mungkin emang harus kembali ke Jepang ya biar dia jarang sakit? Eh, bukan ini ding kesimpulannya, bukan ini pula poinnya. LOL. Jangan baper lhoh, ya. Mungkin saat itu, Allah tahu kalau kami sedang di negara orang dengan segala keterbatasan dan perbedaan. Maka, Taka seolah tersugesti untuk jadi lebih kuat. Berbeda dengan di tanah air, "rumah" sendiri, yang biasanya aman atau bebas untuk rapuh.
Komentar-komentar semacam ini ada kalanya mampir:
"Halah, baru juga anak satu. Gimana aku yang anaknya banyak."
"Kok bisa sakit, sih. Kan anak baru satu. Harusnya gampang."
Aku tidak marah, apalagi tersinggung. Toh, cuma opini. Aku kadang malah menjawab dengan kelakar, "Nah, makanya anakku cuma satu. Allah tahu. Kamu memang MAMA yang HEBAT, kok!" Kan. Puas, kan. Itu yang ingin didengar, kan. LOL.
Alih-alih baper dengan pendapat orang, aku justru lebih sering bergulat dengan diriku sendiri. Walau kata suami, aku sudah memberikan yang terbaik, tapi tetap saja perasaan gagal itu terbersit.
Aku merasa... bersalah!
Perasaan bersalah atau maternal guilt yang dialami seorang ibu ketika anaknya "kenapa-kenapa" sebenarnya normal. Maternal guilt kerap terjadi ketika ekspektasi terhadap sosok ibu begitu tinggi, layaknya superhero yang bisa mengatasi semua hal. Ekspektasi tersebut bisa datang dari luar (tekanan eksternal) atau diri sendiri. Untuk kasusku, pressure ke diri sendiri adalah jawabannya. Sedangkan tekanan dari pihak ketiga, jujur, aku tidak terlalu menanggapinya dengan hati. Sedangkan dulu saja ketika orang-orang sering bertanya kapan aku hamil di usia pernikahanku yang ke-6,7,dst, aku cuek kok. :D
Ternyata, tekanan dari diri sendiri tak kalah toxic-nya. Walaupun aku tahu kalau tak mungkin ada ibu yang sempurna. Tapi tak bisa kumungkiri jika kadang tanpa sadar, aku yang perfeksionis ini mem-branding sosok ibu layaknya Aang Avatar yang bisa mengendalikan semua unsur kehidupan (air, angin, api, dan udara). Padahal, tentu saja tidak. Semua manusia memiliki keterbatasan, se-effort apa pun mereka.
Ada beberapa momen yang hingga sekarang masih menyisakan rasa "GAGAL" itu di hatiku.
Pertama, saat jidat Taka harus dijahit tujuh jahitan karena sobek. Kejadiaan April 2022 saat kami menginap di salah satu hotel favorit di daerah Tondano tersebut tak mungkin bisa kulupakan.
Saat itu, kami bertiga sedang main basket di lapangan. Taka begitu excited hingga tak sadar bahwa bahaya berada di dekatnya. Dia terpeleset saat loncat-loncat di lantai bekas hujan. Seketika, darah mengucur deras dari dahinya. Suamiku panik luar biasa. Aku terlihat tenang padahal hati hancur seperti diremas dan disobek.
Tanpa banyak diskusi, kami langsung membawanya ke puskesmas daerah Tondano. Ya, puskesmas. Karena rumah sakit, jaraknya sangat jauh. Bersyukur, dokter jaga, suster, dan semua pihak puskesmas menangani Taka dengan baik dan sigap. Aku bisa merasakan ketulusan mereka.
Kedua, saat Taka kena Covid-19 di pertengahan 2023. Dia tertular dariku. Aku tertular temanku. Singkatnya, kami bertiga harus menjalani karantina mandiri di rumah. Rasanya perih melihat anakku kena Covid-19. Padahal selama tinggal di Jepang, dia lolos. Beberapa waktu setelah kembali ke tanah air, justru kena.
Ketiga, masih di tahun yang sama, akhir 2023 tepatnya, saat Taka harus diopname karena panas tinggi menginjak angka 40 derajat celcius disertai lemas. Jangan tanyakan perasaanku. Saat pihak rumah sakit cukup ribet dengan urusan administrasi, aku langsung memastikan dengan tegas kalau PASTI BAYAR!
Di titik tersebut aku sadar. Seorang ibu bisa jadi singa untuk membela anaknya. Namun, segala sesuatu memang ada hikmahnya. Dari peristiwa tersebut, aku kenal dengan dokter anak yang menjadi favorit Taka. Ya, karena yang menangani Taka saat diopname adalah beliau. Jujur, kami baru menemukan sosok dokter anak seperti favoritnya Taka di Manado setahun setelah pindah ke Jakarta. Alhamdulillah, akhirnya. :)
Keempat, saat Taka kena demam berdarah menjelang akhir 2024. Untungnya sudah vaksin, jadi tidak terlalu berat. Walaupun, tetap saja deg-degan. Demam berdarah gitu, bukan demam panggung.
Kejadian-kejadian tersebut kembali menyadarkanku bahwa kita sering disibukkan dengan kondisi anak: merawatnya dengan baik di rumah, memberi makanan yang bergizi, menyuruh istirahat, dan membawanya ke dokter. Namun, kita kerap lupa peduli dengan mental sendiri.
Padahal, harusnya jika kita bisa sesayang itu ke anak, kita juga bisa begitu ke diri sendiri. Jangan seperti lilin yang hanya fokus menyinari sekitar hingga ia lupa dengan dirinya sendiri.
Kristin Neff, psikolog dan penulis buku, melalui teori Self Compassion-nya menyatakan tentang pentingnya memperlakukan diri sendiri dengan baik seperti halnya memperlakukan hal tersebut ke orang lain. Menurutnya, ada tiga unsur self compassion yang membantu kita mengatasi perasaan bersalah, yaitu:
Self Kindness, yakni bersikap lembut pada diri sendiri saat gagal atau melakukan kesalahan. Bukan berarti membenarkan. Kita tetap mengakui kalau ada kekhilafan, namun tidak serta merta menghukum dan membenci diri sendiri membabi-buta dan merasa diri ini tidak pantas menerima kebaikan.
Common Humanity, yakni menganggap manusiawi jika manusia pernah salah, termasuk ibu. Tak ada yang sempurna. Yang penting, kita mau belajar dari kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi.
Mindfulness, yakni menyadari dan mengakui sepenuhnya tentang segala macam emosi yang hadir. Alih-alih denial dan sok kuat, kita justru memeluk semua perasaan tersebut. Setelahnya, barulah memikirkan jalan keluar yang sesuai.
Ibu yang memiliki self compassion tinggi tidak akan mudah stres. Ia lebih adaptif dan mampu berpikir jernih saat menghadapi masalah pengasuhan. Mungkin, rasa bersalah memang tak bisa sepenuhnya hilang, tapi setidaknya bisa dikendalikan. Semangat!
(Tulisan ini adalah pengingat untuk diriku sendiri dan mungkin untukmu juga. Tidak ada ibu yang sempurna. Yang ada... Ibu yang ters mau belajar. Mari saling menguatkan dan mendoakan.)
Referensi:
https://greatergood.berkeley.edu/article/item/why_parents_need_a_little_self_compassion
https://selfcompassionacademy.com/kristin-neff-self-compassion/
https://www.family-institute.org/behavioral-health-resources/maternal-guilt-and-moms-sense-self


