Episode Seminggu di Kansai: Cerita (Ngiter Lagi) Sepulang dari USJ

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - September 23, 2021

Hal paling susah saat membuat postingan tentang kunjungan ke Universal Studio Japan ini adalah... milih fotonya. LOL. Rasanya semua pengin dimasukkan, tapi tentu saja tidak mungkin. Butuh konsentrasi tinggi buat memilah dan memilihnya sama halnya hidup. Jadi sok-sok-an berfilosofi, kan. 

Maka dari itu, di postingan ini aku ingin mengambil sudut pandang yang berbeda dulu, yakni cerita sepulang dari USJ. Barulah di postingan berikutnya aku akan bercerita khusus tentang USJ dan yang kami alami di sana, termasuk hal-hal konyol di dalamnya.

Saat itu, kami pulang dari USJ menjelang petang. Tentu saja secara fisik sudah lelah, letih, tak berdaya (meski semangat masih membara). Ingin rasanya langsung berendam biar tubuh fres lagi dan pegal-pegal hilang. Tapi tapii, pak suami harus mampir Don Quijote untuk beli flash disk. Aku lupa alasannya kenapa kok sebegitu urgennya beli barang yang satu itu. Sumpah, mencoba mengingat pun susah. Nanya yang bersangkutan juga sudah enggak ingat. LOL.

Karena alasan tsb, sepulang dari USJ, kami mampir dulu ke Don Quijote Dotonbori sekalian melihat kondisi Dotonbori kalau sore cem mana. Ah, ini mah alasan kamu aja, Mi. Modus. Hahaha. Enggak, sih, cuma sekalian ajaa.

Kali kedua ke Dotonbori, mood anakku udah sangat jelek. Dia ingin segera ke penginapan, begitu katanya. Bersyukur, tantrumnya anakku enggak pakai drama guling-guling atau jejeritan di jalan. Emak bapaknya banget kalau bete, diam seribu bahasa sambil manyun. Eh, emaknya ini, mah. :D
 
Untuk ke Dotonbori, enggak bisa langsung. Dari Universal Studio, kami ke Nishikujo Station dulu. Dekat, hanya melewati satu stasiun saja, Ajikawaguchi, dengan kereta JR Yumesaki Line. Dari sana, kami lanjut ke Stasiun Tenma dengan Osaka Loop Line (kalau boleh kubilang sejenis Yamanote Line, rutenya berputar seperti lingkaran). Di Tenma, kami pindah stasiun, Ogimachi, menuju Nipponbashi untuk kemudian ke Dotonbori dengan kereta Sakaisuji Line.

Hanya bisa foto ini, lagi riweh saat itu.    

Aslinya ramai banget orang kilar-kilir makanya sungkan banget mau foto-foto.

Ketemu vending machine yang menjual minuman murah meriah, di bawah harga umum. Xixixi, niat banget ya motoin. Antara jeli sama kurang kerjaan. LOL.

Tahu-tahu sampai sini, padahal jaraknya lumayan banget.

Street market di Jepang ini sama di mana pun itu: bersih. Sampai bosan menggunakan kata tsb saking biasa alias mainstreamnya di negeri sakura. :D

Puas melihat-lihat, kami kemudian cuz ke tujuan utama, Don Quijote, Dotonbori. Ada yang menarik di sana, mungkin kedengarannya receh sih, tapi kala itu saat melihatnya hatiku jadi berbunga-bunga. Apakah gerangan? Meski bukan kali pertama melihatnya di tempat wisata mainstream, tapi tetap saja merasa terharu.

Benar, di negeri orang, bahasa sendiri jadi begitu berharga. Menemukannya seperti melihat harta karun.

Selama di Jepang, aku memang suka banget fotoin vending machine.

Yang sempat tertangkap lagi.

Yang ketika tinggal di sana begitu mainstream, sekarang asing kembali.

Urusan dari Don Quijote sudah selesai, kami langsung ke pengingapan. Ngukur jalan lagiii, huehehe.

Glico Man, begitu aku mengistilahkannya, memang lebih terlihat jelas saat sore begini alias enggak malam-malam banget.

180 derajat berbeda dengan Tsukuba yang sepi, di sini ramai bangett. Kamu tim mana?


Sempat menemukan ini plus ucapan selamat datangnya, tapi enggak mampir.

Kita lihat, 2025 nanti kami di mana, boleh jadi di sini. Aamiin. :D

Kumus-kumus. Hanya semangat yang tersisa.

Suasana di sekitar penginapan saat kami kembali, sudah petang, huehehe.

Dear, Osaka. Terima kasih sudah memberikan memori baik kepada kami semua. Untuk teman-teman, terima kasih sudah mampir dan membaca. Anggap saja ini adalah salah satu cara emak untuk menjaga kewarasan saat pandemi: dengan menulis di blog hal-hal manis yang pernah dilalui. Huehehehe. Ya kali daripada menebar aura negatif kan secara zaman Corona seperti sekarang hampir semua orang bergelut dengan kesehatan mental. Yuks, saling berbagi semangat positif biar tetap setrooonggg. Aamiin. Tunggu cerita selanjutnya, ya.




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)