Hikmah Mudik bagi Perantau: Semakin Mencintai Kampung Halaman
Puasa identik dengan mudik atau pulang kampung. Biasanya, orang-orang termasuk juga saya dan suami sudah membeli tiket untuk pulang jauhh-jauhh harii. Alasannya klise: takut kehabisan. Alasan yang kedua, khawatir kalau beli mendadak harganya mahal. Xixixi. Emak-emak ekonomis ya gini.
Sebelum menikah, saya enggak pernah ngerasain mudik. Yang ada sih nunggu sembari duduk manis kipas-kipas hore. Setelah menikah dan pergi meninggalkan kampung halaman untuk merantau bersama suami tercinta, saya merasakan yang namanya mudik.
Jika ditulis, kira-kira seperti ini perjalanan mudik saya:
- 2009: Bekasi - Palembang - Bekasi (via darat dan laut)
- 2010: Bekasi - Palembang - Malang (via darat dan laut)
- 2011 & 2012: Bekasi - Malang (via udara)
- 2013: enggak mudik karena sebelum hari raya udah pulang
- 2014, 2015, 2016: Balikpapan - Malang (via udara)
- 2017, 2018, & besok 2019: enggak mudik karena sejak hamil sampai in syaa Allah pergi lagi ikut suami sekolah masih di kampuang halaman
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-4

2 comments
Taka unyu banget, nggak kalah sama sabiru-rafathar hehe
ReplyDeleteWkkk
DeleteUncle fokes ke futunya nih
Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)