Random

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - December 28, 2019

Jika disuruh memilih, semua orang di dunia ini pasti memilih untuk tidak pernah terluka dan melukai. Ya, siapa juga orang normal yang punya cita-cita ketusuk pisau, misalnya. Siapa juga orang waras yang punya cita-cita menusuk tetangganya dengan pisau, tidak. Semua orang tidak ada yang punya keinginan seperti itu. Sebagaimana semua orang terlahir dalam keadaan suci, seperti itulah fitrahnya: tidak menyakiti dan tidak pula tersakiti.

Sayangnya, dalam perjalanan, manusia kerap bergumul dengan luka. Entah dia yang dilukai, kemudian melukai yang lain. Atau, sebaliknya.

Kadang kita sadar bahwa kita tidak mungkin sampai pada titik ini jika tidak melewati hal-hal yang tidak kita inginkan. 

Ikhlaskan saja! Ngomong enak, memang. :D

Jujur, aku tidak akan menyarankan hal-hal seperti itu ke orang lain yang sedang dalam proses penyembuhan. Aku tidak akan menyuruh merelakan atau memaafkan atau ceramah lainnya.

Jujur, aku pun merasa manusia yang paling mengerti aku di dunia ini ya cuma Mas Ryan. Tentu saja ini bukan bucin karena aku dan dia sudah kenal sejak 2002. Kesimpulan seperti itu tentu aku dapat dari berbagai macam peristiwa. Lhoh, bukannya itu bagus, ya. Artinya kan sebagai istri ya memang cuma ke suaminya aja. Iya,  sih. Tapi kadang aku khawatir juga kalau terlalu bergantung secara emosional. Aku takut bagaimana kalau dia tiba-tiba diambil Allah. Aku gimana? Seperti itulah ketakutanku. Dan tentu hal ini tidak sehat. :D Meski dari sisi penampakan, aku tidak pernah menunjukkan bahwa aku butuh/manja, tapi ya dari sisi psikis I need him so much. Dia datang mengisi lubang jiwa yang sangat besar yang kumiliki. Nyatanya, kita bisa saja independen secara fisik dan penampakan, tapi hati... sejatinya kita pasti punya kecenderungan kenapa merasa nyaman dengan orang tertentu. Jujur (dari tadi jujur mulu wkk), saat bertemu dan berteman dekat dengan suami 18 tahun yang lalu, aku baru menyadari ternyata ada ya yang menyayangiku sampai sebegitunya sampai memikirkan detail dari a sampai z. Walau aku sering melawan dan mengajak berdebat, tapi jauh di dasar hati, aku tersanjung. Makanya, masa-masa LDM sejak tahun 2016 ini sangat berat buatku. Sangat. Bukan masalah enggak ada yang manjain atau apa karena aku bukan tipe istri yang manja yang selalu minta disayang-sayang, bukan. Dia pun juga bukan tipe suami yang romantis seperti cowok-cowok di drama Korea. Dan sepertinya geli banget kalau tiba-tiba berubah drastis seperti itu semacam, "Kesambet apa Lo Mas?" LOL. Tapi dia adalah teman diskusi yang sangat sangat sangat super super super nyambung.

"Aku pengin ngajak kamu ke Jepang," suatu ketika pas SMA.
"Ngapain?"
"Pengin aja!"

"Kamu laper?"
"Enggak!" padahal iya
"Kita beli es tes sama tahu sumedang,"
"Ok, nanti kita bagi dua"

"Tuh, kesukaanmu,"
"Apaan?"
"F4"
"Dih, aku kan ngefansnya sama Sah Rukh Khan,"
"Lhoh bukannya kemarin F4"
LOL

"Nanti setelah nikah kita ngontrak dulu,"
"Iyalah, namany juga nikah muda. Kita juga sama-sama kerja, kan,"
"Aku aja yang kerja,"
"Eh...,"




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)