7 Hal yang Bisa Dilakukan untuk Mengatasi Trauma Bullying

By miyosi ariefiansyah (bunda taka) - April 11, 2019


Sudah lama, aku enggak membahas masalah bullying meski kasus bully berseliweran di mana-mana. Bukannya enggak peduli atau enggak berempati, tapi lebih ke masalah enggan membahas karena berpotensi teringat hal-hal enggak menyenangkan di masa lalu. Dan lagi, aku juga berpikir mending fokus mendidik anak jadi sholeh ketimbang koar-koar ke sana ke mari.

Tapi ternyata, kasus yang baru-baru ini menjadi perhatian netizen, kasus bullying yang kesekian kalinya di Indonesia, membuatku gatal untuk menulis hal serupa. Alhasil, pagi kemarin aku posting status di FB seperti ini:




Aku pun menulis di WA's story seperti ini:


Seperti memutar memori lama yang enggan kuingat, peristiwa yang kualami saat masih lugu seolah terpampang nyata satu per satu.

Aku sadar, hampir setiap orang mungkin pernah di-bully. Tapi, jika kalian termasuk yang enggak pernah di-bully, bersyukurlah, dan jangan jadi pembully. Berempatilah. Belum tentu kalian akan sekuat mereka -korban bullying- ketika mengalami hal yang sama. :)

Bullying ini bisa muncul dari mana aja, siapa aja, kapan saja, dan dalam bentuk apa aja. Bahkan kalau boleh berkata sedikit "kejam", bullying mungkin akan teruss dialami selama manusia masih hidup. Hanya saja, bullying yang biasanya sangatt sangatt diingat adalah yang terjadi di masa pertumbuhan, masa lugu, masa polos. Kalau udah emak-emak sepertiku sekarang ini sih enggak ngefek. Mau ada yang bilang apa atau ngompori gimana juga bodo mamat. Kalau pas lagi iseng, adanya malah pengin nantang balik dan ngejar sampai dapat yang kemudian direspon ketakutan oleh si pembully (ibaratnya, doi seperti pipis di celana). Xixixi. :)

Untuk bangkit dari trauma bullying sendiri bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Dan memang, sesekali ingatan itu masih kembali. Namanya juga manusia. Wajar aja, kan. Tergantung menyikapinya saja.

Aku enggak mau menjustifikasi apa pun ke teman-teman yang sedang dalam posisi belum sembuh dari trauma bullying. Namany perasaan enggak bisa dipaksa. Natural aj.

Aku hanya ingin berbagi bagaimana caraku mengatasi trauma akibat pernah dibully. Semoga saja bisa sedikit bermanfaat. :)


1. Membaca

Aku suka mengalihkan kekesalanku dengan membaca. Alhamdulillah, manfaatnya luar biasa. Baca buku biografi tokoh-tokoh yang hidupnya enggak mudah misalnya, seolah diingatkan bahwa yang kualami ini bukan apa-apa. Enggak cuma buku biografi saja, apa pun itu pada dasarnya kubaca, termasuk baca komen-komen jahat dan enggak manusiawi netizen ke tokoh tertentu.

Yang paling luar biasa buatku tentu baca biografinya Rosulullah. Dari situ semacam diingatkan lagi dan lagi, "Ya Allah, cobaannya Nabi Muhammad nih berat bangett, tapi stay cool," Emang deh ya manusia pilihan, panutan banget. Enggak bisalah dibandingkan sama aku yang cuma remahan biskuit di lautan lepas.

Jika baca buku atau baca apa pun bisa bikin hati sedikit terobati, apalagi baca kitab suci. Jadi ingat tembang tombo ati atau obat hati, salah satuny baca alquran dan maknanya. Nyess.


2. Menulis

Hampir semua penulis sepakat kalau kegiatan menulis bisa digunakan sebagai terapi jiwa. Dan, pembaca sebenarnya bisa merasakan itu: apakah si penulis menggunakan emosi atau enggak saat membuat karya. Seperti, statusku pagi ini:


Jujur, aku sendiri merasa lebih produktif menulis ketika emosi. Dalam kurun waktu 10 tahun terjun di dunia menulis, karya yang kuhasilkan:

Itu semua tercipta dalam waktu supersingkat saat aku teringat sesuatu yang bikin sakit. Aku melampiaskannya dengan bekerja, bekerja, dan bekerja. Bisa dibilang, itu juga masa-masa produktifku.


3. Mendengar

Yes, mendengar cerita sekitar bisa membuatku makin melek bahwa dunia enggak selebar daun kelor. Enggak cuma aku di dunia ini yang pernah kesal atau nyesek. Lebih-lebih, dengerin curhatan orang. Seolah, aku sedang belajar hikmah kehidupan dari kisah mereka.


4. Nonton

Aku suka nonton film. Biasanya, dalam setiap cerita, aku mencari hikmah/pelajaran yang tersirat.


5. Nyampah

Kesalahan fatalku dulu ketika dibully adalah enggak bilang orang tua. Alasannya takut menambah beban mereka, terutama ibuku. Aku tipe anak yang sungkanan dan enggak pernah menuntut macam-macam ke orang tua. Aku anak yang perasa. Sehingga, aku lebih memilih memendamnya sendiri dan berpura-pura enggak terjadi apa-apa. Ibuku aja baru tahu kalau dulu pas SD aku pernah dijuluki sesuatu dan pernah didoain supaya jadi perawan tua. Ya, ibuku baru tahu beberapa waktu yang lalu setelah aku cerita ke beliau sambil becanda.

Setelah ketemu suami pas SMA, aku baru bisa sedikit terbuka. Itu pun setelah melalui proses yang panjang. Ternyata anaknya introvert. Mungkin efek keseringan dibully kali, ya.


6. Melakukan perjalanan

Di setiap perjalanan, biasanya aku mengamati orang-orang. Beda lagi dengan suamiku yang lebih fokus ke pemandangan. Entah kenapa, saat aku melihat mereka kok serasa melihat kehidupan lain yang sulit kujelaskan. Seolah, aku diberi tayangan gratis dari perspektif yang berbeda.


7. Bergaul dengan orang-orang yang positif

Kalau dalam tembang tombo ati ada yang namanya "berkumpullah dengan orang-orang sholeh". Ya ngapain juga kan berada di lingkungan beracun. Bunuh diri sih namanya. :)

Dulu pas SD misalnya, ada segerombolan cewek yang kalau aku datang ke tempat tarawih mereka bisik-bisik terus tertawa dan melakukan verbal bullying lainnya. Saat itu, aku sih ngerasa "kok gini, ya, salahku apa," Ternyata... salahku itu karena cantik. Ehh.... (langsung dilemparin botol, wkkk). Becanda ya, Kakakk.

Alhamdulillah aku dipertemukan Allah sama orang-orang baik sih selama ini. Penduduk dunia ada banyak, pintar-pintarlah cari temen yang membuatmu bahagia dan yang ada interaksi positifnya.


Kalian punya tips lain?


Dari ketujuh hal di atas, poin pentingnya buatku adalah "jangan down atau nangis ketika di-bully, jangan meng-iya-kan label dari mereka, jangan menyetujui mereka yang membuat kita seolah enggak berharga". Sesungguhnya, orang yang membully kita itu enggak tahu apa-apa kok. Mereka cuma sok tahu aja.

Misall, duluu, ada yang membullyku katanya anak manja. Faktanya, sejak SD aku udah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Ada juga teman yang dengan gamblang nanya (atau nuduh), "Kamu tuh mau sama Mas Ryan cuma karena dia asisten dosen, kan," Entah kenapa harga diriku sebagai wanita begitu terluka. Padahal, aku kenal dia (ayahnya bocah) sejak SMA, belum tahu ke depan dia mau jadi apa.

Meski pernah mengalami bullying di masa lugu, aku enggak berniat balas dendam karena enggak ada gunanya. Dalam hati, ada sih keinginan untuk duduk bersama menyelesaikan masalah yang menurutku belum tuntas. Seenggaknya, sekadar meluruskan kesalahpahaman biar enggak jadi gerundelan atau sakit kambuhan.


Satu hal yang pasti, bullying yang kualami di masa cupu membuatku belajar banyak hal. Yang semua itu sangat berguna ketika aku menjadi ibu.

Semoga anak-anak kita tumbuh jadi pribadi yang tangguh dan baik hati.

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Wow sungguh sangat produktif bunda😍😊
    Masa mudanya keren

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah aku blom prnah mengalami, jangan sampe deh. Mungkin krn aku keliatan dr luar tipe wajah sangar dan jutek, yg mau maen2 jg jd mundur duluan. Kadng orang bisa merendahkan kita krn kita terlihat dr luar lemah.

    ReplyDelete
  3. Aku juga pernah sih mengalami kasus bullying kayak gini, pas waktu aku ulang tahun dikerjain habis-habisan sama teman-temanku. Mungkin mereka menganggap itu cuman lelucon tapi sebenarnya bagiku itu sangat melukai harga diri. Orang lg ulang tahun nggak malah didoain tp malah dikerjain gak jelas.
    Btw, mampir di blog ku jg ya Mb, yg postingan Bintal. Makasih...

    ReplyDelete

Makasih udah ninggalin jejak yang baik ya, Teman-teman! :)